Petani Kesulitan Dapatkan Pupuk Bersubsidi

Rabu, 18 Maret 2015 - 10:41 WIB
Petani Kesulitan Dapatkan...
Petani Kesulitan Dapatkan Pupuk Bersubsidi
A A A
BOJONEGORO - Para petani di Kabupaten Bojonegoro masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi saat masa tanam padi. Selain sulit didapatkan, harga jual pupuk bersubsidi di sejumlah kios juga mengalami kenaikan dari harga jual yang ditentukan pemerintah.

Menurut Hasim, petani Desa Banjarjo Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi sudah dirasakan sejak memasuki musim tanam padi tahun ini. Dia mengaku beberapa kali mendatangi kios pupuk di kelompok taninya, tetapi stok pupuk sering kosong. Karena itu, dia terpaksa membiarkan benih padi yang sudah terlanjur ditanam tidak dipupuk.

“Sebenarnya uangnya ada, tetapi barangnya yang tidak ada,” ungkap dia, kemarin. Para petani seperti dirinya sudah menyisihkan uang dari hasil panen padi pertama untuk biaya tanam kedua. Biaya tanam itu meliputi membeli benih padi, biaya traktor, biaya tanam, pemupukan, hingga perawatan. Untuk setiap hektare lahan padi rata-rata biaya tanam sekitar Rp3 juta.

Petani lainnya, Sutikno, warga Desa Simorejo Kecamatan Kanor, Bojonegoro, juga mengaku kesulitan mendapatkan pupuk. Meskipun saat ini dia sudah mendapatkan pupuk bersubsidi dari kios lokal di daerahnya, tetapi dengan harga yang mahal. Sutikno membeli dua jenis pupuk, yakni urea Rp97.000 per sak, padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp90.000 per sak. Sementara pupuk jenis SP 36, dia beli seharga Rp115.000 per sak, padahal HET hanya Rp100.000 per sak.

“Ya, mau bagaimana lagi, meski harganya mahal, ya tetap dibeli. Karena petani membutuhkan untuk memupuk padi,” kata dia. Menanggapi langka stok pupuk dan harganya yang di atas HET, Departemen GP3K Petrokimia Gresik, Ari Arsanto mengatakan, pihaknya segera meminta pemerintah mendistribusikan pupuk ke Bojonegoro.

Selain itu, dia meminta distributor maupun kelompok tani yang menjual pupuk diatas HET agar tidak diteruskan. ‘Karena ancamannya pidana dan diberhentikan menjual pupuk,” kata dia. Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Ahmad Djupari belum memberikan jawaban saat ditanya perihal kelangkaan pupuk di wilayahnya.

Seperti diketahui, harga eceran tertinggi jenis pupuk urea satu karung atau dengan berat 50 kilogram senilai Rp90.000, pupuk ZA berat 50 kilogram seharga Rp70.000, pupuk SP 36 berat 50 kg seharga Rp100.000, dan pupuk NPK /Phonska berat 50 kg seharga Rp115.000. Mayoritas para distributor maupun kios menjual pupuk bersubsidi itu diatas HET sehingga menuai keluhan dari para petani.

Muhammad roqib
(bbg)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
Berita Terkini
PPP Banten Gelar Mukerwil...
PPP Banten Gelar Mukerwil V, Fokus Konsolidasi Hadapi Verifikasi Pemilu 2029
2 menit yang lalu
Integrasi Pendidikan,...
Integrasi Pendidikan, Visitasi Rektorat UIN Jakarta Berjalan Lancar dan Tak Ganggu KBM
8 menit yang lalu
Insiden di Blok M, Kuasa...
Insiden di Blok M, Kuasa Hukum Selebgram MIA Beri Klarifikasi
14 menit yang lalu
Jadi Ruang Kolaborasi...
Jadi Ruang Kolaborasi Seniman, Menekraf Apresiasi ArtMoments Jakarta 2026
24 menit yang lalu
Mahasiswa hingga Dosen...
Mahasiswa hingga Dosen STIA Madinatul Ilmi Depok Ikuti Kegiatan Literasi Keuangan
34 menit yang lalu
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
1 jam yang lalu
Infografis
Akhir Tahun, Taiwan...
Akhir Tahun, Taiwan bakal Dapatkan HIMARS Baru dari AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved