Terdampak Pandemi, Karyawan Hotel Bintang Lima Jadi Tukang Cukur Keliling
Senin, 06 Juli 2020 - 11:52 WIB
loading...
A
A
A
Ia bercerita, menjadi tukang cukur keliling bukan sesuatu yang sulit. Kemampuan mencukur ternyata sudah sejak lama ia tekuni, bahkan sempat ikut kursus dan mendapatkan sertifikat. Namun saat ada PSSB, Suyadi sempat tidak bisa keliling lantaran banyak jalanan kampung di portal.
Masyarakat pun dihantui kekawatiran menggunakan jasa tukang cukur. "Waktu itu saya sempat berhenti keliling beberapa minggu," ujarnya.
(Baca juga: Pandemi COVID-19, Ini New Corporate Culture Menurut FEB Unisma )
Warga Kutisari Surabaya inipun tidak menyerah. Ia terus berpikir supaya tetap bisa berkeliling ditengah pembatasan. Bukan hanya keliling, tapi Suyadi ingin dirinya dan pelanggannya tetap aman dari penularan virus corona saat menggunakan jasanya. "Akhirnya saya memesan Hazmat ini ke teman saya, harganya waktu itu Rp200 ribu," ucapnya.
Berkeliling pakai alat pelindung diri (APD) rupanya cukup menyita perhatian. Apalagi Suyadi memasang dua tulisan besar "Potong Rambut 10 K" di depan dan belakang sepeda motornya. Wargapun menyebutnya sebagai potong rambut ala Corona.
Masyarakat pun dihantui kekawatiran menggunakan jasa tukang cukur. "Waktu itu saya sempat berhenti keliling beberapa minggu," ujarnya.
(Baca juga: Pandemi COVID-19, Ini New Corporate Culture Menurut FEB Unisma )
Warga Kutisari Surabaya inipun tidak menyerah. Ia terus berpikir supaya tetap bisa berkeliling ditengah pembatasan. Bukan hanya keliling, tapi Suyadi ingin dirinya dan pelanggannya tetap aman dari penularan virus corona saat menggunakan jasanya. "Akhirnya saya memesan Hazmat ini ke teman saya, harganya waktu itu Rp200 ribu," ucapnya.
Berkeliling pakai alat pelindung diri (APD) rupanya cukup menyita perhatian. Apalagi Suyadi memasang dua tulisan besar "Potong Rambut 10 K" di depan dan belakang sepeda motornya. Wargapun menyebutnya sebagai potong rambut ala Corona.
Lihat Juga :