Ayong, Banser Tionghoa Itu Tutup Usia

loading...
Ayong, Banser Tionghoa Itu Tutup Usia
Almarhum Lie Tjin Kiong (kiri) yang berdarah Tionghoa saat tugas pengamanan bersama seorang Banser keturunan Belanda yang akrab disapa Londho. Foto/Ist
A+ A-
SURABAYA - Sekitar tiga tahun lalu media sosial digegerkan oleh sebuah kartu tanda anggota (KTA) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). KTA Banser itu tidak biasa, baik nama maupun foto dalam KTA tersebut merujuk pada sosok pria etnis Tionghoa.

KTA dengan nama Lie Tjin Kiong dengan berseragam Banser itu viral di media sosial dengan berbagai narasi. Ada yang menyebut Banser telah disusupi WNA asal China. Ada pula yang menganggap KTA itu palsu atau hoax.

(Baca juga:Didukung PKB-PDIP, Kartika-Saim Deklarasi Cabup-Cawabup Lamongan)

Kesimpangsiuran itu pun terjawab. Ternyata Lie Tjin Kiong atau biasa disapa Ayong itu adalah benar anggota Barisan Ansor Serbaguna atau Banser. Bahkan, Ahmad Subkhi yang merupakan nama Ayong setelah memeluk Islam itu sudah lulus dalam Diklatsar Banser.

Lama tidak terdengar, publik dikagetkan dengan kabar duka. Ayong, Banser Tionghoa itu telah tutup usia. Kabar itu dibenarkan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Tandes, Luthfi Ansori.

(Baca juga:Setiajit Kantongi Rekom PAN Maju Pilkada Tuban)

"Iya.. benar, Lie Tjin Kiong atau Ahmad Subkhi alias Ayong telah meninggal dunia Sabtu pagi ini di RS Muji Rahayu. Jenazah dimakamkan di TPU Babat Jerawat, Tandes," ujar Lutfi, Sabtu (15/8/2020).

Lutfi mengenal Ayong sebagai figur yang sederhana tapi luar biasa. Sebagai mualaf, Ayong tak pernah meninggalkan salat. Bahkan salat lima waktu ia laksanakan tepat waktu. Meski pun sedang menjalankan usaha, kalau azan berkumandang ia langsung menutup toko dan mengajak anak dan istri salat ke masjid.

Almarhum yang menjabat sebagai Kepala Satuan Koordinasi Kelurahan (Satkorkel) Balongsari itu memang menjalankan usaha cuci cetak foto. Usaha itu dijalankan di sebuah toko yang masih di areal rumah. Usaha itu adalah warisan orangtuanya.

"Beliau orang yang luar biasa, selain ibadahnya tekun. Pengabdian terhadap Ansor dan Banser sangat luar biasa. Beliau tak pernah menolak tugas. Bahkan kalau ada anggota Ansor atau Banser yang cuci cetak foto di tokonya, ia gratiskan. Ia tak pernah mau menerima bayaran dari sahabatnya," tutur Lutfi.

Almarhum Ayong meninggal dunia dalam usia 41 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga orang putra-putri. Anak pertama baru saja melangsungkan pernikahan, sedangkan anak terakhir baru berusia tujuh tahun.

"Alhamdulillah, sahabat-sahabat Ansor dan Banser sempat mensalatkan serta mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir. Semoga almarhum husnul khotimah," pungkas Lutfi.
(msd)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top