Mudik dari Zona Merah, 3.829 Orang di Jatim Dikarantina di 478 Titik

Kamis, 30 April 2020 - 14:08 WIB
loading...
Mudik dari Zona Merah, 3.829 Orang di Jatim Dikarantina di 478 Titik
Sebanyak 3.829 orang tengah dikarantina di titik-titik observasi berbasis desa/kelurahan di Jawa Timur. Foto/Lukman Hakim
A A A
SURABAYA - Sebanyak 3.829 orang tengah dikarantina di titik-titik observasi berbasis desa/kelurahan yang ada di Jawa Timur (Jatim). Mayoritas mereka adalah masyarakat yang baru saja tiba pulang kampung dari daerah zona merah penularan COVID-19.

“Total saat ini ada sebanyak 3.829 orang yang sedang dikarantina di ruang observasi berbasis desa/kelurahan seluruh Jawa Timur. Gedung yang kini sedang terpakai untuk observasi ada 478 titik,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Kamis (30/4/2020).

Mantan Menteri Sosial (Mensos) ini menuturkan bahwa jumlah desa/kelurahan yang menyediakan ruang observasi di Jatim terus meningkat. "Total saat ini sudah ada 7.387 desa/kelurahan yang memiliki ruang observasi mandiri untuk pengamatan warga yang pulang kampung dari zona merah," terangnya.

Dalam konferensi pers yang digelar tadi malam, Gubernur Khofifah menyempatkan diri untuk bersapa dengan warga masyarakat yang tengah diobservasi di Jember Sport Garden (JSG) Kabupaten Jember.

Pasalnya saat ini di Jatim, Jember Sport Garden menjadi tempat observasi yang paling banyak menampung mereka para orang dalam pemantauan (ODP) yang pulang kampung. Total ada 382 orang yang kini sedang diobservasi di Jember Sport Garden. Padahal gedung ini berkapasitas 486 bed untuk ruang observasi.

Melalui video conference, Gubernur Khofifah memantau dan berdialog dengan mereka yang kini tengah menjalani masa observasi. “Bagaimana kondisi di sana, boleh diceritakan pengalamannya selama menjalani masa observasi,” tanya Khofifah.

Siti Rodiyah, warga Desa Tanjung Rejo Kabupaten Wuluhan Kabupaten Jember, yang diajak video conference oleh Gubernur Khofifah, mengatakan bahwa ia sudah 4 hari menjalani observasi di JSG. Ia mengikuti prosedur observasi setelah pulang dari tempat kerjanya di Maladewa.

“Saya baru 4 hari diobservasi, setelah pulang dari kerja di Maldives atau Maladewa. Jadi kurang 10 hari lagi baru bisa pulang kampung,” kata Rodiyah yang sudah 10 tahun bekerja di Maladewa.

Selama di karantina ia mengaku tak merasa kekurangan. Soal makanan, meski ia berharap lebih banyak mendapatkan asupan sayuran, namun menurutnya semua kebutuhan selama observasi sudah tercukupi sehingga ia merasa cukup nyaman selama menjalani masa karantina.

Hal senada juga disampaikan oleh Nana Sudarna. Pria yang diobservasi karena baru pulang dari Jakarta ini mengaku sudah cukup dimudahkan. Pasalnya meski sedang dalam proses karantina, ia masih bisa ditengok oleh istri dengan tetap memenuhi standar prosedur kesehatan yang ada.

Pada Khofifah, Nana yang sehari-harinya di Jakarta bekerja sebagai kuli bangunan itu berharap agar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah karena ia terdampak kehilangan pekerjaan akibat COVID-19. “Saya mohon ada kompensasi bagi masyarakat kecil seperti saya, saya kehilangan pekerjaan karena wabah ini, tempat kerja saya berhenti beroperasi,” katanya.

Mendengar keluhan itu, Khofifah menjelaskan bahwa Pemprov Jatim sudah menyiapkan dana bantuan sosial bagi warga terdampak COVID-19. Namun sistem penyalurannya ada di pemerintah kabupaten kota. “Ada bantuan Pemprov Jatim, kita distribusikan lewat kabupaten kota," ujarnya.
(mpw)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1831 seconds (10.55#12.26)