Hujan Sering Jadi Kambing Hitam Saat Banjir, Ini Faktanya
Senin, 15 Februari 2021 - 16:28 WIB
loading...
Hujan seringkali menjadi kambing hitam saat banjir melanda.Foto/ilustrasi
A
A
A
SURABAYA - Sejak awal tahun bencana banjir menimpa berbagai daerah di Indonesia. Tercatat, banjir telah terjadi sebanyak 243 kali menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Curah hujan yang tinggi disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir yang melanda, namun nyatanya hujan bukan satu-satunya penyebabnya.
Peneliti bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo MSi menuturkan, umumnya sebuah kota sudah didesain agar dapat menghadapi hujan terbesar yang pernah terjadi untuk menghindari banjir.
Baca juga: Longsor Nganjuk, 2 Korban Ditemukan Tewas, 16 Orang Masih Hilang
Kapasitas saluran air untuk menampung curah hujan yang digunakan oleh sebuah kota bisa mencapai lima hingga 50 tahun. Bahkan bisa menggunakan perencanaan 100 tahun jika tersedia ruang dan biaya yang cukup.
“Berdasarkan curah hujan tersebut, akan dihitung dan dibuat saluran penampung air hujan dengan dimensi menyesuaikan debit banjir yang akan terjadi,” kata Amien, Senin (15/2/2021).
Ia melanjutkan, saluran penampung air tersebut dapat berupa tanggul, bozem, atau rawa yang dibangun di berbagai tempat untuk menampung luapan sungai. Selain itu, untuk mempercepat penurunan muka air banjir, dipasang pompa-pompa air dan juga biasanya dilakukan pengerukan sedimen sungai, rawa, atau bozem untuk mencegah sedimentasi.
Curah hujan yang tinggi disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir yang melanda, namun nyatanya hujan bukan satu-satunya penyebabnya.
Peneliti bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo MSi menuturkan, umumnya sebuah kota sudah didesain agar dapat menghadapi hujan terbesar yang pernah terjadi untuk menghindari banjir.
Baca juga: Longsor Nganjuk, 2 Korban Ditemukan Tewas, 16 Orang Masih Hilang
Kapasitas saluran air untuk menampung curah hujan yang digunakan oleh sebuah kota bisa mencapai lima hingga 50 tahun. Bahkan bisa menggunakan perencanaan 100 tahun jika tersedia ruang dan biaya yang cukup.
“Berdasarkan curah hujan tersebut, akan dihitung dan dibuat saluran penampung air hujan dengan dimensi menyesuaikan debit banjir yang akan terjadi,” kata Amien, Senin (15/2/2021).
Ia melanjutkan, saluran penampung air tersebut dapat berupa tanggul, bozem, atau rawa yang dibangun di berbagai tempat untuk menampung luapan sungai. Selain itu, untuk mempercepat penurunan muka air banjir, dipasang pompa-pompa air dan juga biasanya dilakukan pengerukan sedimen sungai, rawa, atau bozem untuk mencegah sedimentasi.
Lihat Juga :