Kembangkan Produk Olahan Ikan, Warga di Kedung Ombo Bangkit dari Kemiskinan
Minggu, 27 Oktober 2024 - 22:53 WIB
loading...
Kaum perempuan di Dukuh Sumber Agung, Desa Sarimulyo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah mengembangkan produk olahan ikan dari Waduk Kedung Ombo. Foto/Ary Wahyu Wibowo
A
A
A
BOYOLALI - Warga Dukuh Sumber Agung, Desa Sarimulyo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah berlahan berupaya bangkit dari masalah kemiskinan yang selama ini membelenggu.
Mereka mencoba memperbaiki taraf kehidupan dengan mengembangkan produk olahan ikan dari Waduk Kedung Ombo (WKO) dan mendirikan bengkel nelayan.
Baca juga: Sensasi Kuliner Ikan Asap Waduk Kedung Ombo, Aroma Sangitnya Bikin Ketagihan
Sejak puluhan tahun silam, masyarakat di Dusun Sumber Agung berprofesi sebagai nelayan penangkap ikan di WKO. Pendapatan mereka sangat terbatas karena harga jual ikan hasil tangkapan sangat murah.
Kaum pria di Dukuh Sumber Agung, Desa Sarimulyo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah membuat perahu dari fiber glass di bengkel nelayan. Foto/Ary Wahyu Wibowo
Ikan Petek dan Ikan Lonjar yang sering didapatkan nelayan, hanya dibeli Rp2.000 per kilogram oleh tengkulak. Harga jual sangat murah dan tak sesuai dengan jerih payah.
Kondisi semakin terpuruk ketika air waduk yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Grobogan tersebut tengah surut. Guna menyambung hidup, mereka ganti haluan menjadi petani musiman dengan menanam jagung.
Baca juga: Bantu Nelayan, 2 Mahasiswa ITS Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Ikan di Laut
Rata-rata warga di Dusun Sumber Agung berprofesi sebagai nelayan. Jumlahnya sekitar 100 orang dan suami istri berprofesi sebagai nelayan semua.
Kaum perempuan di Dusun Sumber Agung berupaya bangkit dari keterpurukan ekonomi. Mengawalinya, warga mengajukan proposal ke PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT). Tak memerlukan waktu lama, proposal disetujui dan warga mendapatkan pendampingan membuat produk olahan dari ikan hasil tangkapan di tahun 2022.
Mereka mendirikan Kelompok Jawak (Jajanan Iwak Kedung Ombo). Bantuan peralatan yang diberikan sangat banyak, di antaranya untuk pengasapan, kompor, wajan, spinner, timbangan, perajang, dan baskom.
“Selain itu juga ada bantuan modal, pendampingan benar-benar dari nol,” kata Bendahara Kelompok Jawak, Maryani.
Ikan hasil tangkapan diolah menjadi krispi petek, bakso petek goreng (bapareng), dan krispi lonjar. Krispi petek dijual dengan harga Rp75.000 per kg, bapareng Rp60.000 per kg, dan krispi lonjar Rp120.000 per kilogram.
Selain itu juga membuat krispi udang dengan harga Rp125.000 per kg. Namun produksi krispi udang tidak bisa dilakukan setiap hari karena sifatnya hanya musiman.
Mereka mencoba memperbaiki taraf kehidupan dengan mengembangkan produk olahan ikan dari Waduk Kedung Ombo (WKO) dan mendirikan bengkel nelayan.
Baca juga: Sensasi Kuliner Ikan Asap Waduk Kedung Ombo, Aroma Sangitnya Bikin Ketagihan
Sejak puluhan tahun silam, masyarakat di Dusun Sumber Agung berprofesi sebagai nelayan penangkap ikan di WKO. Pendapatan mereka sangat terbatas karena harga jual ikan hasil tangkapan sangat murah.

Kaum pria di Dukuh Sumber Agung, Desa Sarimulyo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah membuat perahu dari fiber glass di bengkel nelayan. Foto/Ary Wahyu Wibowo
Ikan Petek dan Ikan Lonjar yang sering didapatkan nelayan, hanya dibeli Rp2.000 per kilogram oleh tengkulak. Harga jual sangat murah dan tak sesuai dengan jerih payah.
Kondisi semakin terpuruk ketika air waduk yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Grobogan tersebut tengah surut. Guna menyambung hidup, mereka ganti haluan menjadi petani musiman dengan menanam jagung.
Baca juga: Bantu Nelayan, 2 Mahasiswa ITS Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Ikan di Laut
Rata-rata warga di Dusun Sumber Agung berprofesi sebagai nelayan. Jumlahnya sekitar 100 orang dan suami istri berprofesi sebagai nelayan semua.
Kaum perempuan di Dusun Sumber Agung berupaya bangkit dari keterpurukan ekonomi. Mengawalinya, warga mengajukan proposal ke PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT). Tak memerlukan waktu lama, proposal disetujui dan warga mendapatkan pendampingan membuat produk olahan dari ikan hasil tangkapan di tahun 2022.
Mereka mendirikan Kelompok Jawak (Jajanan Iwak Kedung Ombo). Bantuan peralatan yang diberikan sangat banyak, di antaranya untuk pengasapan, kompor, wajan, spinner, timbangan, perajang, dan baskom.
“Selain itu juga ada bantuan modal, pendampingan benar-benar dari nol,” kata Bendahara Kelompok Jawak, Maryani.
Ikan hasil tangkapan diolah menjadi krispi petek, bakso petek goreng (bapareng), dan krispi lonjar. Krispi petek dijual dengan harga Rp75.000 per kg, bapareng Rp60.000 per kg, dan krispi lonjar Rp120.000 per kilogram.
Selain itu juga membuat krispi udang dengan harga Rp125.000 per kg. Namun produksi krispi udang tidak bisa dilakukan setiap hari karena sifatnya hanya musiman.
Lihat Juga :