Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa

Jum'at, 31 Januari 2020 - 05:00 WIB
Lasem, Lokasi Pendaratan...
Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa
A A A
LASEM menyimpan sejarah dan kaya akan budaya. Deretan bangunan kuno hingga kini masih berdiri kokoh di sepanjang jalan dan gang masuk ke perkampungan.

Lasem merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah itu dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” ini juga menjadi rumah keberagaman. Di antaranya yakni masyarakatnya memiliki kesadaran toleransi yang tinggi, hidup berdampingan di atas perbedaan ras, suku dan agama.
Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa

Lasem dalam sejarahnya, tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa. Sehingga banyak perkampungan Tionghoa dengan bangunan rumah kuno yang unik, salah satunya di Jalan Karangturi. Sebagian lagi berada di Desa Soditan.

Sebanyak tiga kelenteng berdiri megah di kecamatan ini. Ketiganya yaitu Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dan Kelenteng Karangturi Po An Bio.

Menariknya, masyarakat Tionghoa dapat hidup beriringan dengan keturunan Jawa, bahkan kalangan santri. Terbukti, di Lasem juga terdapat puluhan pondok pesantren yang tua. Beberapa di antaranya bahkan bangunannya berarsitektur China. Seperti Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah di Soditan dan Ponpes Kauman di Jalan Karangturi.

“Kalau toleransi di Lasem itu jempol,” ujar salah seorang keturunan Tionghoa, Oenardi alias Oen Liang saat ditemui di rumahnya Jalan Karangturi, Kecamatan Lasem. Sejak lahir, kata pria berusia 60 tahun ini, tidak ada konflik antar suku, agama dan ras di Lasem. Mereka hidup berdampingan dan saling menghargai.
Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa

“Kalau ada orang Tionghoa meninggal, ya orang muslim ikut takziyah. Begitu sebaliknya. Di sini aman, nyaman. Di sini ada kelenteng, berdekatan dengan pesantren. Semua membaur saling menghormati,” tuturnya.

Dalam perayaan Imlek, Oenardi menambahkan, kelenteng terbuka bagi siapapun untuk saling bertemu dan menikmati makanan yang disajikan.“Wah, kalau pas Imlek banyak warga datang dari berbagai kalangan. Islam, Kristen dipersilakan mnikmati hidangan seperti kue keranjang. Asalkan sopan karena kelenteng tempat ibadah,” bebernya.

Pengasuh Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah, Gus Farih Fuadi menyampaikan bahwa sikap toleransi di Lasem sudah terjalin sejak lama. Ponpes yang diasuhnya itupun mulanya adalah bangunan tempat penginapan masyarakat Tionghoa. Bahkan pintu ruang tamu di pesantrennya pun masih terdapat tulisan China.

“Pesantren ini didirikan Abah saya sekitar tahun 1985 lalu. Dulunya ini bangunan untuk penginapan masyarakat Tionghoa. Dibeli Abah dan dijadikan pesantren. Dan pintu itu memang asli masih ada tulisan huruf China,” ungkapnya.

Selama ini, santrinya membaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak juga wisatawan datang ke pesantren ini untuk belajar bagaimana menjaga toleransi. “Alhamdulillah tidak pernah ada apa-apa. Semuanya saling melengkapi. Banyak yang datang ke sini menanyakan sejarah toleransi,” terang Gus Farih.

Kenyamanan dan ketenangan hidup di tengah keberagaman juga dirasakan kaum Nasrani. Di antara bangunan kuno Tionghoa di Desa Soditan berdiri dua Gereja, yakni Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Yesus Sejati. Pendeta Gereja Bethel Indonesia, Yonatan Kukuh mengaku dapat hidup aman dan nyaman di lingkungan beragam di Lasem.

“Toleransi di sini terbangun sudah sejak lama. Masyarakat dari berbagai suku, agama ini hidup berdampingan dan saling menghormati,” kata Yonatan.

Kehidupan toleransi di Lasem, menurutnya perlu dilestarikan. “Toleransi di Lasem bukan hanya sekadar wacana. Jadi, ini perlu dilestarikan,” katanya.
(shf)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Perbaikan Aceh Alami...
Perbaikan Aceh Alami Kemajuan Signifikan, Satgas PRR: Warga Mulai Tatap Masa Depan
11 menit yang lalu
Fundamental Solid, Perbanas...
Fundamental Solid, Perbanas Tegaskan Kesiapan Perbankan Dukung Ekonomi RI
17 menit yang lalu
Kapolda Riau Namai Anak...
Kapolda Riau Namai Anak Gajah Tesso Nilo Nona Seroja, Simbol Harapan Baru Konservasi
2 jam yang lalu
Pramono Buka Peluang...
Pramono Buka Peluang Tambah Golongan Penerima Tarif Gratis Transportasi Umum
2 jam yang lalu
Polres Jakpus Ungkap...
Polres Jakpus Ungkap Kasus Dugaan Pemerasan Pengusaha Muda
2 jam yang lalu
Enggan Bebani Daerah...
Enggan Bebani Daerah Penyangga soal Subsidi Transjabodetabek, Pramono: Minimal Renovasi Halte
2 jam yang lalu
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved