Kisah Timur Pane, Raja Copet dan Jenderal Mayor Terlupakan dari Sumatera Utara
Minggu, 02 Juni 2024 - 06:24 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kisah Pratu Suparlan, Legenda Kopassus Berjuluk Rambo Pembantai Pasukan Komunis Fretilin
Sejak zaman Pertempuran Medan Area, menurut Jenderal Maraden Panggabean dalam buku "Berjuang dan Mengabdi" (1993:92), Timur Pane memimpin pasukan Napindo Naga Terbang. Namun, meskipun membawa nama Napindo, dia tidak selalu patuh kepada pimpinannya.
Radjab mencatat bahwa Timur Pane kemudian memimpin laskar Barisan Marsose, yang anggotanya menghuni vila-vila dan bungalow di Prapat. Nama Marsose diambil dari pasukan kejam KNIL di masa perang Aceh untuk memberikan kesan sangar.
Timur Pane mengklaim pasukannya kuat dan mampu bertempur selama 18 tahun, serta bisa menduduki kota Medan yang dikuasai Belanda dalam waktu 24 jam saja, meski klaim ini diragukan kebenarannya oleh Radjab.
Timur Pane juga menuding banyak pemimpin di Sumatera Timur sebagai kaki-tangan NICA Belanda dengan kelakuan borjuis, suka mencabuli perempuan, dan gila harta. Kekacauan di era revolusi memang diwarnai dengan persaingan dan pertikaian di antara pihak Indonesia sendiri.
Baca Juga: Kisah Lucu Kolonel Ihin Jadi Pangdam Gegara Tidur Ngorok Dengar Pidato Panglima TNI
Selain Timur Pane, ada tokoh lain seperti Mayor Bedjo yang juga ditakuti di Sumatera Timur. Hubungan antara Timur Pane dan Bedjo kadang harmonis, kadang bermusuhan.
Saat Wakil Presiden Muhammad Hatta datang ke Sumatera Timur, Timur Pane sedang berseteru dengan pimpinan laskar Gagak Hitam, Sarwono, yang kemudian ditangkap oleh pasukan Timur Pane. Hatta sampai harus turun tangan untuk mengatasi perselisihan ini.
Sejak zaman Pertempuran Medan Area, menurut Jenderal Maraden Panggabean dalam buku "Berjuang dan Mengabdi" (1993:92), Timur Pane memimpin pasukan Napindo Naga Terbang. Namun, meskipun membawa nama Napindo, dia tidak selalu patuh kepada pimpinannya.
Radjab mencatat bahwa Timur Pane kemudian memimpin laskar Barisan Marsose, yang anggotanya menghuni vila-vila dan bungalow di Prapat. Nama Marsose diambil dari pasukan kejam KNIL di masa perang Aceh untuk memberikan kesan sangar.
Timur Pane mengklaim pasukannya kuat dan mampu bertempur selama 18 tahun, serta bisa menduduki kota Medan yang dikuasai Belanda dalam waktu 24 jam saja, meski klaim ini diragukan kebenarannya oleh Radjab.
Timur Pane juga menuding banyak pemimpin di Sumatera Timur sebagai kaki-tangan NICA Belanda dengan kelakuan borjuis, suka mencabuli perempuan, dan gila harta. Kekacauan di era revolusi memang diwarnai dengan persaingan dan pertikaian di antara pihak Indonesia sendiri.
Baca Juga: Kisah Lucu Kolonel Ihin Jadi Pangdam Gegara Tidur Ngorok Dengar Pidato Panglima TNI
Selain Timur Pane, ada tokoh lain seperti Mayor Bedjo yang juga ditakuti di Sumatera Timur. Hubungan antara Timur Pane dan Bedjo kadang harmonis, kadang bermusuhan.
Saat Wakil Presiden Muhammad Hatta datang ke Sumatera Timur, Timur Pane sedang berseteru dengan pimpinan laskar Gagak Hitam, Sarwono, yang kemudian ditangkap oleh pasukan Timur Pane. Hatta sampai harus turun tangan untuk mengatasi perselisihan ini.
Lihat Juga :