Cerita Pagi

Kisah Syodanco Soeprijadi, Sebelum Lenyap Sempat Sembunyi di Rumah Mbah Syiroj Blitar

loading...
Kisah Syodanco Soeprijadi, Sebelum Lenyap Sempat Sembunyi di Rumah Mbah Syiroj Blitar
Makam Kiai Abdullah Syiroj pahlawan perintis kemerdekaan di belakang masjid Baitul Yaqin, Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
Di ruangan yang sejak kecil ia ketahui tidak pernah berubah bentuk itu, telinga Moh Nuh (53) kerap mendengar penuturan neneknya tentang Syodanco Soeprijadi . Di pojokan itu, katanya sembari menudingkan telunjuk pada ruang yang sisi atasnya bisa langsung memandang genting, Soeprijadi pernah mengaso.

Baca juga: Kisah Ritual Tapa Telanjang, Pertapaan Sonder dan Ratu Kalinyamat

"Saya mendengar cerita itu berulangkali," tutur Moh Nuh ditemui Sindonews.com di rumahnya Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar . Moh Nuh berusaha mengingat ulang cerita Siti Fatimah, neneknya, istri Kiai Abdullah Syiroj. Ruangan yang dimaksud adalah bagian dari rumah almarhum Kiai Abdullah Syiroj atau Mbah Syiroj.

Baca juga: Kisah Lamajang Tigang Juru, Kerajaan di Selatan Mahameru yang Menggetarkan Majapahit

Rumah berusia tua itu menghadap kiblat. Posisinya beradu pandang dengan Masjid Baitul Yaqin. Masjid yang berdiri tahun 1861. Kiai Hasan Mustaqiem yang awalnya mendirikannya dan lalu diteruskan Kiai Abdul Yaqin, menantunya. Kiai Hasan atau Mbah Kasan adalah bekas Laskar Pangeran Diponegoro yang tercerai berai.



Kisah Syodanco Soeprijadi, Sebelum Lenyap Sempat Sembunyi di Rumah Mbah Syiroj Blitar

Ruangan yang pernah dipakai Syodanco Soeprijadi beristirahat setelah melakukan pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pada 14 Agustus 1945 terhadap Jepang. Foto/SINDOnews/Solichan Arif

Diponegoro ditangkap Belanda dan dibuang ke Makassar. Begitu juga dengan Kiai Mojo yang diasingkan bersama 62 pengikutnya. Tidak terkecuali Sentot Ali Basyah Prawiradirja. Setelah Diponegoro kalah di Perang Jawa (1825-1830), Mbah Kasan yang lari ke Jawa Timur memutuskan bermukim di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Begitu juga dengan Mbah Abdul Yaqin, menantunya yang berasal dari Bagelenan, Jawa Tengah. Mbah Syiroj merupakan salah satu putra Mbah Abdul Yaqin. Begitu menikah dengan Siti Fatimah dan dikaruniai lima anak, oleh orang tuanya langsung ditancapkan di depan masjid Baitul Yaqin.

Terlihat pohon sawo kecik tua yang rindang. Dahan dan daunnya yang lebat meneduhi halaman rumah. Terlihat rumah lain di samping kiri kanan masjid, yang juga masih kerabat. Dalam urutan trah keluarga besar, Nuh yang berstatus cucu merupakan generasi kelima. Di sebelah rumah Mbah Syiroj, Nuh yang juga mursyid tarekat naqsabandiyah itu bertempat tinggal.

"Ayah saya salah satu dari putra Mbah Syiroj," tutur Nuh menceritakan. Rumah Mbah Syiroj bagi Nuh adalah rumah keluarga besar. Sampai hari ini bentuknya dipertahankan. Begitu juga dengan ruangan-ruangannya. Di antara yang lain, ruangan tempat Soeprijadi pernah mengaso itu, berada paling selatan. Berukuran paling besar dengan bentuk memanjang. Lebar ruangan sekitar dua meter dengan panjang kurang lebih 10 meter.



"Mbah (Mbah Syiroj) nyebutnya kamar gajah ngising (gajah berak). Saya sampai sekarang gak tau kenapa dinamakan begitu," kata Nuh. Hanya hitungan beberapa jam usai pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar meletus (14 Agustus 1945), Syodanco Soeprijadi datang. Soeprijadi yang lahir 13 April 1923 di Trenggalek Jawa Timur itu adalah putra Darmadi, Bupati Blitar.

Kisah Syodanco Soeprijadi, Sebelum Lenyap Sempat Sembunyi di Rumah Mbah Syiroj Blitar

Makam Kiai Abdullah Syiroj pahlawan perintis kemerdekaan di belakang masjid Baitul Yaqin, Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Foto/SINDOnews/Solichan Arif

Pemberontakan yang berlangsung malam hari di markas PETA di Kota Blitar itu gagal. Kehabisan amunisi serta keroposnya koordinasi antar pasukan konon penyebab gagalnya pemberontakan. Mendiang nenek Nuh pernah cerita, rombongan Soeprijadi datang menjelang dini hari. Komandan tempur itu diikuti sekitar 40 orang pengikutnya.

