Tanggulangi Radikalisme dan Terorisme, BNPT Resmikan WARUNG NKRI di Surabaya
Minggu, 30 Oktober 2022 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
"Makanya kita harus membangun sistem imunitas kita. Program Warung NKRI ini membangun sistem imunitas bangsa, menghadapi pemikiran intoleran, menghadapi yang setuju dengan paham-paham ideologi terorisme," tambahnya.
Sementara itu, Emil Elistianto Dardak menambahkan, ada beberapa hal ciri seseorang bersikap intoleran setelah terpapar paham radikal, diantaranya absolutisme (kesombongan intelektual), ekslusivisme (kesombongan sosial), fanatisme (kesombongan emosial), ekstrimisme (berlebihan dalam bersikap), dan agresivisme (berlebihan dalam melakukan tindakan fisik).
"Tidak semua aksi radikal mempunyai basis keagamaan. Tetapi, tidak sedikit radikalisme yang terjadi atas nama agama," terangnya.
Untuk mengantisipasi pergerakan teroris tumbuh di wilayah Jatim, suami Arumi Bachsin ini menjelaskan bahwa di Jawa Timur sudah ada aturan untuk mempersempit pergerakan teroris.
"Kita punya Pergub tahun 2012 nomor 55 tentang pembinaan agama dan pengawasan aliran sesat, penerbitan Pergub yang melarang keberadaan ISIS di Jatim, Perda Jatim nomor 8 tahun 2018 dan Keputusan Gubernur Jatim tentang larangan aktivitas Jamaah Ahmadiyah di Jatim," tegasnya.
Mendengar pemaparan Wagub Emil, Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengaku lega setelah dipertegas Jatim memiliki regulasi yang mempersempit pergerakan teroris, yang dapat membuat semua masyarakat takut.
"Kita tenang karena programnya sudah bagus dan tertata. Maka, bagi orang seperti saya kenapa terorisme itu tidak boleh terjadi? Karena itulah ancaman paling tinggi yang menakutkan banyak orang. Jadi unsur menakutkan banyak orang ini yang harus kita hilangkan," tuturnya.
Menurutnya, teroris dapat menghambat kemajuan sebuah negara karena ketakutan yang ditimbulkan itu meluas. Oleh sebab itu, pria yang akrab disapa Abah Dis ini menegaskan, negara harus totalitas dalam melawan terorisme.
Sementara itu, Emil Elistianto Dardak menambahkan, ada beberapa hal ciri seseorang bersikap intoleran setelah terpapar paham radikal, diantaranya absolutisme (kesombongan intelektual), ekslusivisme (kesombongan sosial), fanatisme (kesombongan emosial), ekstrimisme (berlebihan dalam bersikap), dan agresivisme (berlebihan dalam melakukan tindakan fisik).
"Tidak semua aksi radikal mempunyai basis keagamaan. Tetapi, tidak sedikit radikalisme yang terjadi atas nama agama," terangnya.
Untuk mengantisipasi pergerakan teroris tumbuh di wilayah Jatim, suami Arumi Bachsin ini menjelaskan bahwa di Jawa Timur sudah ada aturan untuk mempersempit pergerakan teroris.
"Kita punya Pergub tahun 2012 nomor 55 tentang pembinaan agama dan pengawasan aliran sesat, penerbitan Pergub yang melarang keberadaan ISIS di Jatim, Perda Jatim nomor 8 tahun 2018 dan Keputusan Gubernur Jatim tentang larangan aktivitas Jamaah Ahmadiyah di Jatim," tegasnya.
Mendengar pemaparan Wagub Emil, Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengaku lega setelah dipertegas Jatim memiliki regulasi yang mempersempit pergerakan teroris, yang dapat membuat semua masyarakat takut.
"Kita tenang karena programnya sudah bagus dan tertata. Maka, bagi orang seperti saya kenapa terorisme itu tidak boleh terjadi? Karena itulah ancaman paling tinggi yang menakutkan banyak orang. Jadi unsur menakutkan banyak orang ini yang harus kita hilangkan," tuturnya.
Menurutnya, teroris dapat menghambat kemajuan sebuah negara karena ketakutan yang ditimbulkan itu meluas. Oleh sebab itu, pria yang akrab disapa Abah Dis ini menegaskan, negara harus totalitas dalam melawan terorisme.
Lihat Juga :