Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Pagi

Rampogan Macan-Sima Maesa, Cara Orang Jawa Membunuh Kolonial Belanda

loading...
Rampogan Macan-Sima Maesa, Cara Orang Jawa Membunuh Kolonial Belanda
Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran. (Ist)
HARIMAU kumbang yang dikepung barisan gandek, yakni laki-laki pilihan dengan tombak di tangan, berhasil lolos. Kepungan tombak yang terhunus horizontal, berhasil diterobosnya. Siang itu tahun 1894, lebaran tinggal beberapa hari lagi. Alun-alun Blitar gempar. Sorak sorai kegembiraan dalam tradisi Rampogan Macan berganti jerit ketakutan.

Sejarawan R Kartawibawa mengibaratkan kekacauan yang terjadi seperti butiran padi yang sedang ditampi. Kocar kacir. Terpelanting ke sana sini. "Polahing tijang saaloen-aloen kados gabah dipoen interi (Tingkah laku orang se alun-alun seperti gabah atau padi yang ditampi)," tulis R Kartawibawa dalam buku "Bakda Mawi Rampog" terbitan Bale Poestaka 1928.

Macan kumbang yang berhasil mencari jalan keluar dari hunusan tombak, lari ke arah penonton. Nafasnya terengah- engah. Mulutnya dinarasikan Kartawibawa setengah terbuka. Akibat tusukan tombak, tubuh macan sarat luka, berdarah darah.

Anak-anak, remaja, sampai orang tua, sontak lari pontang panting. Banyak istri terpisah dari suami. Banyak anak-anak menangis ditinggal lari orang tuanya. Seorang teman tidak ingat lagi di mana kawannya. Sambil menggendong anak balitanya, ibu-ibu berusaha angkat kaki sejauh-jauhnya.

Begitupun para lelaki. Tidak sedikit yang berebut memanjat pohon beringin yang banyak tumbuh di sekitaran alun-alun. Sementara yang sudah di atas pohon, berusaha naik lebih tinggi. Saking gugupnya, ada yang celaka. Terpeleset jatuh sekaligus terinjak injak massa. Para pedagang makanan dan minuman hanya bisa melongo. Menyaksikan dagangannya porak poranda terlanggar kaki orang-orang yang lintang pukang.

Namun, dalam situasi mencekam tersebut masih ada juga orang yang mengambil kesempatan. Kartawibawa menuliskan : Melihat orang-orang panik, seorang laki-laki malah mengambil kesempatan dengan mendekap perempuan dari arah belakang. Sialnya, aksi mesumnya kepergok petugas kepolisian dan langsung menghajarnya.



"Wonten tijang djaler ingkang anggagapi badanipoen tijang estri, konangan ing oepas poelisi, dipoen sambleg pedang (Ada laki laki yang mendekap tubuh perempuan, ketahuan upas polisi, langsung disabet pedang," kata R Kartawibawa dalam "Bakda Mawi Rampog".

Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran. Macan dilepas ke tengah barisan laki-laki pilihan atau gandek. Ada tiga sampai empat lapis barisan melingkar dengan tombak terhunus. Posisi mereka mengepung.

Sementara di atas tratag, yakni panggung terbuka yang ditopang tiang-tiang besi, para petinggi penting menyaksikan jalannya acara. Bupati, tamu-tamu undangan Belanda beserta istri-istrinya. Di panggung lain yang lebih sederhana, berdiri para priyayi dan orang-orang berkantong tebal. Panggung ini milik pengusaha Tionghoa. Mereka yang bisa naik panggung terlebih dulu membayar ongkos sewa.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top