Kisah Ki Ageng Suryomentaram, Pangeran yang Rela Lepas Gelar Ningrat dan Penggagas Tentara PETA

Sabtu, 16 Juli 2022 - 05:49 WIB
loading...
A A A
Ki Ageng Suryomentaram juga menolak pengangkatannya sebagai pangeran, dan sekaligus meminta gelar kepangeranannya tidak diumumkan. Pada tahun 1921 saat Sultan Hamengkubuwono VII lengser dan digantikan Sultan Hamengkubuwono VIII, ia ke luar dari keraton dan memilih tinggal di Desa Bringin, dekat Salatiga. Tunjangan hidup yang sempat ditawarkan Belanda, ditolaknya.

Pangeran muda ini memilih hidup sebagai petani, berpakaian layaknya petani, yakni celana pendek dipadu sabuk kulit yang umum dikenakan petani saat itu. Pada tahun 1925 masyarakat di sekitarnya mengenalnya sebagai Ki Ageng Bringin, ahli spirititual yang menjadi rujukan rakyat dalam meminta nasihat dan bantuan.

Kemunculannya pada tahun 1931 di makam ayahnya di Imogiri, menggemparkan para kerabat keraton. Penampilannya yang sama dengan rakyat jelata, termasuk cara bicaranya yang tak lazim, dipandang sebagai hal yang ganjil. Ada yang menganggap Ki Ageng Suryomentaram telah kehilanga akal sehatnya.

Sebelumnya, pada tahun 1921-1922 Ki Ageng Suryomentaram merupakan pemimpin Paguyuban Selasa Kliwon. Sebuah paguyuban yang berjalan di jalur masyarakat kebatinan. Kelompok yang didalamnya terdapat sembilan orang priyayi, yakni diantaranya adalah Ki Hajar Dewantoro merupakan cikal bakal berdirinya Gerakan Taman Siswa.

Paguyuban yang kemudian bubar pada 3 Juli 1922 itu juga berinteraksi dengan organisasi Budi Utomo. Sikap nasionalismenya jelas, yakni memenangkan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1930, Ki Ageng Suryomentaram bersama temannya mendirikan Pakempalan Kawula Ngayogjokarto. Perkumpulan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan itu diketuai Pangeran Suryodiningrat.

Baca juga: Kisah Sunan Ngudung, Panglima Perang Demak yang Gugur saat Memimpin Penyerangan ke Majapahit

Saat Ki Ageng Suryomentaram menyampaikan usulan perlu adanya pelatihan militer pada tahun 1943, Gubernur Militer Jepang untuk Jogjakarta, Kolonel Yamanuchi tidak langsung menyetujui. Yamanuchi belum yakin rakyat Indonesia mampu membentuk kesatuan militer. Berkat bantuan Asano (anggota Dinas Rahasia Jepang) yang menyarankan Ki Ageng Suryomentaram membuat permohonan resmi kepada Kaisar Jepang, usulan itu akhirnya disetujui.

Permohonan resmi atau petisi Ki Ageng Suryomentaram bersama delapan temannya, yang kemudian disebut Manggala Sembilan itu, ditulis di atas kertas dan diberi tanda tangan dengan darah masing-masing. Ki Ageng Suryomentaram kemudian bergabung sebagai tenaga sukarela. Ia meninggalkan rumah beserta sawahnya di Bringin, dan kembali ke Jogjakarta.

"Namun pemerintah militer dengan cepat mengambil alih perekrutan dan pelatihan serdadu yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai PETA," kata Marcel Bonneff yang pernah menjadi dosen bahasa Perancis di UGM (1966-1973).

Berbagai sumber sejarah menyebut, Ki Ageng Suryomentaram terlibat aktif dalam pertempuran melawan kolonial Belanda di dekat Jogjakarta, selama periode 1947-1949. Ki Ageng Suryomentaram wafat pada usia 70 tahun, di mana Presiden Soekarno atau Bung Karno melalui sebuah telegram, secara khusus mengirim ucapan bela sungkawa.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Ribuan Penonton Final...
Ribuan Penonton Final PFL 2026 Ciptakan Peluang Ekonomi bagi Pengusaha Ultra Mikro
POCE JOBFAIR 2026 di...
POCE JOBFAIR 2026 di UPN Veteran Yogya Hadirkan Ribuan Peluang Karier
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Wakil Kepala BPS RI:...
Wakil Kepala BPS RI: Sensus Ekonomi Akan Mampu Ukur Kontribusi Sektor Pendidikan terhadap Ekonomi DIY
Karaton Ngayogyakarta...
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Perkuat Promosi Budaya dan Pariwisata Yogyakarta di Pasar Global
Buntut Kasus Daycare...
Buntut Kasus Daycare di Yogyakarta, DPR Desak Pemda Evaluasi Izin Seluruh Tempat Titip Anak
Rekomendasi
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
Iran dan AS Saling Serang,...
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Superbank Gandeng OVO...
Superbank Gandeng OVO Perluas Akses Pembiayaan Digital Satu Aplikasi
Berita Terkini
Tingginya Antusiasme...
Tingginya Antusiasme Peserta saat Ikuti Perlombaan Antar Madrasah Diniyah yang Digelar MNC Lido dan MNC Peduli
Pengadilan Agama Jaksel...
Pengadilan Agama Jaksel Gandeng Pemkot, Siapkan Isbat Nikah Terpadu bagi Warga
Menyemarakkan Tahun...
Menyemarakkan Tahun Baru Islam, MNC Lido dan MNC Peduli Gelar Lomba Kaligrafi hingga Cerdas Cermat
Dilaporkan ke Kemenhaj...
Dilaporkan ke Kemenhaj Sulsel, JFT Siap Memberikan Keterangan dan Langkah Hukum
Produk Olahan Singkong...
Produk Olahan Singkong Sleman Terus Dikembangkan
Perkuat Konektivitas...
Perkuat Konektivitas dan Kesejahteraan Masyarakat Riau, Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved