Kisah Heroik Pejuang Melawan Belanda dari Markas Rumah Limasan Jaya Wirya

Jum'at, 11 September 2020 - 04:56 WIB
Rumah tersebut dijadikan karena letaknya yang strategis untuk mengawasi pergerakan Belanda yang mendirikan markas di kawasan Bogem, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. (Baca juga: Tukang Jahit dan Ketua RW yang Berani Nantang Gibran di Pilkada Solo)

"Para pejuang, tentara dan Taruna MA melakukan penyerangan terhadap markas Belanda pada malam hari. Sebelum melakukan penyerangan, mereka berkumpul di rumah tersebut untuk menyusun strategi. Termasuk digunakan untuk menginterogasi mata-mata Belanda yang tertangkap," kata cucu Jaya Wirya, Soerdarjo (88).



Rumah tersebut juga digunakan singgah oleh Herman Johanes (Rektor UGM periode 1961-1966) yang waktu itu mendapat tugas dari Letkol Suharto untuk meledakkan jembatan di sekitar Kalasan guna menghambat pergerakan Belanda yang akan masuk ke Yogyakarta. Herman Johanes mendapat tugas itu, karena merupakan salah satu ahli ledak pejuang.

Herman Johanes pun dapat melaksanakan misinya dengan meledakan dua jembatan, yakni Tulung dan Bogem pada 15 Januari 1949. Akibatnya konvoi tentara Belanda yang datang dari arah Timur harus berputar arah lewat barat untuk masuk Yogyakarta. Atas jasa-jasanya, Herman Johannes dianugerahi pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!