Dituding potong dana BSM, kasek kembalikan sumbangan siswa
Minggu, 23 Maret 2014 - 14:37 WIB
Dituding potong dana BSM, kasek kembalikan sumbangan siswa
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Sekolah MAN 1 Watampone, Muslimin mengembalikan sejumlah dana sumbangan yang sebelumnya dibebankan kepada siswa miskin untuk pembangunan musalah sekolah itu.
Pengembalian dana tersebut dilakukan setelah sekolah ini ditenggarai ada pemotongan dana BSM yang diterima siswa dengan bermodus modus pembayaran pembangunan musalah.
Tak terkecuali siswa miskin penerima manfaat BSM di madrasah negeri tersebut.
"Dana sumbangan dari siswa kami kembalikan, agar masalah itu tidak berlarut-larut," ujarnya.
Muslimin mengatakan, pembayaran yang dikenakan kepada siswa tersebut berasal dari kesepakatan dengan orang tua siswa tersebut.
"Memang ada pembayaran sebesar Rp300 ribu, tapi itu adalah dana bersama untuk pembangunan musalah sekolah dan telah dibicarakan dengan orang tua siswa melalui komite sekolah, bahkan guru juga turut menyumbang," ujar Muslimin.
Pada saat ditetapkannya keputusan tersebut, kata dia, semua orang tua siswa telah diundang untuk ikut rapat dan menyepakatinya dan telah membayar.
Hanya saja, kata Muslimin beberapa siswa penerima manfaat BSM pada hari yang sama setelah pencairan BSM.
"Saya rasa disinilah persoalan teknisnya karena beberapa siswa membayar setelah menerima BSM tersebut," kilahnya.
Siswa penerima BSM tersebut, tegas dia, menerima secara utuh dana tersebut karena dari bank langsung ke rekening yang bersangkutan.
Sebelumnya sejumlah orangtua siswa MAN 1 Watampone mengeluhkan pemotongan BSM yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Dugaan Pemotongan tersebut dirasa membebani orang tua siswa. Selain itu orang tua siswa merasa pemotongan yang dilakukan oleh sekolah tidak ada dasarnya.
Informasi yang dihimpun Sindonews.com, setiap siswa penerima mendapatkan bantuan melalui program BSM sebesar Rp1 juta perorang.
Namun setelah siswa menerima BSM, pihak sekolah diduga langsung melakukan pemotongan BSM tersebut, dengan jumlah yang bervariasi mulai dari Rp350 hingga Rp600 ribu persiswa.
Pengembalian dana tersebut dilakukan setelah sekolah ini ditenggarai ada pemotongan dana BSM yang diterima siswa dengan bermodus modus pembayaran pembangunan musalah.
Tak terkecuali siswa miskin penerima manfaat BSM di madrasah negeri tersebut.
"Dana sumbangan dari siswa kami kembalikan, agar masalah itu tidak berlarut-larut," ujarnya.
Muslimin mengatakan, pembayaran yang dikenakan kepada siswa tersebut berasal dari kesepakatan dengan orang tua siswa tersebut.
"Memang ada pembayaran sebesar Rp300 ribu, tapi itu adalah dana bersama untuk pembangunan musalah sekolah dan telah dibicarakan dengan orang tua siswa melalui komite sekolah, bahkan guru juga turut menyumbang," ujar Muslimin.
Pada saat ditetapkannya keputusan tersebut, kata dia, semua orang tua siswa telah diundang untuk ikut rapat dan menyepakatinya dan telah membayar.
Hanya saja, kata Muslimin beberapa siswa penerima manfaat BSM pada hari yang sama setelah pencairan BSM.
"Saya rasa disinilah persoalan teknisnya karena beberapa siswa membayar setelah menerima BSM tersebut," kilahnya.
Siswa penerima BSM tersebut, tegas dia, menerima secara utuh dana tersebut karena dari bank langsung ke rekening yang bersangkutan.
Sebelumnya sejumlah orangtua siswa MAN 1 Watampone mengeluhkan pemotongan BSM yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Dugaan Pemotongan tersebut dirasa membebani orang tua siswa. Selain itu orang tua siswa merasa pemotongan yang dilakukan oleh sekolah tidak ada dasarnya.
Informasi yang dihimpun Sindonews.com, setiap siswa penerima mendapatkan bantuan melalui program BSM sebesar Rp1 juta perorang.
Namun setelah siswa menerima BSM, pihak sekolah diduga langsung melakukan pemotongan BSM tersebut, dengan jumlah yang bervariasi mulai dari Rp350 hingga Rp600 ribu persiswa.
(sms)