Kisah Panembahan Senopati 3 Hari 3 Malam Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Rabu, 04 Januari 2023 - 18:07 WIB
loading...
A
A
A
Induk Babad Tanah Jawi mula-mula ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno, atas perintah Paku Bowono III, dan telah beredar pada 1788. Johannes Jacobus Meinsma lantas menerbitkan versi prosa dari induk tersebut pada 1874, yang dikerjakan Ngabehi Kertapraja.
Karya Meinsma direproduksi oleh W L Olthof pada 1941. Namun menurut Merle Calvin Ricklefs, versi Meinsma dianggap bukan sumber utama untuk riset sejarah. Dia justru mengakui edisi Olthof. Induk Babad Tanah Jawi juga ditulis Carik Adilangu II yang hidup di masa Paku Buwono I, dan Paku Buwono II bertahun 1722.
Baca juga: Kisah Kecantikan Putri Sunda yang Membuat 2 Pimpinan Tertinggi Majapahit Berselisih
Bukan tanpa alasan Penembahan Senopati mendatangi Laut Selatan. Langkah kakinya atas perintah pamannya, Ki Juru Martani. Panembahan Senopati memang sedang gundah gulana. Dia tak henti berpikir kapan menjadi raja yang menguasai seluruh tanah Jawa, turun-temurun hingga anak cucu.
Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, suatu ketika Ki Juru Martani menghampiri Panembahan Senopati yang sedang tiduran di Lipura. Tiba-tiba jatuh bintang bercahaya di dada keponakannya itu.
Bintang yang sinarnya terang benderang itu, lantas berucap memberitahukan bahwa Panembahan Senopati akan menjadi raja di Mataram tanpa tanding. Disegani oleh musuh dan kaya raya.
Wangsit dari bintang itu tak urung membuat Raden Bagus Dananjaya atau Raden Ngabehi Saloring Pasar (nama Panembahan Senopati) gelisah. Dalam pikirannya, sudah waktunya dia mengambil alih Kerajaan Pajang.
Kegelisahan itu ditangkap Ki Juru Martani. Dia mengingatkan, ucapan bintang bercahaya itu tak lain suara gaib yang belum tentu benar. Panembahan Senopati pun bingung.
Baca juga: Asyik Selingkuh di Hotel, Bu Guru Kedapatan Hanya Pakai Kemben Bersama Pak Kades
Karya Meinsma direproduksi oleh W L Olthof pada 1941. Namun menurut Merle Calvin Ricklefs, versi Meinsma dianggap bukan sumber utama untuk riset sejarah. Dia justru mengakui edisi Olthof. Induk Babad Tanah Jawi juga ditulis Carik Adilangu II yang hidup di masa Paku Buwono I, dan Paku Buwono II bertahun 1722.
Baca juga: Kisah Kecantikan Putri Sunda yang Membuat 2 Pimpinan Tertinggi Majapahit Berselisih
Bukan tanpa alasan Penembahan Senopati mendatangi Laut Selatan. Langkah kakinya atas perintah pamannya, Ki Juru Martani. Panembahan Senopati memang sedang gundah gulana. Dia tak henti berpikir kapan menjadi raja yang menguasai seluruh tanah Jawa, turun-temurun hingga anak cucu.
Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, suatu ketika Ki Juru Martani menghampiri Panembahan Senopati yang sedang tiduran di Lipura. Tiba-tiba jatuh bintang bercahaya di dada keponakannya itu.
Bintang yang sinarnya terang benderang itu, lantas berucap memberitahukan bahwa Panembahan Senopati akan menjadi raja di Mataram tanpa tanding. Disegani oleh musuh dan kaya raya.
Wangsit dari bintang itu tak urung membuat Raden Bagus Dananjaya atau Raden Ngabehi Saloring Pasar (nama Panembahan Senopati) gelisah. Dalam pikirannya, sudah waktunya dia mengambil alih Kerajaan Pajang.
Kegelisahan itu ditangkap Ki Juru Martani. Dia mengingatkan, ucapan bintang bercahaya itu tak lain suara gaib yang belum tentu benar. Panembahan Senopati pun bingung.
Baca juga: Asyik Selingkuh di Hotel, Bu Guru Kedapatan Hanya Pakai Kemben Bersama Pak Kades
Lihat Juga :