alexa snippet

Cerita Pagi

Pulau Buru, Tempat Pembuangan Tahanan Politik G30S

Pulau Buru, Tempat Pembuangan Tahanan Politik G30S
Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru foto:Istimewa/idrommyharper.blogspot.com
A+ A-
PULAU BURU merupakan salah satu gugusan pulau di Kepulauan Maluku. Pulau ini memiliki luas 8.473,2 km persegi dengan panjang garis pantai 427,2 km. Pada masa Orde Baru, pulau itu dikenal sebagai salah satu Gulag-nya Indonesia.

Kata Gulag biasa digunakan untuk merujuk tempat pembuangan para tahanan politik, dan sebagai mekanisme untuk menindas oposisi terhadap rezim Orde Baru. Seperti diungkapkan Carmel Budiarjo, dalam bukunya Bertahan di Gulag Indonesia.

Ide pendirian Pulau Buru sendiri sebagai kamp konsentrasi berasal dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, saat menangani pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926-1927, yang mendirikan Pembuangan Boven Digul di Papua.

Pulau Buru menempati urutan ketiga gugusan pulau terbesar setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara, dan Pulau Seram di Maluku Tengah. Secara umum, Pulau Buru berupa perbukitan dan pegunungan dengan puncak tertinggi mencapai 2.736 m.

Areal kamp konsentrasi para tahanan politik di Pulau Buru adalah tanah cekung berbentuk sekop yang dikelilingi barikade tembok pegunungan yang bersambungan semak belukar. Dengan pertahanan yang kuat itu, pulau ini sangat sulit ditembus.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, Pulau Buru sangat tidak layak ditempati oleh manusia. Proses pembangunan di pulau itu akan berjalan sangat lambat. Tanahnya sangat muda dan kurang mengandung mineral-mineral yang dibutuhkan oleh pembangunan.

"Menurut pendapat saya, sebaiknya Pulau Buru ini dihutankan dan ditinggalkan selama seratus tahun.. Karena pulau ini tidak vulkanis dan terdiri dari savanah, yaitu padang rumput yang diselang-selingi oleh hutan-hutan kecil," terangnya.

Pramoedya merupakan salah satu tahanan politik Orde Baru yang pertama kali dikirim ke Pulau Buru, Agustus 1969, bersama penyair Rivai Apin dan Oey Hai Djoen. Dia juga orang terakhir yang meninggalkan pulau itu, pada 12 November 1979.

Sedikitnya ada 12.000 tahanan politik yang diasingkan ke Pulau Buru, sejak 1969, yang didatangkan bertahap sampai tahun 1976. Sebelum diasingkan ke Pulau Buru, mereka terlebih dahulu mendekam dalam berbagai rumah tahanan dan penjara.

Selama dalam penjara, para tahanan politik banyak mendapatkan siksaan fisik dan perilaku tidak manusiawi dari tentara. Akibat penyiksaan itu, tulang pelipis kiri Pramoedya bahkan mengalami retak dan membuatnya jadi tuli seumur hidup.

Menurut catatan Ernst Utrecht, jumlah tahanan politik yang ditahan sebelum dibuang ke Pulau Buru mencapai 250 ribu orang. Mereka ditahan karena dituduh terlibat dalam kudeta militer 1 Oktober 1965 atau Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Para tahanan politik itu dikelompokkan dalam beberapa kategori, yang pertama adalah Grup A. Mereka yang berada dalam kelompok ini dalam pandangan pemerintah terlibat G30S dan bisa diseret ke muka pengadilan. Kedua adalah Grup B.

Kelompok kedua ini dipercaya kuat oleh pemerintah sebagai pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau aktivisnya dan dicap penghianat bangsa. Tetapi terhadap mereka tidak ada tuduhan dan bukti kuat untuk dimajukan ke muka pengadilan.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top