alexametrics

Tak Terima Anaknya Ditembak Oknum Polisi, Kasat Reskrim Langkat Dilaporkan ke Polda Sumut

loading...
Tak Terima Anaknya Ditembak Oknum Polisi, Kasat Reskrim Langkat Dilaporkan ke Polda Sumut
Ketua Himpunan Putra Putri Keluarga TNI Angkatan Darat (HIPAKAD) Langkat, Roslila, melaporkan Kasat Reskrim Polres Langkat ke Bid Propam Polda Sumut. (Foto/Inews TV/A RAsyid)
A+ A-
MEDAN - Roslila (50) warga Lingkungan III Sejahtera, Kelurahan Dendang, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tak terima anaknya Satria Mandala alias Rambo disiksa hingga babak belur.

Bukan iutu saja Rambo juga ditembak senjata api milik personel Satuan Reserse Tindana Umum (Pidum) Polres Langkat pada Senin (3/2) malam.

Roslila pun melaporkan Kasat Reskrim Polres Langkat, AKP Teuku Fathir Mustafa dan Iptu Bram Candara dan anggotanya ke Bid Propam Polda Sumatera Utara Rabu (8/7/2020) sore. (BACA JUGA: Tak Dilibatkan dalam Pemerintahan, Wabup Dairi Ngamuk di Depan Bupati)

Roslila diketahui saat ini juga sebagai Ketua Himpunan Putra Putri Keluarga TNI Angkatan Darat (HIPAKAD) Langkat ini di dampingi penasihat hukumnya Romi A Tampubolan dan Putra Simatupang meminta Polda Sumut untuk mengusut dan menghukum para pelaku penganiayan dan penembakan terhadap Rambo yang belum tentu bersalah karena dituduh 3 kali melakukan pencurian dengan kekerasan (curas).



"Saya tak terima anak saya dianiaya hingga seluruh tubuhnya babak belur dan ditembak pada bagian kaki kanannya," ungkap ibu korban, Roslila kepada wartawan di halaman Bid Propam Polda Sumut, sembari memperlihatkan bukti laporan dengan
Nomor: STPL/43/VII/2020/Propam Polda Sumut.

Dikatakannya, anaknya sebelum ditembak dipukuli oleh beberapa orang oknum polisi dan Kanit Pidum Bram Chandra dengan menggunakan besi dan kayu. (BACA JUGA: Minta Paksa 30% Dana Desa Jadi Motif Kerusuhan di Madina)



Menurut Roslila, saat anaknya dijemput, Sabtu (1/2/2020) malam dalam keadaan sehat.
Esoknya, Minggu (2/2/2020) sore, kata Roslila, anaknya mengalami kekerasan fisik dari oknum polisi, dan dipaksa untuk mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya.

Tak hanya itu, sekira jam 5 sore, dalam keadaan mata ditutup dan tangan diborgol, Satria ibawa keluar dari Mapolres Langkat dengan mobil.

Saat di perjalanan terus mendapatkan kekerasan fisik oleh oknum polisi sembari dipaksa untuk mengakui tuduhan yang diarahkan padanya.

Berselang satu jam, Rambo dibawa kembali ke Mapolres. "Setelah maghrib, Satria dibawa keluar lagi oleh Kanit Pidum beserta anggotanya dan lalu disuruh menunjukkan
barang bukti, sembari terus dipukuli.

Hingga sekira jam 2 malam, Rambo dikeluarkan dari dalam mobil dengan mata tertutup dan tangan diborgol, terus kaki kanan ditembak," ungkapnya. (BACA JUGA: Lapor Pak Wali ! Jalan Ileng Medan Marelan Masih Kupak-Kapik dan Berlubang)

Mirisnya lagi kalau oknum polisi itu mengancam teman Rambo bernama Billi yang juga diproses agar tidak memberitahukan peristiwa yang mereka alami pada siapapun.

"Kalau keluarga si Rambo dan siapapun bertanya, bilang saja kalau Rambo ditembak karena melawan petugas," beber Roslila menirukan ucapan Billi saat diperitahkan oknum polisi yang tak dikenalnya.

Menurut Roslila perkara yang sedang di jalani anaknya terkesan sangat dipaksakan. Dia berharap, agar hukum bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya.

"Kalau oknum polisi nangkap penjahat dalam keadaan sehat, itu sebuah prestasi. Tapi, kalau menangkap orang tak bersalah dalam keadaan sehat lalu dianiaya penuh luka dan ditembak pula itu perlu dievaluasi. Apalagi yang ditangkap ini belum tentu bersalah," ucapnya. (BACA JUGA: Kapal China Simpan Jenazah Seorang WNI di dalam Frezer)

Roslila tidak terima atas kekerasan fisik yang dialami anaknya yang saat ini menderita

"Apa memang seperti itu proses penyidikan. Saya gak terima, anak saya sudah cacat. Saya minta agar semua oknum yang terlibat agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,"pungkasnya.
(vit)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak