Sindir PPKM Level 4, Masyarakat Tulungagung Gelar Razia Perut Lapar
Kamis, 05 Agustus 2021 - 21:18 WIB
loading...
A
A
A
Tapi juga kepada para pemilik kedai kopi , warung kopi dan kafe. Pendik sendiri berlatar sebagai pemilik kedai kopi kecil di Kepatihan, Kota Tulungagung. "Dalam waktu dua minggu terkumpul uang kurang lebih Rp9 juta dan beras sebanyak empat kuintal," kata Pendik. "Razia" langsung dilakukan.
Baca juga: Nyaris Tabrak Polisi Pakai Mobil Mewah, Anggota DPRD Diperiksa di Polda Maluku Utara
Warung-warung penjual makanan dan minuman didatangi. Di setiap warung, mereka maksimal berbelanja 20 bungkus nasi yang kemudian bersama-sama dengan motor, mobil pikap dibagi-bagikan kepada warga. Komunitas gerakan mengalokasikan anggaran Rp750 ribu-800 ribu untuk sekali aksi, yang dilakukan seminggu dua kali.
Komunitas juga mendirikan dapur umum untuk memasak bahan-bahan makanan mentah yang berasal dari donasi. Menurut Pendik, sebagian besar warga merasa berterima kasih saat mendapat uluran nasi bungkus atau paket beras. Kendati demikian ada juga yang menolak karena khawatir terpapar COVID-19.
"Dalam setiap aksi kami tetap mengedepankan prokes," kata Pendik. Komunitas gerakan Razia Perut Lapar tidak hanya berhenti di wilayah Tulungagung. Selama berlangsungnya pandemi COVID-19 ini, mereka berjejaring dengan komunitas lain di luar kota. Sebut saja seluruh wilayah eks Karsidenan Kediri (Blitar, Kediri, Trenggalek dan Nganjuk), termasuk Madiun, Mojokerto dan Surabaya.
Baca juga: Data Penerima Bansos Amburadul, Kuwu di Majalengka Dibuat Pusing
Setiap menggelar aksi di wilayah masing-masing, mereka saling suport dana. Pendik berharap, di tengah pandemi COVID-19, gerakan semacam ini akan terus tumbuh. Ia membayangkan jika insitusi negara yang melakukan. Misalnya aparat kepolisian, atau PNS guru dan ASN pemerintah daerah.
Tidak perlu banyak-banyak. Cukup menyisihkan uang Rp10 ribu-20 ribu secara rutin per bulan. "Tentu akan banyak rakyat di daerah masing-masing yang tertolong. Apalagi di masa pandemi ini mereka termasuk golongan yang aman secara ekonomi," pungkas Pendik.
Baca juga: Nyaris Tabrak Polisi Pakai Mobil Mewah, Anggota DPRD Diperiksa di Polda Maluku Utara
Warung-warung penjual makanan dan minuman didatangi. Di setiap warung, mereka maksimal berbelanja 20 bungkus nasi yang kemudian bersama-sama dengan motor, mobil pikap dibagi-bagikan kepada warga. Komunitas gerakan mengalokasikan anggaran Rp750 ribu-800 ribu untuk sekali aksi, yang dilakukan seminggu dua kali.
Komunitas juga mendirikan dapur umum untuk memasak bahan-bahan makanan mentah yang berasal dari donasi. Menurut Pendik, sebagian besar warga merasa berterima kasih saat mendapat uluran nasi bungkus atau paket beras. Kendati demikian ada juga yang menolak karena khawatir terpapar COVID-19.
"Dalam setiap aksi kami tetap mengedepankan prokes," kata Pendik. Komunitas gerakan Razia Perut Lapar tidak hanya berhenti di wilayah Tulungagung. Selama berlangsungnya pandemi COVID-19 ini, mereka berjejaring dengan komunitas lain di luar kota. Sebut saja seluruh wilayah eks Karsidenan Kediri (Blitar, Kediri, Trenggalek dan Nganjuk), termasuk Madiun, Mojokerto dan Surabaya.
Baca juga: Data Penerima Bansos Amburadul, Kuwu di Majalengka Dibuat Pusing
Setiap menggelar aksi di wilayah masing-masing, mereka saling suport dana. Pendik berharap, di tengah pandemi COVID-19, gerakan semacam ini akan terus tumbuh. Ia membayangkan jika insitusi negara yang melakukan. Misalnya aparat kepolisian, atau PNS guru dan ASN pemerintah daerah.
Tidak perlu banyak-banyak. Cukup menyisihkan uang Rp10 ribu-20 ribu secara rutin per bulan. "Tentu akan banyak rakyat di daerah masing-masing yang tertolong. Apalagi di masa pandemi ini mereka termasuk golongan yang aman secara ekonomi," pungkas Pendik.
(eyt)
Lihat Juga :