Selalu Kesulitan Air, Sehari Hanya Dapat Dua Jeriken
Sabtu, 12 September 2015 - 10:42 WIB
Selalu Kesulitan Air, Sehari Hanya Dapat Dua Jeriken
A
A
A
MOJOKERTO - Jalanan berdebu menyambut pintu masuk menuju Desa Kunjorowesi. Sebuah desa berada di wilayah paling tinggi di antara desa lainnya di Kabupaten Mojokerto. Rasa tidak nyaman berkilokilo meter harus dirasakan saat menyusuri jalan ini.
Selain kondisi jalan yang rusak berat, setiap hari ratusan truk pengangkut pasir dan batu (sirtu) lalu-lalang di jalanan ini. Ceruk raksasa menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Akses menuju Desa Kunjorowesi memang menjadi pusat penambangan sirtu di kawasan kaki Gunung Penanggungan sisi utara, Kecamatan Ngoro. Jalanan selalu saja berdebu hingga mengotori setiap rumah penduduk.
Namun, warga tak berkeberatan. Warga yang mayoritas urban dari Pulau Madura itu memang menyandarkan hidup dari penambangan ini. Terus menapak hingga ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), terlihat masih banyak rumah penduduk yang bertengger. Tak merata memang.
Sebagian adalah rumah yang terbilang cukup bagus, tetapi tak sedikit pula bangunan rumah yang berdinding batu gunung. Sepanjang jalanan menuju kampung tertinggi, yakni Dusun Klagan, terbilang sulit ditempuh dengan kendaraan bermotor, terlebih roda empat. Jalanan yang sempit, menikung tajam, dan menanjak menjadikan kampung tertinggi itu sulit disentuh peradaban.
Berada di ketinggian gunung yang gersang, tentu saja menjadi masalah berlarut-larut bagi warga. Tak hanya di kemarau saja mereka kesulitan air bersih, musim hujan pun mereka mengalami derita yang sama. Tak hanya itu, warga juga tak bisa mengandalkan hasil pertanian karena kondisi tanah yang kering.
Berada di tengah-tengah hutan, tentu saja warga paceklik keramaian. Hanya suara hewan hutan yang menjadi hiburan setiap malam. Nyaris tak ada hiburan bagi warga selain bersenda gurau dengan sesama tetangga yang samasama dirundung sepi. Tak banyak pula warga di sini yang mengenyam pendidikan lantaran bangunan sekolah yang sangat jauh dan sulit ditempuh.
Dari kampung tertinggi, terlihat jelas wilayah Kabupaten Sidoarjo. Berada di kawasan ini, puncak Gunung Penanggungan sisi utara terlihat jelas. Hanya berselisih ratusan meter. ”Kalau warga di sini sudah terbiasa kekurangan air. Hanya ada tiga sumber sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan air bersih satu desa,” ujar Wariati, salah satu warga Dusun Sumber.
Dusun Sumber berada sekitar 300 meter di bawah Kampung Klagan. Warga di Dusun Sumber hanya mengandalkan satu tandon air yang berasal dari sumber air Desa Dlundung, Kecamatan Trawas. Dari pipa kecil, air mengalir dari lokasi puluhan kilometer. Praktis, debit air yang sampai di kampung ini tak lebih dari seliter setiap menitnya.
Belum lagi, sumber yang sama juga diambil ratusan rumah di kampung atas. ”Antre mulai Subuh, sore baru bisa diambil. Sehari hanya dua jeriken,” ungkapnya. Bagaimana dengan kebutuhan mandi, Wariati hanya tersenyum malu. Menurutnya, warga sudah terbiasa tak tersentuh air (tidak mandi). Itu karena satu-satunya sumber air yang bisa dipakai mandi, lokasinya sekitar 3 km dengan jalanan yang terjal.
”Dua hari sekali, sekalian mencuci pakaian. Itu pun harus antre berjam-jam baru bisa mandi,” tuturnya. Kepala Desa Kunjorowesi Darsono menyebut, sepanjang tahun warganya tak pernah lepas dari kesulitan air bersih. Setiap dusun hanya ada satu sumber air kecil yang berasal dari saluran pipa mini.
Pun saat musim hujan, saluran pipa ini kerap putus lantaran diterjang longsoran tanah. ”Kalau kemarau seperti ini, kami mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah dan organisasi sosial,” ungkap Darsono. Kemarin jajaran Polres Mojokerto memberikan bantuan tiga tangki air bersih ke kampung ini. Sebagian warga memiliki wadah khusus untuk menampung air saat musim hujan.
