Kemesraan Raden Wijaya dan Gayatri di Tepian Sungai Usai Rayakan Ulang Tahun
Selasa, 19 Juli 2022 - 07:15 WIB
loading...
Candi Tikus, merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14. Foto/Dok
A
A
A
Momen kemesraan Raden Wijaya dan Gayatri tersaji usai perayaan ulang tahun ke-19. Gayatri yang merayakan ulang tahunnya lantas didatangi oleh Raden Wijaya yang menggunakan busana kebesarannya. Raden Wijaya berjalan dan berhenti tepat di hadapan Gayatri.
Raden Wijaya membungkuk dengan hormat dan memberikan ucapan selamat dalam bahasa Jawa krama. Ini merupakan tradisi keraton yang berlaku di kalangan bangsawan sederajat.
Earl Drake pada bukunya Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaaan Majapahit menjelaskan Raden Wijaya lantas melakukannya sesuatu yang tak terduga dan menggetarkan hati. Dengan eloknya ia berada di samping Gayatri, memeluknya lembut, mengenduskan telinganya, dan membisikkan kata-kata mesra seraya mengajaknya berjalan bergandengan menyusuri tepian sungai.
Gayatri yang tak percaya hatinya telah dihanyutkan sang pangeran ksatria sekaligus pahlawan negeri, yang usianya 12 tahun lebih tua darinya. Setelah menjauh dari kerumunan, Raden Wijaya mengaku telah jatuh hati semenjak pertemuan - pertemuan rahasia mereka di Daha.
Baca juga: Kisah Nyi Blorong, Cucu Raja yang Diangkat Jadi Panglima Perang oleh Roro Kidul
Namun di dalam benak Raden Wijaya, ia belum cukup dewasa untuk menikah hingga pada malam ketika ia menyaksikan Gayatri mengenakan jubah sang dewi cinta. Menyaksikan rakyatnya bersukacita dan saling bercengkrama tentang keluarga serta rencana-rencana mereka merajut masa depan yang bahagia membuat Raden Wijaya berefleksi tentang keadaan dirinya sendiri.
Ia pun menatap Gayatri dalam-dalam sambil bersuara serak lantaran perasaan yang dipendamnya ketika ia berkata "Malam ini adalah malam penuh wahyu dan ilham. Saat kusaksikan gemulai tubuhmu terbalut keindahan dan cita rasa keagungan, aku tahu engkau sudah ditakdirkan menjadi ratu jiwaku dan kerajaanku".
Raden Wijaya membungkuk dengan hormat dan memberikan ucapan selamat dalam bahasa Jawa krama. Ini merupakan tradisi keraton yang berlaku di kalangan bangsawan sederajat.
Earl Drake pada bukunya Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaaan Majapahit menjelaskan Raden Wijaya lantas melakukannya sesuatu yang tak terduga dan menggetarkan hati. Dengan eloknya ia berada di samping Gayatri, memeluknya lembut, mengenduskan telinganya, dan membisikkan kata-kata mesra seraya mengajaknya berjalan bergandengan menyusuri tepian sungai.
Gayatri yang tak percaya hatinya telah dihanyutkan sang pangeran ksatria sekaligus pahlawan negeri, yang usianya 12 tahun lebih tua darinya. Setelah menjauh dari kerumunan, Raden Wijaya mengaku telah jatuh hati semenjak pertemuan - pertemuan rahasia mereka di Daha.
Baca juga: Kisah Nyi Blorong, Cucu Raja yang Diangkat Jadi Panglima Perang oleh Roro Kidul
Namun di dalam benak Raden Wijaya, ia belum cukup dewasa untuk menikah hingga pada malam ketika ia menyaksikan Gayatri mengenakan jubah sang dewi cinta. Menyaksikan rakyatnya bersukacita dan saling bercengkrama tentang keluarga serta rencana-rencana mereka merajut masa depan yang bahagia membuat Raden Wijaya berefleksi tentang keadaan dirinya sendiri.
Ia pun menatap Gayatri dalam-dalam sambil bersuara serak lantaran perasaan yang dipendamnya ketika ia berkata "Malam ini adalah malam penuh wahyu dan ilham. Saat kusaksikan gemulai tubuhmu terbalut keindahan dan cita rasa keagungan, aku tahu engkau sudah ditakdirkan menjadi ratu jiwaku dan kerajaanku".
Lihat Juga :