Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Imbas Mudik Dilarang, Hotel di Jabar Pun Kosong Melompong Tanpa Tamu

loading...
Imbas Mudik Dilarang, Hotel di Jabar Pun Kosong Melompong Tanpa Tamu
Kebijakan larangan mudik Lebaran 2021 berimbas langsung terhadap bisnis perhotelan di Jabar. Banyak hotel mengalami zero occupancy. Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOnews
BANDUNG - Kebijakan larangan mudik Lebaran berimbas langsung terhadap sektor bisnis perhotelan di Jabar . Hal itu ditandai dengan banyaknya hotel yang kosong melompong tanpa tamu atau zero occupancy sejak kebijakan tersebut diterapkan.

Baca juga: Hari Lebaran, Viral Video Komplotan Maling Berbaju Koko dan Berpeci Bobol Rumah

Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, hingga Jumat (14/5/2021), banyak hotel di Jabar yang mengalami zero occupancy. Kondisi tersebut telah terjadi sejak sepekan terakhir.

Baca juga: Gagal Terobos Perbatasan Blitar, 1.326 Kendaran Pemudik Dipaksa Putar Balik



"Selain imbas kebijakan larangan mudik, kondisi tersebut juga disebabkan karena larangan berwisata, khususnya di wilayah zona merah dan oranye," ungkap Ketua PHRI Jabar, Herman Muchtar, Jumat (15/4/2021).

Dia mencontohkan, kondisi zero occupancy dialami sejumlah hotel di kawasan Cihampelas, Kota Bandung. Selain itu, sejumlah hotel di Kota Tasikmalaya pun mengalami nasib yang sama. "Ada beberapa hotel dalam satu minggu ini zero okupansi, biasanya tidak pernah hotel zero okupansi, sekarang ini terjadi," lanjut Herman.

Lebih lanjut Herman mengatakan, selama pandemi COVID-19 melanda, pergerakan wisatawan di Jabar sulit diprediksi. Kondisi tersebut mengakibatkan para pelaku bisnis perhotelan kesulitan mempertahankan bisnis hotelnya.

"Mengharapkan warga Kota Bandung menginap di hotel kalau dulu oke karena pembantunya pulang ke daerah. Tapi sekarang, pembantunya juga gak bisa pulang. Berarti kan dia ada tukang masak di rumah, mereka ga nginep di hotel," terang Herman mencontohkan kondisi yang sulit diprediksi itu.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, kata Herman, maka bakal semakin banyak hotel di Jabar yang bangkrut. Dia menyebutkan, banyak hotel di Jabar sudah tidak beroperasi, bahkan dijual akibat pemilik maupun pengelola hotel tak mampu menanggung beban operasional.

"Pengusaha tidak mungkin gak bayar gaji atau THR, makanya sekarang kan ada hotel yang dijual-dijual," imbuhnya.



Herman berharap, pemerintah segera memberikan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Pasalnya, sektor perhotelan menjadi sektor yang paling terdampak langsung pandemi COVID-19 dan harus segera bangkit.

"Kebijakan apa yang harus dilakukan kepada pengusaha setelah Lebaran, jangan pemerintah seolah tidak tahu masalah," tegasnya.

Herman menambahkan, upaya pemulihan ekonomi di tengah pembatasan aktivitas masyarakat harus terus dipikirkan oleh pemerintah. Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, kata Herman, harus disiapkan secara matang dan adil.

"Mari kita pikirkan, persiapkan agar COVID-19 segera berlalu. Minimal, Jabar mengeluarkan kebijakan yang bisa dipahami semua pihak agar ekonomi kembali bangkit," tandasnya.
(shf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top