Rampogan Macan-Sima Maesa, Cara Orang Jawa Membunuh Kolonial Belanda

Minggu, 27 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
Rampogan Macan-Sima...
Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran. (Ist)
A A A
HARIMAU kumbang yang dikepung barisan gandek, yakni laki-laki pilihan dengan tombak di tangan, berhasil lolos. Kepungan tombak yang terhunus horizontal, berhasil diterobosnya. Siang itu tahun 1894, lebaran tinggal beberapa hari lagi. Alun-alun Blitar gempar. Sorak sorai kegembiraan dalam tradisi Rampogan Macan berganti jerit ketakutan.

Sejarawan R Kartawibawa mengibaratkan kekacauan yang terjadi seperti butiran padi yang sedang ditampi. Kocar kacir. Terpelanting ke sana sini. "Polahing tijang saaloen-aloen kados gabah dipoen interi (Tingkah laku orang se alun-alun seperti gabah atau padi yang ditampi)," tulis R Kartawibawa dalam buku "Bakda Mawi Rampog" terbitan Bale Poestaka 1928.

Macan kumbang yang berhasil mencari jalan keluar dari hunusan tombak, lari ke arah penonton. Nafasnya terengah- engah. Mulutnya dinarasikan Kartawibawa setengah terbuka. Akibat tusukan tombak, tubuh macan sarat luka, berdarah darah.

Anak-anak, remaja, sampai orang tua, sontak lari pontang panting. Banyak istri terpisah dari suami. Banyak anak-anak menangis ditinggal lari orang tuanya. Seorang teman tidak ingat lagi di mana kawannya. Sambil menggendong anak balitanya, ibu-ibu berusaha angkat kaki sejauh-jauhnya.

Begitupun para lelaki. Tidak sedikit yang berebut memanjat pohon beringin yang banyak tumbuh di sekitaran alun-alun. Sementara yang sudah di atas pohon, berusaha naik lebih tinggi. Saking gugupnya, ada yang celaka. Terpeleset jatuh sekaligus terinjak injak massa. Para pedagang makanan dan minuman hanya bisa melongo. Menyaksikan dagangannya porak poranda terlanggar kaki orang-orang yang lintang pukang.

Namun, dalam situasi mencekam tersebut masih ada juga orang yang mengambil kesempatan. Kartawibawa menuliskan : Melihat orang-orang panik, seorang laki-laki malah mengambil kesempatan dengan mendekap perempuan dari arah belakang. Sialnya, aksi mesumnya kepergok petugas kepolisian dan langsung menghajarnya.

"Wonten tijang djaler ingkang anggagapi badanipoen tijang estri, konangan ing oepas poelisi, dipoen sambleg pedang (Ada laki laki yang mendekap tubuh perempuan, ketahuan upas polisi, langsung disabet pedang," kata R Kartawibawa dalam "Bakda Mawi Rampog".

Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran. Macan dilepas ke tengah barisan laki-laki pilihan atau gandek. Ada tiga sampai empat lapis barisan melingkar dengan tombak terhunus. Posisi mereka mengepung.

Sementara di atas tratag, yakni panggung terbuka yang ditopang tiang-tiang besi, para petinggi penting menyaksikan jalannya acara. Bupati, tamu-tamu undangan Belanda beserta istri-istrinya. Di panggung lain yang lebih sederhana, berdiri para priyayi dan orang-orang berkantong tebal. Panggung ini milik pengusaha Tionghoa. Mereka yang bisa naik panggung terlebih dulu membayar ongkos sewa.

Sementara rakyat jelata, kaum kromo berdiri menonton di atas rumput alun-alun dengan jarak 36 kaki dari arena dengan pembatas seutas tali. Diiringi tabuhan gamelan serta tiupan terompet yang memekakkan telinga. Macan dikeluarkan dari sekapan kotak kayu jati. Harimau yang menolak keluar, dipaksa dengan sundutan api serta siraman air mendidih.

Di tengah alun-alun. Macan yang usai bertarung melawan kerbau dalam tradisi Sima Maesa (Harimau Kerbau) tersebut, dihabisi. "Rampog Macan umumnya dilakukan setelah pertarungan Sima Maesa," tulis Dihan Amiluhur dalam buku "Kolonialisme Dalam Gladiator Jawa, Sima Maesa Rampog Macan di Jawa Abad Ke-19".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Rekomendasi
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
Berkas Sudah P21, Pakar:...
Berkas Sudah P21, Pakar: Tinggal Tunggu Penyidik Serahkan Roy Suryo dkk ke JPU
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Berita Terkini
KORPRI Lebak Tantang...
KORPRI Lebak Tantang 1.700 Pelari di Ajang RUNK5BITUNG 2026
Momen Siswa SRMP 17...
Momen Siswa SRMP 17 Tabanan Curhat ke Prabowo
Tembus 16,46 Juta Pengguna,...
Tembus 16,46 Juta Pengguna, LinkUMKM BRI Sukses Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
Prabowo Tinjau SRMP...
Prabowo Tinjau SRMP 17 Tabanan, Disambut Yel-yel hingga Tari Kecak dari Siswa
Infografis
5 Cara Cepat Menemukan...
5 Cara Cepat Menemukan Lokasi Terdekat dengan Google Maps
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved