Sebulan Berlalu, Korban Tragedi Kanjuruhan Masih Sakit dan Harus Bayar Biaya Perawatan

Jum'at, 04 November 2022 - 04:17 WIB
Saat tergantung ke pagar itulah, beruntung pagar dari besi roboh sehingga membuat kakinya bisa terlepas dan menyelamatkan diri, usai ia berteriak meminta tolong. Namun derita Mario ternyata tak cuma sampai di sana, benturan besi dan kakinya cukup parah sehingga divonis menembus bagian tulang. “Kata dokter tulangnya ada yang retak, sempat sesak napas juga kena gas air mata, sempat susah napas,” kata dia.

Pasca kejadian ia tidak memeriksakan diri ke rumah sakit, ia hanya diantar keluarganya ke bidan di daerah Sukun untuk dilakukan perawatan. Di bidan tersebut, keluarganya juga harus merogoh kocek pribadi sebesar Rp 450 ribu untuk perawatan di lukanya, belum termasuk biaya kontrol.

“Sebelumnya dijahit di bidan Sukun, habis 250 ribu, dua hari sekali harus kontrol bayar 100 ribu, di rumah sakit ditarik Rp 480 ribu periksa sekali. Sudah melakukan pendataan tapi tetap ditarik, sudah bilang korban tragedi Kanjuruhan tetap ditarik,” bebernya.

Baca juga: Ketua PSSI Iwan Bule Dicecar 35 Pertanyaan Terkait Tragedi Kanjuruhan

Dirinya mengungkapkan sudah dilakukan pendataan, tetapi pengakuannya tak ada surat keterangan atau surat pengantar dari dinas kesehatan untuk dirinya yang menyatakan sebagai korban tragedi Kanjuruhan. Padahal ia sudah mendapat surat pengantar dari RT RW setempat yang menyatakan ia memang korban dari tragedi Kanjuruhan.

Hal itulah yang membuat keluarga memutuskan tidak melakukan operasi sesuai saran dari dokter di RST Soepraoen Malang, dikarenakan ketiadaan biaya. “Sama keluarga nggak diizinkan operasi, berobat jalan saja katanya,” ungkapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!