Air Sungai di Blitar Beraroma Busuk, Diduga Ada Pembuangan Limbah Ternak Sapi Besar-besaran
Selasa, 11 Mei 2021 - 20:48 WIB
loading...
A
A
A
Era pemerintahan Bupati Blitar, Rijanto, PT Greenfields meluncurkan Farm 2 di wilayah Kecamatan Wlingi, pada Maret 2018. Farm 2 merupakan perluasan dari Farm 1 yang berlokasi di Kabupaten Malang. Di Wlingi, Farm 2 berdiri di atas lahan seluas 172 hektar. Lahan yang ada memiliki daya tampung hingga 10 ribu ekor sapi.
PT Greenfields mengklaim telah melakukan investasi Rp612 miliar. Bisnis susu skala ekspor tersebut, juga mengeklaim bermitra dengan 250 peternak, dan 3.000 tenaga kerja tidak langsung.
Peternakan sapi perah ini merupakan anak usaha JAPFA group, yang bergerak di bidang produksi susu. Produk PT Greenfields diekspor ke Singapura, Hongkong, Malaysia dan Brunei Darussalam. Pada tahun 2020 persoalan pencemaran limbah pernah diadukan warga ke DPRD.
Baca juga: Ratusan Pemudik Lolos Masuk Semarang, 7 di Antaranya Harus Isolasi Akibat COVID-19
Tiap tengah malam atau saat hujan deras, diduga PT Greenfields menggelontorkan limbah ke sungai. Oleh DPRD dimediasi. Di depan warga dan legislatif, PT Greenfields berjanji akan membenahi pengolahan limbah. "Namun sampai sekarang pengolahan limbah juga belum dibenahi. Dan kembali dibuang ke sungai," terang Siswanto.
Sementara bersama dengan pencemaran limbah di sungai, mesin mikrohidro juga rusak. Mikrohidro merupakan mesin penghasil listrik yang berkonsep PLTA mini. Mesin seharga Rp800 juta itu dipasang sejak tahun 2005. Sumber dana pengadaan mikrohidro berasal dari swadaya masyarakat yang dibantu PLN.
Mikrohidro ditempatkan di kotak penampungan air yang berlokasi di sekitar aliran Sungai Genjong. Menurut Tukinan, BPD Desa Sumberurip, dengan adanya mikrohidro 70 kepala keluarga di Dusun Telogosari, dan Dusun Genjong, dapat menikmati aliran listrik. "Namun karena baling-balingnya tersumbat limbah lumpur kotoran sapi, akhirnya rusak," ujar Tukinan.
PT Greenfields mengklaim telah melakukan investasi Rp612 miliar. Bisnis susu skala ekspor tersebut, juga mengeklaim bermitra dengan 250 peternak, dan 3.000 tenaga kerja tidak langsung.
Peternakan sapi perah ini merupakan anak usaha JAPFA group, yang bergerak di bidang produksi susu. Produk PT Greenfields diekspor ke Singapura, Hongkong, Malaysia dan Brunei Darussalam. Pada tahun 2020 persoalan pencemaran limbah pernah diadukan warga ke DPRD.
Baca juga: Ratusan Pemudik Lolos Masuk Semarang, 7 di Antaranya Harus Isolasi Akibat COVID-19
Tiap tengah malam atau saat hujan deras, diduga PT Greenfields menggelontorkan limbah ke sungai. Oleh DPRD dimediasi. Di depan warga dan legislatif, PT Greenfields berjanji akan membenahi pengolahan limbah. "Namun sampai sekarang pengolahan limbah juga belum dibenahi. Dan kembali dibuang ke sungai," terang Siswanto.
Sementara bersama dengan pencemaran limbah di sungai, mesin mikrohidro juga rusak. Mikrohidro merupakan mesin penghasil listrik yang berkonsep PLTA mini. Mesin seharga Rp800 juta itu dipasang sejak tahun 2005. Sumber dana pengadaan mikrohidro berasal dari swadaya masyarakat yang dibantu PLN.
Mikrohidro ditempatkan di kotak penampungan air yang berlokasi di sekitar aliran Sungai Genjong. Menurut Tukinan, BPD Desa Sumberurip, dengan adanya mikrohidro 70 kepala keluarga di Dusun Telogosari, dan Dusun Genjong, dapat menikmati aliran listrik. "Namun karena baling-balingnya tersumbat limbah lumpur kotoran sapi, akhirnya rusak," ujar Tukinan.
Lihat Juga :