alexametrics

Sastra dan Lingkungan Selalu Mengintai di Masa Pandemi

loading...
Sastra dan Lingkungan Selalu Mengintai di Masa Pandemi
Prodi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mengelar webinar bertajuk Lingkungan, Prosa, dan Puisi. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Persoalan lingkungan merupakan wacana yang tidak akan pernah selesai dibahas. Topik tentang eksplorasi dan perubahan kondisi lingkungan kerap menjadi pokok pembicaraan yang konsisten dibahas. Termasuk kondisi dunia sekarang yang sedang mengalami pandemi COVID-19.

(Baca juga: OTG Sumbang Kesembuhan Terbanyak, 2.314 Pasien Sembuh COVID-19)

Semua orang kembali memikirkan kembali bagaimana harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan memang seringkali berdampak pada sektor lain seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan sastra. Sastra sebagai sebuah respons ide kreatif estetik selalu berkaitan erat dengan lingkungan, termasuk di masa pandemi saat ini.



Prodi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengelar webinar bertajuk Lingkungan, Prosa, dan Puisi yang melihat persoalan lingkungan masih menjadi bahan utama dalam kajian dan produk sastra, Selasa (30/6/2020).

Penyair F. Aziz Manna menuturkan, lingkungan selama ini dengan perubahannya, dalam sastra menjadi salah satu tema yang dikerap digarap oleh penulis. Dalam menghadapi perubahan lingkungan tersebut diperlukan pengendapan agar terhindar dari karya sastra yang instan.

(Baca juga: Pengedar Ganja Jaringan Lapas Dibongkar Polda Maluku Utara)

Perubahan kondisi dunia karena COVID-19 direspons oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra, mulai dari penerbitan antologi baik bersama maupun individu, sayembara, maupun diskusi. "Persoalan-persoalan sastra hanya menjadi semacam kenyinyiran saja karena dipaksakan pada persoalan-persoalan yang sedang terjadi seperti COVID-19. Sastra membutuhkan pengendapan," kata Penyair Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tersebut.

Novelis Ramayda Akmal juga menyampaikan, dalam kondisi sedih dan kesulitan saat ini justru menjadi sumber kreativitas. "Menulis adalah kerja soliter, artinya kondisi ini justru menjadi situasi yanng tepat. Namun, tentu saja latihan itu penting," kata kandidat doktor dari Hamburg University tersebut.

Ramayda juga menjelaskan bahwa tema lingkungan dalam karya sastra merupakan tema yang telah lama muncul dalam karya sastra Indonesia. Dalam ranah kritik dan penelitian, lingkungan juga menjadi wacana tidak habis untuk dieksploarasi, misalnya tentang pertentangan antara kebijakan negara dengan kebijakan masyarakat dan hubungan antara rural dan urban yang selalu muncul secara konsisten di sastra Indoensia.

"Karya sastra juga bisa tampil sebagai ramalan-ramalan tentang masa depan. Misalkan tentang wabah Corona ini, Albert Camus pernah menciptakan karya sastra berjudul 'Sampar', yaitu wabah yang menyerang umat manusia," jelas penulis novel Jatisaba itu.

(Baca juga: Curhat Anak Yatim Piatu di Medan Viral, Rumahnya Dirusak Bandar Sabu)

Visiting Scholar di Untag Surabaya, John Charles Ryan menyampikan, karya sastra seringkali merupakan refleksi penulis terhadap kondisi lingkungan yang dihadapinya. Salah satu contoh adalah kebakaran hutan di Australia, hilangnya fungsi lingkungan bagi hewan-hewan, menjadi inspirasi bagi penulis.

"Memahami tradisi penggunaan tanaman atau tumbuh-tumbuhan dalam karya sastra memerlukan kajian teori yang luas, gaya yang bervariasi, dan latihan yang cukup sehingga menemukan kemungkinan penggunaan bahasa baru. Banyak puisi, khususnya sepuluh tahun terakhir, memandang tanaman secara lebih luas, dari sekedar objek yang indah atau benda yang dieksploitasi," jelasnya.
(eyt)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak