Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Tertinggi di Sumatera

loading...
Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Tertinggi di Sumatera
Pertumbuhan ekonomi Sumsel tertinggi di Sumatera. Foto SINDOnews
A+ A-
PALEMBANG - embatasan sosial sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 berdampak pada pendapatan masyarakat dan penurunan produksi, sehingga menurunkan prospek permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Hari Widodo mengatakan, sejalan dengan kondisi global dan nasional, kondisi perekonomian di Sumsel juga mengalami tekanan sebagai dampak penyebaran COVID-19.

"Pertumbuhan ekonomi provinsi Sumsel pada Triwulan I tahun 2020, tercatat tumbuh melambat sebesar 4,98 persen (yoy) dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2019 yang tumbuh sebesar 5,69 persen (yoy)," ujar Hari pada teleconference media briefing, Jumat (08/05/2020).

Sesuai proyeksi Bank Indonesia, kata Hari, penurunan ini belum begitu tajam karena masih ada kegiatan ekonomi bulan Januari dan Februari yang relatif belum terdampak signifikan oleh pandemi COVID-19.

"Meskipun melambat, realisasi pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi regional Sumatera dan nasional yang masing-masing tumbuh sebesar 3,25 persen (yoy) dan 2,97 persen (yoy), serta merupakan pertumbuhan tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di regional Sumatera," katanya.



Dijelaskan Hari, Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan memberikan kontribusi tertinggi berdasarkan struktur PDRB dari sisi Lapangan Usaha. Memasuki triwulan I-2020 terjadi perubahan struktur PDRB dari sisi LU.

"Struktur perekonomian di Sumsel didominasi oleh LU Industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 20 persen diikuti oleh LU Pertambangan dan Penggalian kemudian LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi masing-masing sebesar 19 persen dan 15 persen," jelas Hari.

Pada Triwulan I tahun 2020, LU Industri Pengolahan tercatat tumbuh sebesar 6,21 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan Triwulan IV tahun 2019 sebesar 4,19 persen (yoy).

Pertumbuhan LU ini didorong oleh meningkatnya industri pulp and paper yang terlihat dari subsektor LU Industri kayu dan barang dari kayu serta industri kertas dan barang dari kertas yang tumbuh tinggi masing-masing sebesar 11,43 persen (yoy) dan 16,57 persen (yoy).

"Hal ini didorong oleh permintaan atas komoditas kertas terutama kertas tissue yang berasal dari Tiongkok yang disebabkan oleh adanya penyebaran wabah COVID-19. Sementara LU Pertambangan dan Penggalian tumbuh terbatas sebesar 3,15 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,57 persen (yoy)," ungkap Hari.



Menurutnya, tumbuh terbatasnya LU ini disebabkan oleh adanya penurunan harga batubara global tahunan karena menurunnya permintaan akibat adanya kebijakan lockdown di beberapa negara yang menutup industri sementara.

"Kebijakan lockdown tersebut diperkirakan juga akan meningkatkan konsumsi listrik yang berpotensi mendorong kenaikan harga batubara di akhir tahun 2020. Di sisi lain, LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tercatat tumbuh dibandingkan triwulan sebelumnya yang disebabkan oleh masuknya musim panen beras dan tanaman hortikultura dan kenaikan kinerja industri kertas dan barang dari kertas serta industri kayu dan barang dari kayu," ungkapnya.
(don)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top