Drama 3 Surat Pernyataan, Mengungkap Dugaan Pencabulan Anak Yatim Piatu di Magetan
Senin, 29 Maret 2021 - 05:43 WIB
loading...
A
A
A
Tidak ingin suasana menjadi runyam, seorang perangkat desa kemudian mengajak untuk mencari penyelesaian di balai desa tanpa Ihsan sebagai saksi mata dan BD yang saat itu terlihat trauma.
Peristiwa dugaan tindak pencabulan itu terkuak setelah munculnya sebuah surat pernyataan berisi BD selaku korban tidak akan menuntut apapun kepada pelaku kecuali segera meninggalkan desa.
Baca juga: Tega Perkosa dan Sandera Bocah Tetangga, Kakek di Kediri Ditangkap Polisi
Surat pernyataan bermaterai Rp10.000 tertanggal 18 Maret 2021 tersebut ditanda tangani BD (Pihak 1) dan SJR (Pihak 2) dengan tidak disertai saksi. Padahal menurut Ihsan yang hadir di balai desa selain seorang perangkat desa dan pelaku juga ada kakak dan bibi korban.
Tidak hanya itu, selang 5 hari kemudian, muncul surat pernyataan baru, kali ini ditandatangani oleh SJR (Pihak 1) dan Harno (Pihak 2) yang dinyatakan sebagi paman BD.
Surat pernyataan kedua ini berisi agar paman korban tidak akan menuntut SJR atas apa yang menimpa BD. Selain bermaterai, kali ini surat pernyataan disertai saksi.
Kejanggalan terjadi pada kemunculan surat pernyataan ketiga tertanggal 26 Maret 2021, kali ini dari kakak korban yang menyatakan jika kasus dugaan pencabulan yang menimpa adiknya telah selesai di tingkat desa, dan tidak akan menghubungi wartawan atau LSM agar kasus ini tidak terekspose.
Mengenai ketiga surat pernyataan itu, Kepala Desa Tamanan Haryono dalam klarifikasinya melalui telepon menyangkal adanya keterlibatan pemerintahan desanya, meskipun mengakui ada mediasi kasus ini di Balai Desa Tamanan pada hari itu.
Peristiwa dugaan tindak pencabulan itu terkuak setelah munculnya sebuah surat pernyataan berisi BD selaku korban tidak akan menuntut apapun kepada pelaku kecuali segera meninggalkan desa.
Baca juga: Tega Perkosa dan Sandera Bocah Tetangga, Kakek di Kediri Ditangkap Polisi
Surat pernyataan bermaterai Rp10.000 tertanggal 18 Maret 2021 tersebut ditanda tangani BD (Pihak 1) dan SJR (Pihak 2) dengan tidak disertai saksi. Padahal menurut Ihsan yang hadir di balai desa selain seorang perangkat desa dan pelaku juga ada kakak dan bibi korban.
Tidak hanya itu, selang 5 hari kemudian, muncul surat pernyataan baru, kali ini ditandatangani oleh SJR (Pihak 1) dan Harno (Pihak 2) yang dinyatakan sebagi paman BD.
Surat pernyataan kedua ini berisi agar paman korban tidak akan menuntut SJR atas apa yang menimpa BD. Selain bermaterai, kali ini surat pernyataan disertai saksi.
Kejanggalan terjadi pada kemunculan surat pernyataan ketiga tertanggal 26 Maret 2021, kali ini dari kakak korban yang menyatakan jika kasus dugaan pencabulan yang menimpa adiknya telah selesai di tingkat desa, dan tidak akan menghubungi wartawan atau LSM agar kasus ini tidak terekspose.
Mengenai ketiga surat pernyataan itu, Kepala Desa Tamanan Haryono dalam klarifikasinya melalui telepon menyangkal adanya keterlibatan pemerintahan desanya, meskipun mengakui ada mediasi kasus ini di Balai Desa Tamanan pada hari itu.
Lihat Juga :