Masjid Merah Panjunan, Masjid Jawa Buatan Pendatang Arab
Senin, 18 Mei 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Denah yang persegi itu adalah bagian dari rumah Jawa yang disebut pendopo. Bangunan pendopo yang denahnya serba persegi itu apabila ditutup dengan tembok atau dinding dan diberi bangunan untuk mihrab yang diarahkan ke kiblat barat laut akan menjadi sebuah masjid .
(Baca: Kebanggaan Warga Pariaman, Ungku Saliah Terkenal Lewat Bingkai Foto)
Seperti masjid-masjid lain di Cirebon, bangunan Masjid Merah Panjunan juga tak lepas dari unsur akulturasi budaya lama ke budaya baru. Gerbang masjid mirip bangunan pura yang mewakili unsur budaya Hindu. Unsur budaya Islam diwakili 17 tiang kayu pohon kokoh di bagian dalam yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Tiang kayu tersebut berbentuk bintang dengan delapan bunga yang melambangkan lafal selawat.
Potongan kayu tersusun rapi menjadi atap beradu dengan ornamen-ornamen piring keramik Tiongkok di yang masih dijaga keasliannya di bagian dinding. Konon keramik Tiongkok itu merupakan bagian hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putrinya.
Perpaduan budaya Arab dan Tiongkok serta budaya lokal menegaskan posisi masjid yang berada di kawasan perdagangan. Tidak mengherankan jika Masjid Merah Panjunan tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti halnya seluruh keraton di Cirebon.
(Baca: Kebanggaan Warga Pariaman, Ungku Saliah Terkenal Lewat Bingkai Foto)
Seperti masjid-masjid lain di Cirebon, bangunan Masjid Merah Panjunan juga tak lepas dari unsur akulturasi budaya lama ke budaya baru. Gerbang masjid mirip bangunan pura yang mewakili unsur budaya Hindu. Unsur budaya Islam diwakili 17 tiang kayu pohon kokoh di bagian dalam yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Tiang kayu tersebut berbentuk bintang dengan delapan bunga yang melambangkan lafal selawat.
Potongan kayu tersusun rapi menjadi atap beradu dengan ornamen-ornamen piring keramik Tiongkok di yang masih dijaga keasliannya di bagian dinding. Konon keramik Tiongkok itu merupakan bagian hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putrinya.
Perpaduan budaya Arab dan Tiongkok serta budaya lokal menegaskan posisi masjid yang berada di kawasan perdagangan. Tidak mengherankan jika Masjid Merah Panjunan tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti halnya seluruh keraton di Cirebon.
(muh)
Lihat Juga :