Tanggulangi Radikalisme dan Terorisme, BNPT Resmikan WARUNG NKRI di Surabaya
Minggu, 30 Oktober 2022 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
"Karena ini menimbulkan ketakutan yang meluas dan itu mengganggu pembangunan negara untuk menjadi negara maju, intinya itu. Terorisme itu yang paling mengganggu perencanaan kemajuan sebuah negara," tegasnya.
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim Arief Rahman memaparkan, penyebaran paham intoleransi, radikalisme dan terorisme kini semakin mudah dan masif dengan penggunaan media sosial yang menjadi medium penyebaran informasi tak terverifikasi. Apalagi di Indonesia saat ini pengguna aktif sosial media seperti Whatsapp, Twitter, Facebook, Youtube, Instagram dan TikTok mencapai 191 juta.
"Bangsa kita selama ini penuh dengan keramahan, adab sopan-santun seperti yang diajarkan para orang tua. Local wisdom kita seperti itu. Tapi tidak kelihatan sama sekali sekarang ini di medsos kita," ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut bisa jadi pupuk untuk menumbuhkan ekstrimisme dan radikalisme, jika terus dibiarkan. Oleh sebab itu, Arief yang juga Ketua Komite Komunikasi Digital Jatim ini berharap masyarakat lebih bijaksana dalam bersosial media dan mencerna serta menyebarkan informasi. "Apalagi informasi yang belum jelas kebenarannya dan cenderung menyesatkan serta memecah belah kesatuan bangsa kita,“ kata Arief Rahman.
"Jadi kalau publik lebih bijak dalam menerima informasi, ngga ada itu intoleransi dan perpecahan meskipun kita berbeda," pungkasnya.
Ketua PW GP Anshor Jawa Timur Syafiq Syauqi menyoroti pentingnya perimbangan narasi keagamaan yang lebih moderat. Menurut pria yang pernah kuliah di Damaskus Suriah itu, tokoh muda dan ulama-ulama dengan pandangan dan pemikiran moderat perlu terus dimunculkan dan diberi ruang serta saluran untuk menyapa publik
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim Arief Rahman memaparkan, penyebaran paham intoleransi, radikalisme dan terorisme kini semakin mudah dan masif dengan penggunaan media sosial yang menjadi medium penyebaran informasi tak terverifikasi. Apalagi di Indonesia saat ini pengguna aktif sosial media seperti Whatsapp, Twitter, Facebook, Youtube, Instagram dan TikTok mencapai 191 juta.
"Bangsa kita selama ini penuh dengan keramahan, adab sopan-santun seperti yang diajarkan para orang tua. Local wisdom kita seperti itu. Tapi tidak kelihatan sama sekali sekarang ini di medsos kita," ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut bisa jadi pupuk untuk menumbuhkan ekstrimisme dan radikalisme, jika terus dibiarkan. Oleh sebab itu, Arief yang juga Ketua Komite Komunikasi Digital Jatim ini berharap masyarakat lebih bijaksana dalam bersosial media dan mencerna serta menyebarkan informasi. "Apalagi informasi yang belum jelas kebenarannya dan cenderung menyesatkan serta memecah belah kesatuan bangsa kita,“ kata Arief Rahman.
"Jadi kalau publik lebih bijak dalam menerima informasi, ngga ada itu intoleransi dan perpecahan meskipun kita berbeda," pungkasnya.
Ketua PW GP Anshor Jawa Timur Syafiq Syauqi menyoroti pentingnya perimbangan narasi keagamaan yang lebih moderat. Menurut pria yang pernah kuliah di Damaskus Suriah itu, tokoh muda dan ulama-ulama dengan pandangan dan pemikiran moderat perlu terus dimunculkan dan diberi ruang serta saluran untuk menyapa publik
(msd)
Lihat Juga :