Ada Dugaan Korban Pelecehan Mahasiswi IAIN Tulungagung Lebih Dari Satu
Selasa, 17 November 2020 - 14:42 WIB
loading...
Para aktivis IAIN Tulungagung saat melakukan unjuk rasa terkait pelecehan seksual yang dialami rekan mereka. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A
A
A
TULUNGAGUNG - Korban dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus IAIN Tulungagung ditengarai tidak hanya satu. Paska muncul demo di kampus, mahasiswi lain yang diduga juga menjadi korban pelecehan seksual , mulai bermunculan. "Diduga korbannya tidak hanya satu," ujar Koordinator Aliansi IAIN TA ( Tulungagung ) Bersuara Roiyatus Saadah kepada SINDOnews.com. (Baca juga: Korban Pelecehan Alami Trauma, Aktivis IAIN Tulungagung Minta Stop Victimisasi )
Selama ini mereka memilih diam karena alasan takut dan malu. Mereka bercerita bagaimana mereka juga pernah dilecehkan pelaku yang berlatar belakang aktivis mahasiswa pecinta alam (Mapala). Pola pendekatan ke korban juga sama. Yakni diajak naik gunung dan setiba di lokasi dipaksa melayani nafsu bejat pelaku.
Di kampus, korban dan pelaku juga berada dalam relasi hubungan senior-yunior. "Pola atau modus pelaku kurang lebih sama," terang Roiyatus. Begitu mendengar ada korban pelecehan seksual yang berani bersuara, para korban lain mulai ikut bercerita. Hanya saja, Roiyatus belum bersedia membeberkan berapa jumlah mereka. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan data.
"Untuk jumlahnya maaf kami belum bisa menyampaikan," kata Roiyatus. Sementara kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa aktivis mahasiswi, dilaporkan ke kampus pada 16 September. Namun pihak kampus baru merespon 1 Oktober. Selama itu upaya victimisasi kepada korban juga terus bermunculan. Datangnya upaya (victimisasi) berasal dari oknum dosen sampai oknum aktivis kampus. (Baca juga: Pria Kelahiran Kediri Gantung Diri di Hutan Dam Duriangkang Batam )
Selama ini mereka memilih diam karena alasan takut dan malu. Mereka bercerita bagaimana mereka juga pernah dilecehkan pelaku yang berlatar belakang aktivis mahasiswa pecinta alam (Mapala). Pola pendekatan ke korban juga sama. Yakni diajak naik gunung dan setiba di lokasi dipaksa melayani nafsu bejat pelaku.
Di kampus, korban dan pelaku juga berada dalam relasi hubungan senior-yunior. "Pola atau modus pelaku kurang lebih sama," terang Roiyatus. Begitu mendengar ada korban pelecehan seksual yang berani bersuara, para korban lain mulai ikut bercerita. Hanya saja, Roiyatus belum bersedia membeberkan berapa jumlah mereka. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan data.
"Untuk jumlahnya maaf kami belum bisa menyampaikan," kata Roiyatus. Sementara kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa aktivis mahasiswi, dilaporkan ke kampus pada 16 September. Namun pihak kampus baru merespon 1 Oktober. Selama itu upaya victimisasi kepada korban juga terus bermunculan. Datangnya upaya (victimisasi) berasal dari oknum dosen sampai oknum aktivis kampus. (Baca juga: Pria Kelahiran Kediri Gantung Diri di Hutan Dam Duriangkang Batam )
Lihat Juga :