Jika Mati, 3 Pembunuh Satu Keluarga di Medan Percaya Bertemu Bidadari
Minggu, 25 Oktober 2015 - 20:28 WIB
Jika Mati, 3 Pembunuh Satu Keluarga di Medan Percaya Bertemu Bidadari
A
A
A
MEDAN - Tiga pelaku pembunuhan sadis berinisial RR (24), Y (19), dan L (17) yang menggorok leher sepasang suami istri lanjut usia dan seorang cucunya, di Jalan Sei Padang, Medan, lebih siap untuk mati daripada hidup serba sulit.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, kuat dugaan kalau pelaku ini lebih takut hidup ketimbang mati. Karena kalau hidup pasti memikirkan hari esok mau makan apa, sedangkan jika mati akan dilayani oleh para bidadari," kata Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin, di ruang kerjanya, Minggu (25/10/2015).
Kepercayaan itu, sangat diyakini para tersangka sehingga mereka nekat menghabisi nyawa korban dengan cara sadis. Sedang Faktor utama yang memengaruhi pembunuhan diduga karena ekonomi yang serba sulit.
Di mana upah yang diterima ibu kandung ketiga tersangka dari keluarga korban hanya sekitar Rp600 ribu per bulan. Sedangkan para tersangka ini hanya bekerja sebagai buruh harian lepas.
“Ini diperkuat dari barang bukti yang kami sita dari tersangka. Apalagi, barang-barang yang diambil itu tidak semua perhiasan asli, begitu juga dengan beberapa unit HP bukannya yang harganya mahal,” terangnya.
Untuk barang bukti yang disita dari tersangka yakni 11 kalung, enam brosh, 27 gelang keroncong, 12 gelang, mutiara, enam kerabu, 28 cincin, lima mainan kalung, beberapa unit HP, laptop, kamera, 10 jam tangan, satu unit motor Mio milik tanpa plat, dan uang dolar yang sudah sempat ditukarkan.
“Selain itu kami juga menyita sebilah pisau yang digunakan untuk menikam dan menggorok leher korban,” jelasnya.
Mantan Wadir Ditreskrimsus Polda Sumut itu melanjutkan, pelaku utama dalam pembunuhan berencana tersebut adalah RR, begitu juga dengan eksekutornya. Sebab, alat bukti yang digunakan hanya sebilah pisau yang dibawa dan dipersiapkan tersangka.
“Otak pelakunya berinisial RR. Dialah yang mengatur siasat itu, pada 19 Oktober 2015. Namun, tersangka baru beraksi pada 23 Oktober 2015 setelah mengajak kedua adiknya Y dan L,” pungkasnya.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, kuat dugaan kalau pelaku ini lebih takut hidup ketimbang mati. Karena kalau hidup pasti memikirkan hari esok mau makan apa, sedangkan jika mati akan dilayani oleh para bidadari," kata Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin, di ruang kerjanya, Minggu (25/10/2015).
Kepercayaan itu, sangat diyakini para tersangka sehingga mereka nekat menghabisi nyawa korban dengan cara sadis. Sedang Faktor utama yang memengaruhi pembunuhan diduga karena ekonomi yang serba sulit.
Di mana upah yang diterima ibu kandung ketiga tersangka dari keluarga korban hanya sekitar Rp600 ribu per bulan. Sedangkan para tersangka ini hanya bekerja sebagai buruh harian lepas.
“Ini diperkuat dari barang bukti yang kami sita dari tersangka. Apalagi, barang-barang yang diambil itu tidak semua perhiasan asli, begitu juga dengan beberapa unit HP bukannya yang harganya mahal,” terangnya.
Untuk barang bukti yang disita dari tersangka yakni 11 kalung, enam brosh, 27 gelang keroncong, 12 gelang, mutiara, enam kerabu, 28 cincin, lima mainan kalung, beberapa unit HP, laptop, kamera, 10 jam tangan, satu unit motor Mio milik tanpa plat, dan uang dolar yang sudah sempat ditukarkan.
“Selain itu kami juga menyita sebilah pisau yang digunakan untuk menikam dan menggorok leher korban,” jelasnya.
Mantan Wadir Ditreskrimsus Polda Sumut itu melanjutkan, pelaku utama dalam pembunuhan berencana tersebut adalah RR, begitu juga dengan eksekutornya. Sebab, alat bukti yang digunakan hanya sebilah pisau yang dibawa dan dipersiapkan tersangka.
“Otak pelakunya berinisial RR. Dialah yang mengatur siasat itu, pada 19 Oktober 2015. Namun, tersangka baru beraksi pada 23 Oktober 2015 setelah mengajak kedua adiknya Y dan L,” pungkasnya.
(san)