Sempat Telantar, ABK KM Krapu Lodi Segera Pulang ke Kampung Halaman

Sabtu, 26 Desember 2020 - 13:44 WIB
"ABK mendapat informasi perekrutan dari Facebook, namun ABK tidak ingat alamat Facebook maupun nomor telepon yang menghubungi. Dari percakapan Facebook, ABK mendapat penawaran upah per hari Rp30.000 ditambah dengan hasil pancing 5.000-6.000 per kilogram," ujar Rudibilah.

Setelah melakukan kesepakatan via Facebook, lanjutnya, ABK dari masing-masing daerah datang ke Muara Angke, Jakarta untuk memuat perbekalan yang disediakan oleh pengurus atas nama Adi untuk kemudian berangkat berlayar.

"Selama proses penempatan kerja, tidak ada kontrak kerja antara ABK dengan nahkoda maupun ABK dengan pengurus," ujarnya.

Para ABK kemudian berangkat melaut pada tanggal 28 November 2020 menggunakan KM Krapu Lodi dengan jumlah awak kapal sebanyak 14 orang yang dipimpin oleh Kapten Kapal Muhammad yang berasal dari Kandanghaur, Indramayu.

"Setelah 5 hari melaut, mesin kapal mati dan tidak bisa beroperasi seperti sediakala, sehingga kapal terombang-ambing di laut selama 8 hari. Selama mesin kapal mati, ABK berusaha menelepon pengurus dan diberitahukan bahwa bantuan baru bisa datang antara 2 sampai 4 hari, namun bantuan tidak kunjung datang karena kapal putus jangkar," bebernya.

"Kapal terbawa arus sampai ke perairan Kendal. Di sana bertemu dengan nelayan lokal kemudian minta tolong ke pengurus desa setempat untuk dimintai pertolongan ke Basarnas," sambung Rudibilah.

Setelah diselamatkan oleh Basarnas, para ABK kemudian dipulangkan oleh pengurus bernama Nano menggunakan travel ke Indramayu tanpa ada keterangan lebih lanjut dari pengurus. Namun, sesampainya di Indramayu, para ABK di tempatkan di penampungan penyalur dan selama di penampungan dimintai biaya tempat tinggal sebesar Rp100.000 per minggu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!