Dahsyatnya Senjata Biologis Mataram dalam Penaklukan Surabaya Picu Wabah Penyakit dan Kelaparan
Sabtu, 18 Desember 2021 - 05:29 WIB
loading...
Penyerangan pasukan Sultan Agung ke Kadipaten Surabaya, pada tahun 1625 mengakibatkan kerusakan hebat, serta wabah penyakit dan kelaparan. Foto/Wikipedia/Basoeki Bawono
A
A
A
Surabaya hancur lebur. Wabah penyakit, kelaparan, dan kematian menjangkiti seluruh warga kadipaten di timur Jawa tersebut. Kemegahan sebagai pelabuhan besar, sirna begitu saja usai ditaklukkan pasukan Sultan Agung dari Mataram.
Baca juga: Kisah Nyimas Utari, Telik Sandi Cantik dari Mataram yang Memenggal Kepala Gubernur Jenderal JP Coen
Peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1625 tersebut, diulas Akhmad Saiful Ali, dalam hasil penelitiannya untuk tesis di IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang berjudul "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke 17: Tinjauan Historis Tentang Penaklukan Surabaya oleh Mataram abad ke 17".
Dalam tesisnya tersebut, Akhmad Saiful Ali menyebutkan, Surabaya tak lagi menjadi pelabuhan penting dan kehilangan dominasinya di timur Jawa, usai dihancurkan oleh Mataram. Bahkan, penghancuran Surabaya, dan kota-kota pesisir utara itu membuat kemunduran perdagangan di Jawa, dan memunculkan Kesultanan Makassar, sebagai kekuatan baru pusat perdagangan rempah-rempah di Nusantara.
Baca juga: Kisah Pangeran Hanyakrawati dan Nafsu Kerajaan Mataram Kuasai Surabaya
Kadipaten Surabaya, yang pusatnya menjadi Kota Surabaya saat ini, dahulunya merupakan kerajaan besar usai terpecahnya Kesultanan Demak menjadi tiga bagian pada abad ke-16. Selain Kadipaten Surabaya, pada abad 17 terdapat dua kekuatan besar, yakni Kesultanan Banten di Jawa Barat, dan Kesultanan Mataram di Jawa Tengah.
Sebagai kerajaan besar yang berpusat di tengah Jawa, Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung, mulai mengkonsolidasi kekuatannya dengan menyatukan sejumlah kerajaan, seperti Pajang, Demak, Madiun, dan Kediri.
Setelah kegagalannya melakukan ekspedisi penakhlukan Banten, pada sekitar tahun 1957. Sultan Agung berubah haluan dengan melakukan pengiriman ekspedisi penakhlukan wilayah timur Jawa yang kala itu berada di bawah pengaruh Kadipaten Surabaya.
Kala itu, Kadipaten Surabaya, sangatlah kaya dan kuat. Pelabuhannya menjadi jalur perdagangan penting antara Malaka dengan kepulauan Nusantara, penghasil rempah-rempah. Kadipaten Surabaya, bersekutu dengan Kadipaten Pasuruan. Bahkan, Kadipaten Surabaya juga menguasai wilayah Gresik, Sedayu, Sukadana, hingga Banjarmasin.
Kekuatan Kadipaten Surabaya juga terkonsolidasi dengan Tuban, Malang, Kediri, Lasem, serta Madura. Konsolidasi kekuatan di timur Jawa ini terjadi sebagai respon kekuatan Mataram yang kian ekspansif.
Baca juga: Siasat Cerdik Panembahan Senopati Gunakan Perempuan Cantik Taklukkan Madiun
Melihat begitu besarnya potensi kekuatan di timur Jawa yang dikonsolidasi oleh Kadipaten Surabaya, Sultan Agung mulai melancarkan kampanye militer Mataram ke wilayah timur Jawa pada awal abad ke-17, tepatnya pada tahun 1914 dengan menyerang sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Upaya ini tak lepas dari ambisi Sultan Agung menyatukan Jawa di bawah Mataram.
