Ini Panggilan Jiwa dan Tugas Negara

Kamis, 20 Agustus 2015 - 09:21 WIB
Ini Panggilan Jiwa dan...
Ini Panggilan Jiwa dan Tugas Negara
A A A
SURABAYA - Putra Bentar Jalu menangis di gendongan ibunya, Tursinah. Bocah 4 tahun itu tahu bahwa bapaknya, Kopda Mes Eko Sapto Ànggoro, akan pergi meninggalkannya selama setahun.

Begitu juga sang ibu, air matanya menetas seakan tidak rela suaminya pergi. Namun, karena ini tugas negara, Tursinah akhirnya merelakan suaminya pergi. Eko Sapto yang merupakan awak Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo- 357 bertolak ke Lebanon kemarin.

Eko di antara 107 personel Armada Kawasan Timur (Armatim) RI yang akan bergabung dengan Satgas Maritime Task Force (MTF) lain dari banyak negara. Keberangkatan Eko Sapto dilepas istrinya, Tursinah, yang sengaja datang dari kampung di Pekalongan, Jateng.

Dalam menjalankan tugas sehari-hari, Eko Sapto terbiasa berpisah jauh dari keluarga. Dia tinggal di Mes Kompleks Armatim, sedangkan istri dan anaknya di kampung halaman, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Bagi Eko yang mengabdikan diri di TNI AL sejak 2008, dinas ke luar negeri ini adalah panggilan jiwa.

Terlebih, untuk bisa terpilih sebagai pasukan perdamaian, dia harus melalui berbagai tes, mulai bahasa Inggris, komputer, hingga lainnya. Lain halnya dengan Koptu Lis Panca Karyawan. Bagi dia, tugas ke luar negeri ini adalah yang keempat kalinya. Bahkan, saat anak keduanya lahir, Nataniela Cinta Paraya, dia tengah bertugas di Lebanon.

”Kenapa nama anak kedua saya ada Paraya? Paraya itu nama gunung di Lebanon. Menjelang kelahiran anak kedua, saya sempat telepon istri supaya memasukan Paraya dalam nama anak,” tutur Panca Karyawan seraya menggendong Cinta yang menginjak usia 3 tahun.

Sang istri, Maria Desi Sutanti, tidak kaget dengan keberadaan suaminya yang kembali bertugas ke luar negeri. ”Ini tugas negara. Tahun 2012, suami juga dinas ke Lebanon,” kata Maria. Sebelumnya Panca Karyawan juga pernah mengambil kapal KRI Sutan Iskandar Muda di Belanda selama delapan bulan.

Mengambil KRI Bung Tomo dari Inggris selama 10 bulan pada 2014. ”Saya dan keluarga berdoa saja supaya semua bisa kembali pulang dengan selamat. Di sana daerah konflik, saling mendoakan saja,” tutur Maria. Selama ditinggal suami bertugas, Maria tinggal bersama orang tuanya di Ngagel Dadi, Surabaya. Anak kedua dan pertama, Riyanata Kasih Christanti, 5, menjadi teman sekaligus hiburan saat sang kepala keluarga bertugas untuk negara.

Dr Sinta, istri Kapten pnb Muhammad Amar Alfatir, kemarin juga ada di Dermaga Madura, Koarmatim. Dia melepas keberangkatan suaminya yang merupakan pilot helikopter yang ikut dalam misi tersebut. Amar Alfatir merupakan anggota Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal).

KRI Bung Tomo-357 yang membawa 107 personel di bawah pimpinan Kolonel (P) Yayan Sofiyan. Kapal yang mengenakan nama pahlawan pembakar semangat Arek Suroboyo ini akan menuju Jakarta, Belawan, Medan, Koci India, Oman, dan Mesir. 31 September 2015 dijadwalkan tiba di Lebanon, bergabung dengan United Nation Interim Forces (Unifil) di Lebanon, pasukan perdamaian PBB.

Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto menyatakan misi Satgas Perdamaian Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIIIH/ Unifil melaksanakan tugas perdamaian dunia. ”Ada misi darat, udara, dan laut. Ini melaksanakan pengamanan di perairan Lebanon,” kata Darwanto.

Perwira tinggi bintang dua ini menyebut tugas kontingen ini adalah patroli dan istirahat. ”Waktu dinas setahun. Dua bulan perjalanan berangkat dan pulang, 10 bulan berdinas operasional.,” ungkap Darwanto. Karena lebih lama dibanding kontingen sebelumnya yang berangkat menggunakan KRI Sutan Iskandar Muda, tugas patroli kontingen XXVIII lebih banyak. Bisa sampai 50 patroli yang diselingi istirahat.

”Kapal kita harus siap semua sensor. Mulai senjata, alat komunikasi, hingga helikopter harus siap. Semua sudah melalui pemeriksaan dari PBB guna mendukung operasi permukaan air, dalam air dan udara,” tandasnya.

Setiap menjalankan pelayaran ke luar negeri, pasukan mengemban misi diplomasi. ”Prajurit kita dulu dikenal bengis di luar negeri, dikenal tukang membunuh. Iya itu dalam perang. Tapi dalam pergaulan dikenal ramah-tamah,” pungkas Darwanto.

Kuota personel keamanan PBB dari tahun ke tahun untuk Armatim 107 orang. Jika ingin menambah, harus dikoordinasikan dengan PBB.

SOEPRAYITNO
(ftr)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Berita Terkini
MNC Peduli Salurkan...
MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Kebakaran di Kemayoran
12 jam yang lalu
Pendidikan Dinilai Kunci...
Pendidikan Dinilai Kunci Pelestarian Budaya, Yulius Aho Salurkan Beasiswa
12 jam yang lalu
Sidang Gugatan PPP,...
Sidang Gugatan PPP, Saksi Sebut SK Plt Maluku Cacat Hukum
12 jam yang lalu
PNM Komitmen Hadirkan...
PNM Komitmen Hadirkan Layanan Berlandaskan Keadilan Sosial
13 jam yang lalu
Rano Karno Apresiasi...
Rano Karno Apresiasi Perbaikan Saluran Air di Lenteng Agung Kelar 5 Hari, Jalan Arah Depok Bisa Dilalui
16 jam yang lalu
Sengketa Satuan Pendidikan...
Sengketa Satuan Pendidikan Tuntas, UIN Jakarta: Proses Integrasi Disepakati Bersama
16 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved