Cerita 200 Ribu Warga Malang Sesaki Rapat Akbar PKI saat Pemilu 1955
Kamis, 29 September 2022 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu suguhan karnaval dan pertunjukan seni membuat warga di Malang juga turut tertarik untuk mendukungnya. Selebaran-selebaran dengan logo PKI juga menjadi propaganda PKI di setiap daerah. Kelemahan masyarakat Indonesia akar rumput, yang belum bisa membaca huruf latin dipahami betul oleh PKI.
"Di setiap acara ada hiburan-hiburan, karnaval-karnaval agar menarik orang mencoblos partai ini. Kemudian mereka juga sangat aktif dalam menyebarkan selebaran-selebaran yang di setiap selebaran, selalu menonjolkan logo partai yang lebih besar daripada narasinya termasuk membuat karnaval-karnaval," paparnya.
"Setiap karnaval PKI yang ditonjolkan adalah simbol-simbol palu arit, karena masyarakat kita umumnya masih buta huruf latin, jadi orang yang tahu logonya ini familiar dilihat mata ya pasti akan dicoblos," tambahnya.
Baca juga: Kepri Menjaga Asa Pulihkan Pariwisata Usai Badai Pandemi Covid-19
Sementara disebutnya, untuk kalangan menengah ke atas, PKI menawarkan riset terhadap kondisi sosial masyarakat kala itu. Persoalan mulai dari kesenjangan gaji buruh pria dan wanita, kesenjangan gaji guru dan buruh, dan persoalan sosial ekonomi menjadi tajuk PKI menggalang dukungan di Malang.
"Hasil riset tersebut kemudian dipublikasikan di media, lalu mereka menjanjikan akan memberikan solusi saat partai memimpin kendali pemerintahan atau melalui parlemen nanti," ucap Faishal kembali.
Hasilnya cukup besar, bahkan perolehan suara PKI disebutkan naik berkali-kali lipat di Pemilu DPRD pada tahun 1957. "Suara PKI di Malang dan di Jawa Timur itu progresnya naik dari Pemilu DPR bulan September kemudian naik di Pemilu konstituante naik berkali lipat juga di pemilihan DPRD tahun 1957," tandasnya.
"Di setiap acara ada hiburan-hiburan, karnaval-karnaval agar menarik orang mencoblos partai ini. Kemudian mereka juga sangat aktif dalam menyebarkan selebaran-selebaran yang di setiap selebaran, selalu menonjolkan logo partai yang lebih besar daripada narasinya termasuk membuat karnaval-karnaval," paparnya.
"Setiap karnaval PKI yang ditonjolkan adalah simbol-simbol palu arit, karena masyarakat kita umumnya masih buta huruf latin, jadi orang yang tahu logonya ini familiar dilihat mata ya pasti akan dicoblos," tambahnya.
Baca juga: Kepri Menjaga Asa Pulihkan Pariwisata Usai Badai Pandemi Covid-19
Sementara disebutnya, untuk kalangan menengah ke atas, PKI menawarkan riset terhadap kondisi sosial masyarakat kala itu. Persoalan mulai dari kesenjangan gaji buruh pria dan wanita, kesenjangan gaji guru dan buruh, dan persoalan sosial ekonomi menjadi tajuk PKI menggalang dukungan di Malang.
"Hasil riset tersebut kemudian dipublikasikan di media, lalu mereka menjanjikan akan memberikan solusi saat partai memimpin kendali pemerintahan atau melalui parlemen nanti," ucap Faishal kembali.
Hasilnya cukup besar, bahkan perolehan suara PKI disebutkan naik berkali-kali lipat di Pemilu DPRD pada tahun 1957. "Suara PKI di Malang dan di Jawa Timur itu progresnya naik dari Pemilu DPR bulan September kemudian naik di Pemilu konstituante naik berkali lipat juga di pemilihan DPRD tahun 1957," tandasnya.
(eyt)
Lihat Juga :