Melihat Kaum Difabel Kediri Menjalani Aktivitas Ekonomi New Normal
Kamis, 18 Juni 2020 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
"Untuk seorang difabel, bekerja di tempat lain tentu tidak mudah," kata Yuyun mengenang masa sulit itu. Karena tak punya pilihan lain, Yuyun memutuskan berdiri sendiri. Saat itu tahun 2007. Yuyun berproduksi sendiri. Menjahit sendiri. Membuat pola pakaian sendiri, termasuk membuat label nama usaha konveksinya sendiri, yakni Abidah Collection.
Selain berproduksi dengan berbasis pesanan karena usaha retail tidak mudah, Yuyun juga membuka kursus menjahit untuk umum. "Pendirian kursus biar para difabel bisa belajar. Karena tidak semua tempat kursus mau menerima difabel," terang Yuyun. Dari pembelajaran menjahit yang Yuyun mentori sendiri, banyak difabel yang memiliki skill menjahit.
Ada yang membuat usaha sendiri. Berdiri sendiri. Kemudian tidak sedikit yang tetap bergabung dengan usaha Yuyun. "Anggota kami juga beberapa kali diundang Pemkot Kediri untuk pelatihan UMKM. Dan itu sangat membantu," terang Yuyun yang juga Ketua Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). (baca juga: Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya )
Kemudian, di tengah perjalanan usaha yang sudah berumur 20 tahun itu, bencana pandemi Covid-19 datang. Pesanan busana yang menjadi fokus utama usaha Abidah Collection terus berkurang, dan pada akhirnya berhenti. Seperti pemilik usaha lain, Yuyun juga sempat kalut. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Dari protokol kesehatan Covid-19 hingga berlanjut kehidupan new normal, ia mampu membaca peluang. Yuyun langsung banting stir menjadi produsen masker. Tidak hanya penutup wajah pada umumnya. Ia juga memproduksi masker transparan, yang selain unik, stylis, juga membawa semangat milenial.
Selain berproduksi dengan berbasis pesanan karena usaha retail tidak mudah, Yuyun juga membuka kursus menjahit untuk umum. "Pendirian kursus biar para difabel bisa belajar. Karena tidak semua tempat kursus mau menerima difabel," terang Yuyun. Dari pembelajaran menjahit yang Yuyun mentori sendiri, banyak difabel yang memiliki skill menjahit.
Ada yang membuat usaha sendiri. Berdiri sendiri. Kemudian tidak sedikit yang tetap bergabung dengan usaha Yuyun. "Anggota kami juga beberapa kali diundang Pemkot Kediri untuk pelatihan UMKM. Dan itu sangat membantu," terang Yuyun yang juga Ketua Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). (baca juga: Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya )
Kemudian, di tengah perjalanan usaha yang sudah berumur 20 tahun itu, bencana pandemi Covid-19 datang. Pesanan busana yang menjadi fokus utama usaha Abidah Collection terus berkurang, dan pada akhirnya berhenti. Seperti pemilik usaha lain, Yuyun juga sempat kalut. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Dari protokol kesehatan Covid-19 hingga berlanjut kehidupan new normal, ia mampu membaca peluang. Yuyun langsung banting stir menjadi produsen masker. Tidak hanya penutup wajah pada umumnya. Ia juga memproduksi masker transparan, yang selain unik, stylis, juga membawa semangat milenial.
Lihat Juga :