Semuanya berseragam tentara, lengkap dengan senjata. "Oleh Mbah Syiroj semuanya diminta bergegas masuk ke dalam rumah," kata Nuh menirukan apa yang pernah diceritakan neneknya. Begitu tahu mereka baru saja memberontak, atas saran Mbah Syiroj, semua diminta melepas seragam tentara PETAnya. Termasuk Soeprijadi.

Saat itu juga para pemberontak Jepang tersebut bersalin baju biasa yang diperoleh dari warga sekitar. "Katanya, seragam tentara PETA itu kemudian dikubur di bawah salah satu ruangan rumah ini," terang Nuh. Di ruangan "Gajah Ngising" itu, Soeprijadi dan Mbah Syiroj sempat berbicara empat mata. Keduanya sama sama duduk bersila, berhadap hadapan.

Jauh sebelum memberontak, konon Soeprijadi banyak belajar soal ilmu kanuragan dari Mbah Syiroj. Dan di ruangan "Gajah Ngising" itu tidak ada yang tahu apa yang dipercakapkan mereka berdua. "Nenek juga tidak tahu apa yang dibicarakan," kata Nuh. Sejurus kemudian Soeprijadi merebahkan badan. Ia mengaso, dan sebelum terjaga sempat pulas barang 1-2 jam.

Sementara di dapur, Siti Fatimah yang dibantu warga sekitar sedang memasak makanan. Di salah kursi kayu di dapur, Soeprijadi yang sudah terjaga, kata Nuh sempat duduk. Posisinya menyandar dengan kedua tangan mendaplang. Tidak jauh dari kakinya, bedil pasukannya didirikan dengan posisi berjajar.

"Pada momen itu (duduk di kursi dapur) orang orang yang seusia saat itu banyak yang tahu dan menceritakannya," tutur Nuh. Pagi hari itu. Setelah makan, Soeprijadi bersama pasukannya berpamitan melanjutkan pelarian. Ia khawatir tentara Jepang mengendus keberadaanya, karena itu tidak bisa berlama lama.

Dari cerita yang didengar, seingat Nuh, para pemberontak PETA itu lari ke jalan menuju wilayah Gandusari, arah Gunung Kelud. Entah di tengah perjalanan mereka berbelok arah ke Gunung Wilis, wilayah Kediri, Nuh tidak tahu pasti. "Karena setelah itu tidak lagi diketahui jejaknya. Yang didengar tentara Jepang terus memburu para pemberontak," papar Nuh menjelaskan.

Nuh lupa kapan waktunya secara pasti. Setelah itu musibah pun datang. Berawal dari penangkapan salah seorang pengikut Syodanco Soeprijadi di Kediri. Jepang awalnya sulit menghabisi, karena anak buah Soeprijadi memiliki kain rajah bahasa Arab yang diikatkan pada perut. Ketika dikorek, ia mengaku mendapat jimat itu dari seorang kiai di Blitar.

"Mbah Syiroj kemudian ditangkap Jepang," tutur Nuh. Sebelum dijebloskan ke dalam penjara Blitar selama tujuh bulan, Mbah Siraj mengalami serangkaian penyiksaan. Ia dipaksa membuka mulut ke mana Syodanco Soeprijadi bersembunyi. Irvan Fauzi, cucu Mbah Syiroj yang lain menuturkan, karena marah, Jepang mengikat tangan dan kaki kakeknya di kendaraan, dan lalu ditarik.

"Kemudian juga dicekoki minum air sabun," tutur Irvan yang masih merasa ngeri membayangkan kekejaman Jepang. Mbah Syiroj tetap hidup dan tetap mengaku tidak tahu dengan keberadaan Soeprijadi. Mbah Syiroj sempat dilepas sebentar, namun Jepang kembali menangkapnya. Mbah Syiroj dijebloskan di penjara Kalisosok, Surabaya.

Di bulan ramadhan. Sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan dwi tunggal Soekarno-Hatta, Mbah Syiroj wafat. Jenazahnya dimakamkan di TPU Jarak, Surabaya. Pada tahun 2004, melalui prosesi militer kenegaraan, jenazah Mbah Syiroj dipindah ke Desa Krenceng.

Makam Mbah Syiroj berada di belakang masjid Baitul Yaqin. Pada batu nisannya bertuliskan Pahlawan Perintis Kemerdekaan serta terpasang plakat logam bendera merah putih. "Dengan status suaminya pahlawan perintis kemerdekaan, mbah putri (Siti Fatimah) sebelum meninggal menerima pensiunan dari negara," pungkas Irvan.
(shf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top