Negarakertagama, Kitab yang Jadi Saksi Kejayaan Majapahit
Selasa, 30 Agustus 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Pada pupuh VIII-XII, Prapanca mendeskripsikan keindahan istana Majapahit, termasuk para punggawa dan pegawai istana. Lalu disusul pupuh XIII - XIV tentang wilayah kekuasaan Majapahit, lengkap dengan nama nama-nama daerah dan pulau yang tunduk kepada Majapahit. Baca juga: Pesta Pernikahan Raden Wijaya dan Gayatri Besar-besaran, Undang Seluruh Rakyat Majapahit
Tidak luput dari perhatiannya soal hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan negara-negara asing. Itu dituangkan Prapanca dalam pupuh XV. Beberapa negara sahabat disebutkan, misalnya Singanagari, Kamboja, Siam, Dharmanagara, dan Campa.
Prapanca juga memuji kecakapan Hayam Wuruk saat memimpin kerajaan. Pada pupuh XVII-LX, ia menyampaikan bahwa raja sering blusukan untuk melihat kondisi masyarakatnya. Itu dilakuka raja pada tahun 1359 di beberapa wilayah di Jawa Timur.
Perjalanan raja tahun 1361 ke Desa Simping, memperbaiki candi makam ditulis pada pupuh LXI-LXII. Raja datang ke sana karena candi makam tersebut rusak. Kematian nenek Hayam Wuruk dan proses selamatannya digambarkan oleh Mpu Prapanca di Pupuh LXIII-LXVII.
Dia menulis bahwa saat nenek Gayatri wafat, digelar pesta secara besar-besaran pada 1362. Upacaranya selamatan dilakukan Hayam Wuruk.
Pada pupuh LXVIII-LXIX, Prapanca mengalihkan perhatian ke kerajaan Mataram. Ia mengisahkan bagaimana Airlangga raja dari dinasti Kerajaan Mataram Kuno membagi dua wilayah untuk dua anaknya.
Ia mengisahkan bahwa kerajaan itu dibagi oleh Raja Airlangga menjadi Janggala dan Panjalu, dengan cara menuangkan air kendi dari udara. Sampai di atas pohon di Desa Palungan, Mpu Baradha terhenti karena jubahnya terkait pada puncak pohon asam dan kendinya jatuh di desa itu.
Tidak luput dari perhatiannya soal hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan negara-negara asing. Itu dituangkan Prapanca dalam pupuh XV. Beberapa negara sahabat disebutkan, misalnya Singanagari, Kamboja, Siam, Dharmanagara, dan Campa.
Prapanca juga memuji kecakapan Hayam Wuruk saat memimpin kerajaan. Pada pupuh XVII-LX, ia menyampaikan bahwa raja sering blusukan untuk melihat kondisi masyarakatnya. Itu dilakuka raja pada tahun 1359 di beberapa wilayah di Jawa Timur.
Perjalanan raja tahun 1361 ke Desa Simping, memperbaiki candi makam ditulis pada pupuh LXI-LXII. Raja datang ke sana karena candi makam tersebut rusak. Kematian nenek Hayam Wuruk dan proses selamatannya digambarkan oleh Mpu Prapanca di Pupuh LXIII-LXVII.
Dia menulis bahwa saat nenek Gayatri wafat, digelar pesta secara besar-besaran pada 1362. Upacaranya selamatan dilakukan Hayam Wuruk.
Pada pupuh LXVIII-LXIX, Prapanca mengalihkan perhatian ke kerajaan Mataram. Ia mengisahkan bagaimana Airlangga raja dari dinasti Kerajaan Mataram Kuno membagi dua wilayah untuk dua anaknya.
Ia mengisahkan bahwa kerajaan itu dibagi oleh Raja Airlangga menjadi Janggala dan Panjalu, dengan cara menuangkan air kendi dari udara. Sampai di atas pohon di Desa Palungan, Mpu Baradha terhenti karena jubahnya terkait pada puncak pohon asam dan kendinya jatuh di desa itu.
Lihat Juga :