Lahir 18 Januari, Sastrawan Iwan Simatupang Jadi Lawan Tangguh Lekra
Rabu, 18 Januari 2023 - 06:40 WIB
loading...
A
A
A
Kisah-kisah yang dibangun Iwan Simatupang tidak memberikan ruang lapang untuk pahlawan. Juga tak bertema sekaligus tak mempedulikan moral. Tokoh utamanya selalu laki-laki.
Tokohnya selalu tak beridentitas atau nama pribadi, kecuali sebutan profesi atau alias. Iwan Simatupang juga lebih menyukai frase panggilan “tokoh kita”. Ada tokoh kita di cerita Ziarah. Begitu juga di kisah Merahnya Merah dan lainnya.
Karya Iwan Simatupang dianggap ganjil dan menuai banyak pujian sekaligus kecaman. Mungkin semua itu dipengaruhi filsafat eksistensialisme dan fenomenologi yang dianutnya.
“Sastrawan ini secara kontroversial telah mengguncang dunia kesusasteraan Indonesia modern menjelang akhir dekade 1960-an dengan novel-novelnya,” tulis Kurnia Jr dalam buku “Inspirasi? Nonsens!, Novel-novel Iwan Simatupang”.
Iwan tak pernah gentar menghadapi orang-orang Lekra. Ia dipandang sebagai salah satu lawan yang tangguh. Pesannya kepada B. Soelarto terkait sikapnya kepada Lekra: “Kerendahan hati, kesetimbangan, kesediaan memberi maaf, dan mencipta, mencipta, mencipta terus, makin baik, makin banyak. Inilah senjata-senjata paling ampuh melawan mereka, Larto! Sambil menantikan saatnya yang paling tepat untuk bertindak tegas dan menentukan!”.
Iwan Simatupang sempat terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Surabaya. Kuliah hanya sampai tahun 1953 dan tak pernah dirampungkannya. Iwan bertolak ke Paris untuk menekuni filsafat. Ilmu drama ditimbanya di Leiden Belanda.
Tokohnya selalu tak beridentitas atau nama pribadi, kecuali sebutan profesi atau alias. Iwan Simatupang juga lebih menyukai frase panggilan “tokoh kita”. Ada tokoh kita di cerita Ziarah. Begitu juga di kisah Merahnya Merah dan lainnya.
Karya Iwan Simatupang dianggap ganjil dan menuai banyak pujian sekaligus kecaman. Mungkin semua itu dipengaruhi filsafat eksistensialisme dan fenomenologi yang dianutnya.
“Sastrawan ini secara kontroversial telah mengguncang dunia kesusasteraan Indonesia modern menjelang akhir dekade 1960-an dengan novel-novelnya,” tulis Kurnia Jr dalam buku “Inspirasi? Nonsens!, Novel-novel Iwan Simatupang”.
Iwan tak pernah gentar menghadapi orang-orang Lekra. Ia dipandang sebagai salah satu lawan yang tangguh. Pesannya kepada B. Soelarto terkait sikapnya kepada Lekra: “Kerendahan hati, kesetimbangan, kesediaan memberi maaf, dan mencipta, mencipta, mencipta terus, makin baik, makin banyak. Inilah senjata-senjata paling ampuh melawan mereka, Larto! Sambil menantikan saatnya yang paling tepat untuk bertindak tegas dan menentukan!”.
Iwan Simatupang sempat terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Surabaya. Kuliah hanya sampai tahun 1953 dan tak pernah dirampungkannya. Iwan bertolak ke Paris untuk menekuni filsafat. Ilmu drama ditimbanya di Leiden Belanda.
Lihat Juga :