Tak tinggal diam, Kadipaten Surabaya bersama para sekutunya melakukan serangan balik untuk menghantam kekuatan Mataram. Sayangnya, serangan itu dapat dikandaskan Mataram pada tahun 1616 di dekat Pajang.
Baca juga: Kisah Nyimas Utari, Telik Sandi Cantik dari Mataram yang Memenggal Kepala Gubernur Jenderal JP Coen
Peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1625 tersebut, diulas Akhmad Saiful Ali, dalam hasil penelitiannya untuk tesis di IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang berjudul "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke 17: Tinjauan Historis Tentang Penaklukan Surabaya oleh Mataram abad ke 17".
Dalam tesisnya tersebut, Akhmad Saiful Ali menyebutkan, Surabaya tak lagi menjadi pelabuhan penting dan kehilangan dominasinya di timur Jawa, usai dihancurkan oleh Mataram. Bahkan, penghancuran Surabaya, dan kota-kota pesisir utara itu membuat kemunduran perdagangan di Jawa, dan memunculkan Kesultanan Makassar, sebagai kekuatan baru pusat perdagangan rempah-rempah di Nusantara.
Baca juga: Kisah Pangeran Hanyakrawati dan Nafsu Kerajaan Mataram Kuasai Surabaya
Kadipaten Surabaya, yang pusatnya menjadi Kota Surabaya saat ini, dahulunya merupakan kerajaan besar usai terpecahnya Kesultanan Demak menjadi tiga bagian pada abad ke-16. Selain Kadipaten Surabaya, pada abad 17 terdapat dua kekuatan besar, yakni Kesultanan Banten di Jawa Barat, dan Kesultanan Mataram di Jawa Tengah.
Sebagai kerajaan besar yang berpusat di tengah Jawa, Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung, mulai mengkonsolidasi kekuatannya dengan menyatukan sejumlah kerajaan, seperti Pajang, Demak, Madiun, dan Kediri.
Setelah kegagalannya melakukan ekspedisi penakhlukan Banten, pada sekitar tahun 1957. Sultan Agung berubah haluan dengan melakukan pengiriman ekspedisi penakhlukan wilayah timur Jawa yang kala itu berada di bawah pengaruh Kadipaten Surabaya.
Kala itu, Kadipaten Surabaya, sangatlah kaya dan kuat. Pelabuhannya menjadi jalur perdagangan penting antara Malaka dengan kepulauan Nusantara, penghasil rempah-rempah. Kadipaten Surabaya, bersekutu dengan Kadipaten Pasuruan. Bahkan, Kadipaten Surabaya juga menguasai wilayah Gresik, Sedayu, Sukadana, hingga Banjarmasin.
Kekuatan Kadipaten Surabaya juga terkonsolidasi dengan Tuban, Malang, Kediri, Lasem, serta Madura. Konsolidasi kekuatan di timur Jawa ini terjadi sebagai respon kekuatan Mataram yang kian ekspansif.
Baca juga: Siasat Cerdik Panembahan Senopati Gunakan Perempuan Cantik Taklukkan Madiun
Melihat begitu besarnya potensi kekuatan di timur Jawa yang dikonsolidasi oleh Kadipaten Surabaya, Sultan Agung mulai melancarkan kampanye militer Mataram ke wilayah timur Jawa pada awal abad ke-17, tepatnya pada tahun 1914 dengan menyerang sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Upaya ini tak lepas dari ambisi Sultan Agung menyatukan Jawa di bawah Mataram.
Tak tinggal diam, Kadipaten Surabaya bersama para sekutunya melakukan serangan balik untuk menghantam kekuatan Mataram. Sayangnya, serangan itu dapat dikandaskan Mataram pada tahun 1616 di dekat Pajang.
Lihat Juga :