Inovasi Robot ITS Bisa Ambil Pasar Impor Alkes
Senin, 11 Mei 2020 - 11:44 WIB
loading...
Robot violetta karya inovasi ITS yang telah diserahkan ke RSUA. Foto/dok.humas ITS
A
A
A
JAKARTA - Langkah ITS berkaitan dengan penanganan wabah COVID-19 sudah berada di jalur yang benar. Inovasi-inovasi yang dihasilkan bukan berbasis keinginan, melainkan kebutuhan. Tantangannya tinggal bagaimana menjadikan karya inovasi tersebut sustainable dan lebih menjangkau masyarakat lebih luas.
”Untuk urusan administrasi seperti sertifikat uji teknis, izin produksi, izin edar untuk kesehatan dan lain sebagainya, ITS harus memiliki unit usaha sendiri untuk mengusurusnya,” ujar Taufik Bawazier, pelaksana tugas Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian dalam Zoominar yang diselenggarakan Dewan Pakar PP IKA ITS, Sabtu (9/5/2020).
Menurut Taufik, dari kacamata pemerintah, hilirisasi produk hasil inovasi harus dilihat dalam spektrum lebih luas. Kemampuan atau kompetensi teknis bukan satu-satunya pertimbangan. Bila secara teknis mampu Indonesia memproduksi massal, harus dilihat pula secara ekonomi dibandingkan dengan negara lain, misalnya China atau Korea Selatan. Sebab hal ini akan berpengaruh pada komersialisasi produk kelak.
”Jadi setelah barang dibuat, harus dipikirkan bagaimana membuatnya masuk economy of scale,” tutur Taufik.
![Inovasi Robot ITS Bisa Ambil Pasar Impor Alkes]()
Robot Raisa yang bertugas mengontrol kebutuhan pasien. Foto/dok.humas ITS
”Untuk urusan administrasi seperti sertifikat uji teknis, izin produksi, izin edar untuk kesehatan dan lain sebagainya, ITS harus memiliki unit usaha sendiri untuk mengusurusnya,” ujar Taufik Bawazier, pelaksana tugas Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian dalam Zoominar yang diselenggarakan Dewan Pakar PP IKA ITS, Sabtu (9/5/2020).
Menurut Taufik, dari kacamata pemerintah, hilirisasi produk hasil inovasi harus dilihat dalam spektrum lebih luas. Kemampuan atau kompetensi teknis bukan satu-satunya pertimbangan. Bila secara teknis mampu Indonesia memproduksi massal, harus dilihat pula secara ekonomi dibandingkan dengan negara lain, misalnya China atau Korea Selatan. Sebab hal ini akan berpengaruh pada komersialisasi produk kelak.
”Jadi setelah barang dibuat, harus dipikirkan bagaimana membuatnya masuk economy of scale,” tutur Taufik.

Robot Raisa yang bertugas mengontrol kebutuhan pasien. Foto/dok.humas ITS
Lihat Juga :