Cerita Pagi

Kisah Syodanco Soeprijadi, Sebelum Lenyap Sempat Sembunyi di Rumah Mbah Syiroj Blitar

loading...
Semuanya berseragam tentara, lengkap dengan senjata. "Oleh Mbah Syiroj semuanya diminta bergegas masuk ke dalam rumah," kata Nuh menirukan apa yang pernah diceritakan neneknya. Begitu tahu mereka baru saja memberontak, atas saran Mbah Syiroj, semua diminta melepas seragam tentara PETAnya. Termasuk Soeprijadi.

Saat itu juga para pemberontak Jepang tersebut bersalin baju biasa yang diperoleh dari warga sekitar. "Katanya, seragam tentara PETA itu kemudian dikubur di bawah salah satu ruangan rumah ini," terang Nuh. Di ruangan "Gajah Ngising" itu, Soeprijadi dan Mbah Syiroj sempat berbicara empat mata. Keduanya sama sama duduk bersila, berhadap hadapan.

Jauh sebelum memberontak, konon Soeprijadi banyak belajar soal ilmu kanuragan dari Mbah Syiroj. Dan di ruangan "Gajah Ngising" itu tidak ada yang tahu apa yang dipercakapkan mereka berdua. "Nenek juga tidak tahu apa yang dibicarakan," kata Nuh. Sejurus kemudian Soeprijadi merebahkan badan. Ia mengaso, dan sebelum terjaga sempat pulas barang 1-2 jam.

Sementara di dapur, Siti Fatimah yang dibantu warga sekitar sedang memasak makanan. Di salah kursi kayu di dapur, Soeprijadi yang sudah terjaga, kata Nuh sempat duduk. Posisinya menyandar dengan kedua tangan mendaplang. Tidak jauh dari kakinya, bedil pasukannya didirikan dengan posisi berjajar.

"Pada momen itu (duduk di kursi dapur) orang orang yang seusia saat itu banyak yang tahu dan menceritakannya," tutur Nuh. Pagi hari itu. Setelah makan, Soeprijadi bersama pasukannya berpamitan melanjutkan pelarian. Ia khawatir tentara Jepang mengendus keberadaanya, karena itu tidak bisa berlama lama.

Dari cerita yang didengar, seingat Nuh, para pemberontak PETA itu lari ke jalan menuju wilayah Gandusari, arah Gunung Kelud. Entah di tengah perjalanan mereka berbelok arah ke Gunung Wilis, wilayah Kediri, Nuh tidak tahu pasti. "Karena setelah itu tidak lagi diketahui jejaknya. Yang didengar tentara Jepang terus memburu para pemberontak," papar Nuh menjelaskan.

Nuh lupa kapan waktunya secara pasti. Setelah itu musibah pun datang. Berawal dari penangkapan salah seorang pengikut Syodanco Soeprijadi di Kediri. Jepang awalnya sulit menghabisi, karena anak buah Soeprijadi memiliki kain rajah bahasa Arab yang diikatkan pada perut. Ketika dikorek, ia mengaku mendapat jimat itu dari seorang kiai di Blitar.

"Mbah Syiroj kemudian ditangkap Jepang," tutur Nuh. Sebelum dijebloskan ke dalam penjara Blitar selama tujuh bulan, Mbah Siraj mengalami serangkaian penyiksaan. Ia dipaksa membuka mulut ke mana Syodanco Soeprijadi bersembunyi. Irvan Fauzi, cucu Mbah Syiroj yang lain menuturkan, karena marah, Jepang mengikat tangan dan kaki kakeknya di kendaraan, dan lalu ditarik.

"Kemudian juga dicekoki minum air sabun," tutur Irvan yang masih merasa ngeri membayangkan kekejaman Jepang. Mbah Syiroj tetap hidup dan tetap mengaku tidak tahu dengan keberadaan Soeprijadi. Mbah Syiroj sempat dilepas sebentar, namun Jepang kembali menangkapnya. Mbah Syiroj dijebloskan di penjara Kalisosok, Surabaya.

Di bulan ramadhan. Sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan dwi tunggal Soekarno-Hatta, Mbah Syiroj wafat. Jenazahnya dimakamkan di TPU Jarak, Surabaya. Pada tahun 2004, melalui prosesi militer kenegaraan, jenazah Mbah Syiroj dipindah ke Desa Krenceng.

Makam Mbah Syiroj berada di belakang masjid Baitul Yaqin. Pada batu nisannya bertuliskan Pahlawan Perintis Kemerdekaan serta terpasang plakat logam bendera merah putih. "Dengan status suaminya pahlawan perintis kemerdekaan, mbah putri (Siti Fatimah) sebelum meninggal menerima pensiunan dari negara," pungkas Irvan.
(shf)
halaman ke-2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top