Hingga Juli, DKK Salatiga Temukan 13 Kasus Kematian Bayi
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 09:43 WIB
loading...
Pemkot Salatiga mentargetkan angka kematian bayi pada 2020 ini, maksimal sebanyak 25 kasus. FOTO : DOK SINDOnews
A
A
A
SALATIGA - Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga mentargetkan angka kematian bayi pada 2020 ini, maksimal sebanyak 25 kasus. Sejak Januari hingga akhir Juli lalu, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga telah menemukan 13 kasus.
Kepala DKK Salatiga Siti Zuraidah mengatakan, indikator kesehatan di daerah adalah kematian ibu dan bayi. Pada 2019, target maksimal angka kematian bayi adalah 25 kasus. Namun tahun lalu ada 27 kasus.
"Tahun ini, target maksimal angka kematian ibu dan bayi sama dengan tahun lalu. Sejak Januari hingga akhir Juli 2020 sudah ada 13 kasus. Mudah-mudahan bisa lebih rendah dari tahun lalu," katanya, Sabtu (8/8/2020).(Baca juga : Bangun Pasar Rejosari, Pemkot Salatiga Alokasikan Anggaran Rp25 Miliar )
Guna menekan angka kematian ibu dan bayi, DKK meminta semua pihak untuk berperan aktif dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. "Kami juga minta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Salatiga untuk berperan dalam menjamin pelayanan KIA dan KB dengan berbagai inovasi di masa pandemi. Tak kalah penting adalah peran aktif di media sosial guna menangkal informasi yang salah serta mengkampanyekan protokol kesehatan," ujarnya.
Menurut Siti Zuraidah, bidan berperan penting dalam mencegah dan menemukan dini kemungkinan kasus stunting. "Sesuai arahan oresiden saat peringatan Hari Kesehatan Nasional, azas pelayanan terkait kesehatan ibu dan anak harus tetap berjalan. Tanpa mengabaikan protokol kesehatan, tidak ada alasan ibu hamil dan bayi tidak terlayani," tuturnya.
Di samping itu, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak, pada transisi era adaptasi baru (new normal) DKK Salatiga mulai membuka kembali sejumlah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang tersebar pada 23 kelurahan.
"Posyandu yang kami buka untuk operasional kembali sementara ini untuk balita. Sedangkan untuk lanjut usia (lansia) masih kami tunda," terang Siti Zuraidah.
Kepala DKK Salatiga Siti Zuraidah mengatakan, indikator kesehatan di daerah adalah kematian ibu dan bayi. Pada 2019, target maksimal angka kematian bayi adalah 25 kasus. Namun tahun lalu ada 27 kasus.
"Tahun ini, target maksimal angka kematian ibu dan bayi sama dengan tahun lalu. Sejak Januari hingga akhir Juli 2020 sudah ada 13 kasus. Mudah-mudahan bisa lebih rendah dari tahun lalu," katanya, Sabtu (8/8/2020).(Baca juga : Bangun Pasar Rejosari, Pemkot Salatiga Alokasikan Anggaran Rp25 Miliar )
Guna menekan angka kematian ibu dan bayi, DKK meminta semua pihak untuk berperan aktif dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. "Kami juga minta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Salatiga untuk berperan dalam menjamin pelayanan KIA dan KB dengan berbagai inovasi di masa pandemi. Tak kalah penting adalah peran aktif di media sosial guna menangkal informasi yang salah serta mengkampanyekan protokol kesehatan," ujarnya.
Menurut Siti Zuraidah, bidan berperan penting dalam mencegah dan menemukan dini kemungkinan kasus stunting. "Sesuai arahan oresiden saat peringatan Hari Kesehatan Nasional, azas pelayanan terkait kesehatan ibu dan anak harus tetap berjalan. Tanpa mengabaikan protokol kesehatan, tidak ada alasan ibu hamil dan bayi tidak terlayani," tuturnya.
Di samping itu, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak, pada transisi era adaptasi baru (new normal) DKK Salatiga mulai membuka kembali sejumlah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang tersebar pada 23 kelurahan.
"Posyandu yang kami buka untuk operasional kembali sementara ini untuk balita. Sedangkan untuk lanjut usia (lansia) masih kami tunda," terang Siti Zuraidah.
Lihat Juga :