24.934 Anak di Garut Alami Stunting, Ini Penyebabnya

Jum'at, 17 Juni 2022 - 20:25 WIB
loading...
24.934 Anak di Garut Alami Stunting, Ini Penyebabnya
Edukasi dan Gerakan Berbagi Pangan Sumber Protein bagi balita stunting di Lapangan Masjid Al Bayan, Kampung Babakan Pajagalan, Sukamenteri, Garut Kota, Garut. Foto/MPI/Fani Ferdiansyah
A A A
GARUT - Puluhan ribu anak dibawah usia lima tahun di Kabupaten Garut, Jawa Barat mengalami stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah, karena hingga saat ini pendataan berbasis aplikasi yang disiapkan Kementerian Kesehatan masih dilakukan.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani mengungkapkan bahwa berdasarkan data sementara hingga Jumat (17/6/2022), jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 24.934 dari total jumlah sasaran mencapai 215.615 anak.

Baca juga: MPASI Berkualitas Dapat Membantu Mencegah Stunting

“Yang sudah kami lakukan pendataan berupa penimbangan dan lainnya berjumlah 143.773 atau sekitar 66,7 persen dari total sasaran,” kata Leli, Jumat (17/6/2022).

Dia menjelaskan bahwa puluhan ribu anak yang mengalami stunting tersebar di 42 kecamatan Kabupaten Garut. Kecamatan Sukaresmi menjadi wilayah yang paling tinggi tingkat persentase stunting. Sementara Kecamatan Limbangan tercatat sebagai wilayah terbanyak secara jumlah anak.

Dia memaparkan, persentase stunting di Kecamatan Sukaresmi mencapai 34,6 persen atau 301 orang anak. Sedangkan di Kecamatan Limbangan, jumlah anak yang mengalami stunting berjumlah 928 anak dengan persentase 30,1 persen.

“Itu data sampai saat ini dengan rincian, balita yang stunting usia 0 hingga 23 bulan berjumlah 6.885 anak. Sedangkan yang dari usia 24 bulan hingga 59 bulan berjumlah 18.049 anak. Jadi total keseluruhan hingga saat ini 24.934 anak yang masuk kategori stunting,” ujarnya.

Baca juga: Diversifikasi Pangan Lokal Solusi Pengentasan Stunting

Leli menambahkan, tingginya angka stunting di Garut, kemungkinan karena pola asuh dari orang tuanya dan kondisi sosial ekonomi keluarga.

“Itu belum final, karena kami masih terus melakukan pendataan sampai tuntas, kemudian setelahnya kita lakukan analisa data, lalu dikunjungi rumah masing-masing untuk diketahui penyebabnya, apakah karena pola asuh, sosial ekonomi, atau memiliki penyakit yang menyertai sehingga menyebabkan gagal tumbuh atau stunting,” ucapnya.



Pemkab Garut sendiri hingga kini gencar melakukan sejumlah upaya untuk menekan angka stunting pada anak.

Selain melakukan pendataan, pemerintah daerah pun berupaya menangani stunting dengan memberikan bantuan makanan bergizi pada anak di sejumlah wilayah Garut.
(shf)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2348 seconds (11.97#12.26)