Perempuan Golkar Bersatu Dampingi LPA Jatim Asesmen Psikis ke 38 Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan
Kamis, 24 November 2022 - 14:29 WIB
loading...
A
A
A
Dari ungkapan yang disampaikan para keluarga korban melalui kertas yang tertempel dalam pohon harapan dan pohon kekhawatiran, para keluarga penyintas tragedi Kanjuruhan mengungkap keluh kesah mereka. Sejumlah tulisan mulai dari kekhawatiran kepada anak dan cucunya disampaikan.
Baca juga: Kesaksian Nur Saguwanto Korban Tragedi Kanjuruhan, Kaki Patah Muka Melepuh dan Sesak Napas
"Takut kalau ini tidak nyata, takut masa depan dia tidak terwujud sesuai apa yang dia inginkan, takut dia terjerumus ke pergaulan yang tidak semestinya ia jalani karena banyaknya pergaulan bebas di luar sana," tulis keluarga korban di selembar kertas saat proses asesmen psikologis.
"Khawatir anaknya malu dan minder, khawatir anak gak mau sekolah karena minder soalnya ada bekas cacat di badannya. Khawatir pendidikannya tidak maksimal, cucu saya trauma bertemu orang lain, khawatir nasib sekolah dan hidup sehari-hari karena ditinggal ayahnya," tulisan salah satu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan kembali.
Sementara itu sejumlah pohon harapan berisi harapan - harapan ke depan anaknya juga disampaikan. "Mohon keadilan bagi anak saya seadil-adilnya, semoga acara ini membawa kebahagiaan bagi anak yang ditinggalkan untuk menghilangkan duka," demikian tulisan para keluarga korban.
Selain itu keluarga korban juga berharap anak mereka bisa terbebas dari trauma dan bisa berkembang dengan baik, serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk dia dan keluarganya, tercapai segala apa yang dia inginkan.
Baca juga: Kesaksian Nur Saguwanto Korban Tragedi Kanjuruhan, Kaki Patah Muka Melepuh dan Sesak Napas
"Takut kalau ini tidak nyata, takut masa depan dia tidak terwujud sesuai apa yang dia inginkan, takut dia terjerumus ke pergaulan yang tidak semestinya ia jalani karena banyaknya pergaulan bebas di luar sana," tulis keluarga korban di selembar kertas saat proses asesmen psikologis.
"Khawatir anaknya malu dan minder, khawatir anak gak mau sekolah karena minder soalnya ada bekas cacat di badannya. Khawatir pendidikannya tidak maksimal, cucu saya trauma bertemu orang lain, khawatir nasib sekolah dan hidup sehari-hari karena ditinggal ayahnya," tulisan salah satu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan kembali.
Sementara itu sejumlah pohon harapan berisi harapan - harapan ke depan anaknya juga disampaikan. "Mohon keadilan bagi anak saya seadil-adilnya, semoga acara ini membawa kebahagiaan bagi anak yang ditinggalkan untuk menghilangkan duka," demikian tulisan para keluarga korban.
Selain itu keluarga korban juga berharap anak mereka bisa terbebas dari trauma dan bisa berkembang dengan baik, serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk dia dan keluarganya, tercapai segala apa yang dia inginkan.
Lihat Juga :