Masjid Merah Panjunan, Masjid Jawa Buatan Pendatang Arab
Senin, 18 Mei 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Bila Masjid Kasepuhan melibatkan Sunan Kalijaga sebagai arsitek, Masjid Abang dibangun oleh Syarif Abdurrahman, seorang imigran Arab dari Baghdad. Dalam Babad Cirebon terbitan 1984 sebagaimana dituliskan dalam salah satu penelitian mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, disebutkan bahwa Syarif Abdurrahman merupakan anak dari Sultan Bagdad yang diusir karena keburukan akhlaknya.
Beberapa sumber menyebutkan Syarif Abdurrahman hanya bersama saudara-saudaranya. Namun kebanyakan menyebut dia datang bersama rombongan besar berjumlah 1.200 orang. Rombongan tersebut lalu menetap di satu wilayah yang tak jauh dari pantai.
Buku Sejarah Cirebon yang juga dinukil dalam penelitian tersebut menuliskan bahwa di tempat itu Syarif Abdurrahman berdakwah Islam sambil membuat barang-barang keramik dari tanah liat atau disebut anjun. Dari situlah sebutan Panjunan untuk daerah dan Masjid Abang berasal.
(Baca: Masjid Al Oesmani Medan, Simbol Keterbukaan Islam Pada Budaya Bangsa)
Bangunan masjid ini memang relatif kecil, hanya berukuran 40 meter persegi. Jarak antara lantai dan atap juga rendah, mirip model rumah-rumah tua di Jawa. Ini karena awalnya masjid ini hanya musala bernama Al-Athyah. Kecuali tempat wudhu, kondisi Masjid Merah Panjunan masih asli seperti awal berdirinya.
Secara umum dilihat dari arsitekturnya, Masjid Merah Panjunan ini memang bergaya asli Indonesia, khususnya Jawa. Ciri umum masjid di Nusantara menurut pendapat Sutjipto Wiryosuparto dalam artikel berjudul “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia” (Fadjar Th. III (2l) 1961) yaitu denah bangunan masjid di Jawa yang berbentuk persegi diperlihatkan juga oleh masjid-masjid di Indonesia.
Beberapa sumber menyebutkan Syarif Abdurrahman hanya bersama saudara-saudaranya. Namun kebanyakan menyebut dia datang bersama rombongan besar berjumlah 1.200 orang. Rombongan tersebut lalu menetap di satu wilayah yang tak jauh dari pantai.
Buku Sejarah Cirebon yang juga dinukil dalam penelitian tersebut menuliskan bahwa di tempat itu Syarif Abdurrahman berdakwah Islam sambil membuat barang-barang keramik dari tanah liat atau disebut anjun. Dari situlah sebutan Panjunan untuk daerah dan Masjid Abang berasal.
(Baca: Masjid Al Oesmani Medan, Simbol Keterbukaan Islam Pada Budaya Bangsa)
Bangunan masjid ini memang relatif kecil, hanya berukuran 40 meter persegi. Jarak antara lantai dan atap juga rendah, mirip model rumah-rumah tua di Jawa. Ini karena awalnya masjid ini hanya musala bernama Al-Athyah. Kecuali tempat wudhu, kondisi Masjid Merah Panjunan masih asli seperti awal berdirinya.
Secara umum dilihat dari arsitekturnya, Masjid Merah Panjunan ini memang bergaya asli Indonesia, khususnya Jawa. Ciri umum masjid di Nusantara menurut pendapat Sutjipto Wiryosuparto dalam artikel berjudul “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia” (Fadjar Th. III (2l) 1961) yaitu denah bangunan masjid di Jawa yang berbentuk persegi diperlihatkan juga oleh masjid-masjid di Indonesia.
Lihat Juga :