Situs Batu Kabayan dan Legenda Si Pahit Lidah

Minggu, 14 Februari 2016 - 05:00 WIB
Situs Batu Kabayan dan Legenda Si Pahit Lidah
Situs Batu Kabayan dan Legenda Si Pahit Lidah
A A A
Mendengar nama Si Pahit Lidah tentunya sebagian orang akan teringat dengan kutukan menjadi batu yang begitu melegenda di daerah Sumatera bagian Selatan.

Si Pahit Lidah adalah julukan bagi Pangeran Serunting dari Sumidang, Sumatera Selatan yang dipercaya merupakan anak keturunan raksasa yang namanya Putri Tenggang.

Dalam satu versi cerita diyakini jika Serunting adalah nenek moyang dari keturunan Suku Basemah yang tinggal di Sumatera Selatan bagian barat hingga Bengkulu. Serunting mempunyai kesaktian yang bisa mengutuk apapun menjadi batu, hingga dia dijuluki Si Pahit Lidah.

Salah satu Situs yang dipercaya berkaitan erat dengan Si Pahit Lidah adalah Batu Kabayan. Situs peninggalan zaman sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya diperkirakan sudah berusia ratusan tahun terletak di Desa Jepara, Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Namun situs ini kini hanya menyisakan puing-puing bekas reruntuhan.



Kepala UPTD Pariwisata Banding Agung, Benyamin mengakui jika kini kondisi Situs Batu Kebayan mulai terabaikan. Karena minimnya alokasi anggaran guna melakukan perawatan situs bersejarah tersebut.

Menurut Benyamin, Situs Batu Kabayan tersebut, sebenarnya pernah dilakukan penelitian oleh Arkeologi asal Jambi. Tetapi, penelitian dihentikan dan tidak diketahui penyebabnya, dan hingga kini belum dilanjutkan kembali.

"Candinya ini terbuat sejenis dari batu kapur, fondasi berdenah empat persegi panjang, panjang 9 meter dan lebar 8 meter. Sedangkan, untuk pondasinya terlihat pelipit sisi genta dan padma. Disekitarnya, tampak panil batu kaki candi, panil ini empat persegi, diatas panil polos," katanya, beberapa waktu lalu.

Batu Kabayan sendiri konon menurut cerita perwujudan dari sang pengantin wanita dan rombongan dikutuk oleh Si Pahit Lidah.

Awalnya, pengantin wanita diarak oleh rombongan menuju kediaman calon suaminya. Saat melintas, dari kejauhan yakni atas Gunung Seminung Si Pahit Lidah menyapa. Karena jaraknya yang jauh rombongan pengantin ini tidak menyahut panggilan Si Pahit Lidah.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1138 seconds (10.177#12.26)