Lockdown, Warga Guatemala dan El Salvador Terancam Kelaparan
Jum'at, 22 Mei 2020 - 17:32 WIB
"Kami menggunakannya karena kami membutuhkan makanan. Kami tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada anak-anak kami, dan tidak bisa membayar kamar kami," ujarnya.
Sistem pengkodean warna telah dikembangkan di Guatemala. Bendera merah menunjukkan obat-obatan diperlukan, hitam memperingatkan polisi untuk aksi kekerasan, dan yang kuning untuk penyerangan terhadap anak-anak.
Guatemala telah melaporkan 45 kematian dan 2.265 infeksi dari virus, sementara El Salvador telah mengkonfirmasi 32 kematian dan 1.640 kasus. Negara tetangga Honduras, tempat orang miskin juga pergi mengemis makanan, telah mendaftarkan 3.100 kasus dan 151 kematian.
Secara tradisional, mereka yang tidak melihat masa depan untuk diri mereka sendiri di tiga negara, yang telah lama dirundung kekerasan, telah beremigrasi ke Amerika Serikat dengan segala cara yang mungkin.
Maria Jauria, seorang ibu rumah tangga berusia 21 tahun dan ibu dari dua anak yang tinggal di bagian pusat Guatemala, Chimaltenango, mengatakan ada begitu sedikit pekerjaan sehingga suaminya yang tukang batu harus mulai menjual barang-barang yang ia butuhkan untuk pekerjaannya.
"Kami sudah 'pacaran' dengan bendera putih selama sebulan, dan ya, beberapa orang telah membantu kami membawa makanan. Tapi kenyataannya adalah, suamiku telah menjual alat-alatnya sehingga kami memiliki sesuatu untuk dimakan," tukasnya.
Sistem pengkodean warna telah dikembangkan di Guatemala. Bendera merah menunjukkan obat-obatan diperlukan, hitam memperingatkan polisi untuk aksi kekerasan, dan yang kuning untuk penyerangan terhadap anak-anak.
Guatemala telah melaporkan 45 kematian dan 2.265 infeksi dari virus, sementara El Salvador telah mengkonfirmasi 32 kematian dan 1.640 kasus. Negara tetangga Honduras, tempat orang miskin juga pergi mengemis makanan, telah mendaftarkan 3.100 kasus dan 151 kematian.
Secara tradisional, mereka yang tidak melihat masa depan untuk diri mereka sendiri di tiga negara, yang telah lama dirundung kekerasan, telah beremigrasi ke Amerika Serikat dengan segala cara yang mungkin.
Maria Jauria, seorang ibu rumah tangga berusia 21 tahun dan ibu dari dua anak yang tinggal di bagian pusat Guatemala, Chimaltenango, mengatakan ada begitu sedikit pekerjaan sehingga suaminya yang tukang batu harus mulai menjual barang-barang yang ia butuhkan untuk pekerjaannya.
"Kami sudah 'pacaran' dengan bendera putih selama sebulan, dan ya, beberapa orang telah membantu kami membawa makanan. Tapi kenyataannya adalah, suamiku telah menjual alat-alatnya sehingga kami memiliki sesuatu untuk dimakan," tukasnya.
(don)
Lihat Juga :