Kisah Tjong A Fie, Crazy Rich Era Kolonial yang Dermawan dan Menghormati Keberagaman
Senin, 16 Mei 2022 - 06:41 WIB
loading...
A
A
A
Kerjanya serabutan, tugasnya menangani pembukuan toko, melayani para pelanggan, hingga menagih utang. Bahkan, dia juga harus menjalankan tuga-tuga lain di toko tersebut, agar bisnis tetap bisa berjalan.
Baca juga: Kisah Laskar Wanita BKR Beranggotakan Gadis dan Janda yang Penggal Komandan Gurkha
Tjong A Fie dikenal sangat ramah dan mudah bergaul, sehingga temannya sangat banyak. Bukan hanya orang Tionghoa saja, dia juga bersahabat dengan orang Melayu, Arab, India, dan pastinya orang Belanda.
Sebagai perantauan, dia sangat menghormati budaya masyarakat lokal. Salah satunya dibuktikannya dengan belajar berbicara menggunakan bahasa Melayu, yang kala itu sudah menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli.
Kehidupannya sangat bersih. Dia begitu tangguh dan tak tergoyahkan, meskipun godaan candu, judi, mabuk-mabukan, dan pelacuran begitu kuat kala itu. Sifatnya yang begitu baik, membuatnya menjadi teladan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang menonjol.
Kedewasaan dan kebijaksanaannya dalam setiap berpikir serta bertindak, membuat Tjong A Fie sering menjadi juru damai dan penengah ketika terjadi konflik di antara warga Tionghoa dengan etnis lain.
Kala itu, di wilayah perkebunan Belanda, sering terjadi keributan di kalangan buruh. Keributan itu tak jarang memicu kekacauan yang lebih besar. Berkat kecakapannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu menyelesaikan kekacauan-kekacauan itu.
Baca juga: Kisah Moksa Prabu Brawijaya V, Ajak Istri Tercinta Masuk Kobaran Api di Pesisir Selatan Jogjakarta
Setelah kakaknya wafat, Tjong A Fie dipercaya menjadi Kapitan pada tahun 1911. Bahkan, atas rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie akhirnya menjadi anggota gemeenteraad atau dewan kota, dan cultuurraad atau dewan kebudayaan. Tak hanya itu, dia juga menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.
Sebelum merantau ke Hindia Belanda, Tjong A Fie telah memiliki istri bermarga Lie di Changnam,Tiongkok. Sementara, saat sudah merantau ke Deli, dia menikah dengan Nona Chew dari Penang.
Dari pernikahannya dengan Nona Chew, Tjong A Fie dikaruniai tiga anak, yakni Tjong Kong Liong, Tjong Song-Jin, dan Tjong Kwei-Jin. Pada perjalanannya, Nona Chew meninggal dunia, sehingga Tjong A Fie memutuskan untuk menikah yang ketiga kalinya.
Pada pernikahan ketiga, dia menikahi putri seorang mandor perkebunan tembakau di Sungai Mancirim, Lim Sam-Hap. Gadis putri mandor yang tertambat di hati Tjong A Fie tersebut, bernama Lim Koei Yap dari Timbang Langkat, Binjai.
Dari pernikahannya yang ketiga ini, Tjong A Fie memiliki tujuh anak, yakni Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni), dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek).
Baca juga: Dahsyatnya Senjata Biologis Mataram dalam Penaklukan Surabaya Picu Wabah Penyakit dan Kelaparan
Tjong A Fie dikenal sebagai orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan sangat luas di tanah Deli. Hal ini, tak lain berkat kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah, dan Tuanku Raja Muda. Kondisi ini memudahkannya membuka usaha, salah satunya saat Sultan deli memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah, untuk keperluan pembuatan bangsal di perkebunan tembakau miliknya.
Baca juga: Kisah Laskar Wanita BKR Beranggotakan Gadis dan Janda yang Penggal Komandan Gurkha
Tjong A Fie dikenal sangat ramah dan mudah bergaul, sehingga temannya sangat banyak. Bukan hanya orang Tionghoa saja, dia juga bersahabat dengan orang Melayu, Arab, India, dan pastinya orang Belanda.
Sebagai perantauan, dia sangat menghormati budaya masyarakat lokal. Salah satunya dibuktikannya dengan belajar berbicara menggunakan bahasa Melayu, yang kala itu sudah menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli.
Kehidupannya sangat bersih. Dia begitu tangguh dan tak tergoyahkan, meskipun godaan candu, judi, mabuk-mabukan, dan pelacuran begitu kuat kala itu. Sifatnya yang begitu baik, membuatnya menjadi teladan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang menonjol.
Kedewasaan dan kebijaksanaannya dalam setiap berpikir serta bertindak, membuat Tjong A Fie sering menjadi juru damai dan penengah ketika terjadi konflik di antara warga Tionghoa dengan etnis lain.
Kala itu, di wilayah perkebunan Belanda, sering terjadi keributan di kalangan buruh. Keributan itu tak jarang memicu kekacauan yang lebih besar. Berkat kecakapannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu menyelesaikan kekacauan-kekacauan itu.
Baca juga: Kisah Moksa Prabu Brawijaya V, Ajak Istri Tercinta Masuk Kobaran Api di Pesisir Selatan Jogjakarta
Setelah kakaknya wafat, Tjong A Fie dipercaya menjadi Kapitan pada tahun 1911. Bahkan, atas rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie akhirnya menjadi anggota gemeenteraad atau dewan kota, dan cultuurraad atau dewan kebudayaan. Tak hanya itu, dia juga menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.
Sebelum merantau ke Hindia Belanda, Tjong A Fie telah memiliki istri bermarga Lie di Changnam,Tiongkok. Sementara, saat sudah merantau ke Deli, dia menikah dengan Nona Chew dari Penang.
Dari pernikahannya dengan Nona Chew, Tjong A Fie dikaruniai tiga anak, yakni Tjong Kong Liong, Tjong Song-Jin, dan Tjong Kwei-Jin. Pada perjalanannya, Nona Chew meninggal dunia, sehingga Tjong A Fie memutuskan untuk menikah yang ketiga kalinya.
Pada pernikahan ketiga, dia menikahi putri seorang mandor perkebunan tembakau di Sungai Mancirim, Lim Sam-Hap. Gadis putri mandor yang tertambat di hati Tjong A Fie tersebut, bernama Lim Koei Yap dari Timbang Langkat, Binjai.
Dari pernikahannya yang ketiga ini, Tjong A Fie memiliki tujuh anak, yakni Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni), dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek).
Baca juga: Dahsyatnya Senjata Biologis Mataram dalam Penaklukan Surabaya Picu Wabah Penyakit dan Kelaparan
Tjong A Fie dikenal sebagai orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan sangat luas di tanah Deli. Hal ini, tak lain berkat kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah, dan Tuanku Raja Muda. Kondisi ini memudahkannya membuka usaha, salah satunya saat Sultan deli memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah, untuk keperluan pembuatan bangsal di perkebunan tembakau miliknya.
Lihat Juga :