Keris Kiai Ageng Bondoyudo, Jimat yang Dikubur bersama Jasad Pangeran Diponegoro
Kamis, 09 Februari 2023 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
"Tangguh melibatkan ciri khas, format atau model dari daerah asal keris dicipta. Sedang Mageti adalah penisbatan pada daerah Magetan, Jawa Timur. Makanya, penyebutannya Bondoyudo Tangguh Mageti,” jelasnya.
Dilanjutkan Imam Mubarok, leris Kiai Ageng Bondoyudo dibuat oleh Mpu Guno Sasmito atau Ki Guno Sasmito, yakni empu yang bertempat tinggal di Tegalrejo, Kabupaten Magetan.
Baca: Kisah Pangeran Diponegoro Perangi Belanda demi Kembalikan Hukum Islam
Mpu Guno Sasmito merupakan dzurriyah (keturunan) Mpu Supodriyo atau Mpu Supo yang ke-13. Dia hidup di masa Pakubuwono VI. Keris ini sangat tajam dan kuat, hingga bisa menembus baju besi.
Dalam pertemuan dengan Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro membawa keris Kiai Ageng Bondoyudo bersama dengannya. Seperti biasa, keris diselipkan dibagian depan pinggannya. Pertemuan pun berjalan lancar.
Tetapi, keberuntungan keris itu sirna, pada 28 Maret 1830. Jenderal De Kock tiba-tiba memerintahkan pasukannya menangkap Pangeran Diponegoro, saat perundingan masih berlangsung di Magelang, Jawa Tengah.
Selama dalam penangkapan itu, keris Kiai Ageng Bondoyudo tetap menemaninya. Bahkan hingga dia diasingkan ke Manado, pada tahun 1833, dan ke Makassar bersama 19 orang pengikutnya.
Saat Pangeran Diponegoro meninggal, pada 8 Januari 1855, keris Kiai Ageng Bondoyudo ikut dimakamkan bersama jasadnya. Sampai di sini ulasan Cerita Pagi, semoga bermanfaaat.
Dilanjutkan Imam Mubarok, leris Kiai Ageng Bondoyudo dibuat oleh Mpu Guno Sasmito atau Ki Guno Sasmito, yakni empu yang bertempat tinggal di Tegalrejo, Kabupaten Magetan.
Baca: Kisah Pangeran Diponegoro Perangi Belanda demi Kembalikan Hukum Islam
Mpu Guno Sasmito merupakan dzurriyah (keturunan) Mpu Supodriyo atau Mpu Supo yang ke-13. Dia hidup di masa Pakubuwono VI. Keris ini sangat tajam dan kuat, hingga bisa menembus baju besi.
Dalam pertemuan dengan Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro membawa keris Kiai Ageng Bondoyudo bersama dengannya. Seperti biasa, keris diselipkan dibagian depan pinggannya. Pertemuan pun berjalan lancar.
Tetapi, keberuntungan keris itu sirna, pada 28 Maret 1830. Jenderal De Kock tiba-tiba memerintahkan pasukannya menangkap Pangeran Diponegoro, saat perundingan masih berlangsung di Magelang, Jawa Tengah.
Selama dalam penangkapan itu, keris Kiai Ageng Bondoyudo tetap menemaninya. Bahkan hingga dia diasingkan ke Manado, pada tahun 1833, dan ke Makassar bersama 19 orang pengikutnya.
Saat Pangeran Diponegoro meninggal, pada 8 Januari 1855, keris Kiai Ageng Bondoyudo ikut dimakamkan bersama jasadnya. Sampai di sini ulasan Cerita Pagi, semoga bermanfaaat.
(san)
Lihat Juga :