Cerita Jenderal TNI AD Hadapi Prajurit yang Mabuk dan Bikin Resah Warga, Hukumannya Bikin Insaf
Sabtu, 07 September 2024 - 09:31 WIB
loading...
A
A
A
Rupanya, ada prajurit yang tidak suka dengan kebiasaan Letda Inf Agus Rohman. Ia adalah Kopral Darmianto.
Kopral Darmianto dikenal sebagai prajurit yang memiliki kemampuan bela diri boxer. Tubuhnya atletis khas seorang atlet boxer dan sangat ditakuti para juniornya. Ya, boleh dibilang dia adalah pentolan barak.
"Izin Danton, kalau persoalan agama tidak perlu diatur atau ikut campur, masalah agama jangan dipaksa-paksa, Komandan. Biar menjadi urusan masing-masing orang," sergah Kopral Darmianto.
Agus Rohman cukup terkejut dengan perkataan prajuritnya itu. Ia tahu siapa Kopral Darmianto.
"Saya tanya. Kamu punya orangtua?"
"Siap punya!" jawab Darmianto.
"Orang tuamu di kampung, kan? Di sini, saya orang tua kamu! Saya yang bertanggung jawab atas kamu. Suatu hari kamu akan mati. Apa yang kamu bawa saat mati kalau bukan salat," tegas Agus Rohman.
"Apa hukum Salat Jumat?"
"Siap, wajib!" jawab Darmianto.
"Kamu Islam, kan?" tanya Agus muda.
"Siap, Islam!" jawab Kopral.
"Kamu tahu wajib? Wajib itu apabila dilaksanakan berpahala, tidak dilaksanakan mendapat dosa. Dan saya sebagai wakil orang tuamu di sini akan sangat sedih kalau kamu mendapat dosa. Salat itu salah satu wujud pengamalan Pancasila, Sila Pertama Ketuhanan YME dan ada di Sapta Marga ke-3. Jika saya memerintahkan Salat Jumat kepada yang non-Muslim, itu baru salah. Kamu mau melanggar itu?" tuturnya.
Baca juga: Pangdam IV Diponegoro yang Pernah Jabat Danjen Kopassus, Nomor 2 Melesat Jadi KSAD di 3 Era Presiden
Agus Rohman seperti telah menyerang Kopral Damianto dari berbagai arah. Kopral Damianto pun terdiam. Ia tidak dapat mendebat komandannya. Sejak saat itu, tidak ada lagi prajurit Yonif L 330/TD yang berani lagi meninggalkan Salat Jumat.
Kopral Darmianto dikenal sebagai prajurit yang memiliki kemampuan bela diri boxer. Tubuhnya atletis khas seorang atlet boxer dan sangat ditakuti para juniornya. Ya, boleh dibilang dia adalah pentolan barak.
"Izin Danton, kalau persoalan agama tidak perlu diatur atau ikut campur, masalah agama jangan dipaksa-paksa, Komandan. Biar menjadi urusan masing-masing orang," sergah Kopral Darmianto.
Agus Rohman cukup terkejut dengan perkataan prajuritnya itu. Ia tahu siapa Kopral Darmianto.
"Saya tanya. Kamu punya orangtua?"
"Siap punya!" jawab Darmianto.
"Orang tuamu di kampung, kan? Di sini, saya orang tua kamu! Saya yang bertanggung jawab atas kamu. Suatu hari kamu akan mati. Apa yang kamu bawa saat mati kalau bukan salat," tegas Agus Rohman.
"Apa hukum Salat Jumat?"
"Siap, wajib!" jawab Darmianto.
"Kamu Islam, kan?" tanya Agus muda.
"Siap, Islam!" jawab Kopral.
"Kamu tahu wajib? Wajib itu apabila dilaksanakan berpahala, tidak dilaksanakan mendapat dosa. Dan saya sebagai wakil orang tuamu di sini akan sangat sedih kalau kamu mendapat dosa. Salat itu salah satu wujud pengamalan Pancasila, Sila Pertama Ketuhanan YME dan ada di Sapta Marga ke-3. Jika saya memerintahkan Salat Jumat kepada yang non-Muslim, itu baru salah. Kamu mau melanggar itu?" tuturnya.
Baca juga: Pangdam IV Diponegoro yang Pernah Jabat Danjen Kopassus, Nomor 2 Melesat Jadi KSAD di 3 Era Presiden
Agus Rohman seperti telah menyerang Kopral Damianto dari berbagai arah. Kopral Damianto pun terdiam. Ia tidak dapat mendebat komandannya. Sejak saat itu, tidak ada lagi prajurit Yonif L 330/TD yang berani lagi meninggalkan Salat Jumat.
(kri)
Lihat Juga :