Namun, ini juga tak banyak membantu untuk memenuhi kebutuhan warga untuk dapur. Terlebih untuk mandi dan mencuci pakaian. ”Kalau musim kemarau seperti ini, kadang satu rumah hanya kebagian satu jeriken. Ya harus cukup karena memang kondisinya seperti ini,” paparnya. Dia menyebut tak banyak truk tangki air yang mau masuk ke kampung dengan alasan jalur yang sulit dilalui.
Tritus Julan
Selain kondisi jalan yang rusak berat, setiap hari ratusan truk pengangkut pasir dan batu (sirtu) lalu-lalang di jalanan ini. Ceruk raksasa menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Akses menuju Desa Kunjorowesi memang menjadi pusat penambangan sirtu di kawasan kaki Gunung Penanggungan sisi utara, Kecamatan Ngoro. Jalanan selalu saja berdebu hingga mengotori setiap rumah penduduk.
Namun, warga tak berkeberatan. Warga yang mayoritas urban dari Pulau Madura itu memang menyandarkan hidup dari penambangan ini. Terus menapak hingga ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), terlihat masih banyak rumah penduduk yang bertengger. Tak merata memang.
Sebagian adalah rumah yang terbilang cukup bagus, tetapi tak sedikit pula bangunan rumah yang berdinding batu gunung. Sepanjang jalanan menuju kampung tertinggi, yakni Dusun Klagan, terbilang sulit ditempuh dengan kendaraan bermotor, terlebih roda empat. Jalanan yang sempit, menikung tajam, dan menanjak menjadikan kampung tertinggi itu sulit disentuh peradaban.
Berada di ketinggian gunung yang gersang, tentu saja menjadi masalah berlarut-larut bagi warga. Tak hanya di kemarau saja mereka kesulitan air bersih, musim hujan pun mereka mengalami derita yang sama. Tak hanya itu, warga juga tak bisa mengandalkan hasil pertanian karena kondisi tanah yang kering.
Berada di tengah-tengah hutan, tentu saja warga paceklik keramaian. Hanya suara hewan hutan yang menjadi hiburan setiap malam. Nyaris tak ada hiburan bagi warga selain bersenda gurau dengan sesama tetangga yang samasama dirundung sepi. Tak banyak pula warga di sini yang mengenyam pendidikan lantaran bangunan sekolah yang sangat jauh dan sulit ditempuh.
Dari kampung tertinggi, terlihat jelas wilayah Kabupaten Sidoarjo. Berada di kawasan ini, puncak Gunung Penanggungan sisi utara terlihat jelas. Hanya berselisih ratusan meter. ”Kalau warga di sini sudah terbiasa kekurangan air. Hanya ada tiga sumber sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan air bersih satu desa,” ujar Wariati, salah satu warga Dusun Sumber.
Dusun Sumber berada sekitar 300 meter di bawah Kampung Klagan. Warga di Dusun Sumber hanya mengandalkan satu tandon air yang berasal dari sumber air Desa Dlundung, Kecamatan Trawas. Dari pipa kecil, air mengalir dari lokasi puluhan kilometer. Praktis, debit air yang sampai di kampung ini tak lebih dari seliter setiap menitnya.
Belum lagi, sumber yang sama juga diambil ratusan rumah di kampung atas. ”Antre mulai Subuh, sore baru bisa diambil. Sehari hanya dua jeriken,” ungkapnya. Bagaimana dengan kebutuhan mandi, Wariati hanya tersenyum malu. Menurutnya, warga sudah terbiasa tak tersentuh air (tidak mandi). Itu karena satu-satunya sumber air yang bisa dipakai mandi, lokasinya sekitar 3 km dengan jalanan yang terjal.
”Dua hari sekali, sekalian mencuci pakaian. Itu pun harus antre berjam-jam baru bisa mandi,” tuturnya. Kepala Desa Kunjorowesi Darsono menyebut, sepanjang tahun warganya tak pernah lepas dari kesulitan air bersih. Setiap dusun hanya ada satu sumber air kecil yang berasal dari saluran pipa mini.
Pun saat musim hujan, saluran pipa ini kerap putus lantaran diterjang longsoran tanah. ”Kalau kemarau seperti ini, kami mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah dan organisasi sosial,” ungkap Darsono. Kemarin jajaran Polres Mojokerto memberikan bantuan tiga tangki air bersih ke kampung ini. Sebagian warga memiliki wadah khusus untuk menampung air saat musim hujan.
Namun, ini juga tak banyak membantu untuk memenuhi kebutuhan warga untuk dapur. Terlebih untuk mandi dan mencuci pakaian. ”Kalau musim kemarau seperti ini, kadang satu rumah hanya kebagian satu jeriken. Ya harus cukup karena memang kondisinya seperti ini,” paparnya. Dia menyebut tak banyak truk tangki air yang mau masuk ke kampung dengan alasan jalur yang sulit dilalui.
Tritus Julan
(ftr)