Ini Penyebab Perceraian Meningkat Selama Pandemi
Senin, 02 November 2020 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
“Sang istri mulai menikmati perannya sebagai seorang ibu dan istri, sementara suami mulai kehilangan perhatian,” sambung ahli psikologi anak dan dewasa tersebut.
Sementara itu, pada tahun kelima belas pernikahan, baik suami dan istri rentan mengalami masalah eksistensi diri. Krisis identitas diri tersebut akan diikuti dengan fase tahun pernikahan kedua puluh di mana baik suami dan istri mengalami masa refleksi. Terakhir adalah fase krisis di tahun kedua puluh lima pernikahan yang mana pasangan akan mulai mengalami penyakit degeneratif serta gangguan lain akibat usia senja.
“Pada masa ini ketergantungan terhadap pasangan akan semakin kuat. Mereka yang berhasil mencapai fase ini akan menyadari bahwa satu-satunya yang mereka butuhkan saat itu adalah kehadiran pasangan sebagai teman hidup di masa tua,” kata dia.
Maka berdasarkan fase-fase tersebut, kata dia, pandemi COVID-19 dan segala dampaknya mungkin saja turut menjadi pemicu keretakan hubungan rumah tangga. Akan tetapi tanpa adanya pandemi pun setiap pasangan pasti akan mengalami fase-fase krisis tersebut.
Tri mengatakan, manajemen psikologis, toleransi, serta diskusi menjadi poin utama untuk mencegah dan mengatasi masalah dalam pernikahan. Sehingga kehidupan masih bisa dilanjutkan dengan nyaman.
Sementara itu, pada tahun kelima belas pernikahan, baik suami dan istri rentan mengalami masalah eksistensi diri. Krisis identitas diri tersebut akan diikuti dengan fase tahun pernikahan kedua puluh di mana baik suami dan istri mengalami masa refleksi. Terakhir adalah fase krisis di tahun kedua puluh lima pernikahan yang mana pasangan akan mulai mengalami penyakit degeneratif serta gangguan lain akibat usia senja.
“Pada masa ini ketergantungan terhadap pasangan akan semakin kuat. Mereka yang berhasil mencapai fase ini akan menyadari bahwa satu-satunya yang mereka butuhkan saat itu adalah kehadiran pasangan sebagai teman hidup di masa tua,” kata dia.
Maka berdasarkan fase-fase tersebut, kata dia, pandemi COVID-19 dan segala dampaknya mungkin saja turut menjadi pemicu keretakan hubungan rumah tangga. Akan tetapi tanpa adanya pandemi pun setiap pasangan pasti akan mengalami fase-fase krisis tersebut.
Tri mengatakan, manajemen psikologis, toleransi, serta diskusi menjadi poin utama untuk mencegah dan mengatasi masalah dalam pernikahan. Sehingga kehidupan masih bisa dilanjutkan dengan nyaman.
(nth)
Lihat Juga :