Teroris Ubah Pola Gerakan Galang Dana Akibat Pandemi COVID-19, Kotak Amal Jadi Bukti
Selasa, 17 Agustus 2021 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
Dalam melancarkan aksi terornya , para anggota JAD menurut Yusli lebih sporadis dan serangan yang dilancarkan bersifat kecil. "Anggotanya tidak terlatih, modalnya lebih pada simpati, sehingga serangannya juga sifatnya kecil dan sporadis. Seperti menyerang polisi pakai pisau," tuturnya.
Sementara, pola gerakan berbeda dimiliki Jamaah Islamiyah (JI). Yusli menyebut, kelompok ini lebih tertutup dan terorganisir dalam menjalankan aksi terornya . Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam jaringan tersebut, mereka rata-rata orang terpilih dan terseleksi.
"Gerakan JI lebih klandestin atau rahasia . Mereka harus melalui proses seleksi ketat, dan antar sel belum tentu saling mengenal. Biasanya mereka merencanakan peristiwa besar, dengan bom yang memiliki daya ledak tinggi," pungkasnya.
Baca juga: 76 Tahun Indonesia Merdeka, 3 Perempuan di Rembang Hidup Memprihatinkan di Tengah Hutan
Namun, setelah menelusuri jejak lembaga zakat yang dijalankan CA, diakui Yusli lembaga tersebut berafiliasi dengan kelompok JI. Ada dugaan perubahan pola gerakan yang dilakukan JI dalam menggalang dana dengan meniru pola JAD, namun melalui kotak amal yang tidak terlembaga, sehingga dengan mudah menghilangkan jejak.
Yusli menyebutkan, pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap gerakan dan penggalangan dana yang dilakukan kelompok teroris . "Pandemi COVID-19 membuat ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas, dan dana yang terkumpul juga sangat terbatas. Mungkin juga akibat jamaahnya mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi ini membuat mereka memakai cara-cara lain untuk menggali dana, termasuk melalui penggalangan kotak amal," terangnya.
Sementara, pola gerakan berbeda dimiliki Jamaah Islamiyah (JI). Yusli menyebut, kelompok ini lebih tertutup dan terorganisir dalam menjalankan aksi terornya . Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam jaringan tersebut, mereka rata-rata orang terpilih dan terseleksi.
"Gerakan JI lebih klandestin atau rahasia . Mereka harus melalui proses seleksi ketat, dan antar sel belum tentu saling mengenal. Biasanya mereka merencanakan peristiwa besar, dengan bom yang memiliki daya ledak tinggi," pungkasnya.
Baca juga: 76 Tahun Indonesia Merdeka, 3 Perempuan di Rembang Hidup Memprihatinkan di Tengah Hutan
Namun, setelah menelusuri jejak lembaga zakat yang dijalankan CA, diakui Yusli lembaga tersebut berafiliasi dengan kelompok JI. Ada dugaan perubahan pola gerakan yang dilakukan JI dalam menggalang dana dengan meniru pola JAD, namun melalui kotak amal yang tidak terlembaga, sehingga dengan mudah menghilangkan jejak.
Yusli menyebutkan, pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap gerakan dan penggalangan dana yang dilakukan kelompok teroris . "Pandemi COVID-19 membuat ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas, dan dana yang terkumpul juga sangat terbatas. Mungkin juga akibat jamaahnya mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi ini membuat mereka memakai cara-cara lain untuk menggali dana, termasuk melalui penggalangan kotak amal," terangnya.
(eyt)
Lihat Juga :